Chi trova un’amico, trova un tesoro

adalah peribahasa Italia yang berarti “The one who finds a friend, finds a treasure”

Chi trova un’amico trova un tesoro pertama kali saya dengar dari lagu “Surrender” yang dibawakan oleh sebuah band folk-rock Indonesia: Float.

Siapa yang menemukan teman, dia menemukan harta karun…

Harta karun dalam hidup saya adalah ketika saya bisa travelling dengan aman ke tempat-tempat yang jauh.

Ketika masih berstatus mahasiswa, untuk pergi naik gunung ke daerah manapun di Indonesia, bagi saya persinggahan rasanya bukan jadi suatu masalah yang serius. Selama masih ada UKM pecinta alam dalam universitas di kota tersebut, hidup dipastikan akan tetap terjamin. Salah satu butir kode etik pecinta alam menjelaskan bahwa sebagai sesama manusia yang mencintai alam, sudah seharusnya kita saling menjaga. Sesama pecinta alam adalah saudara. Chi trova un’amico, trova un tesoro…

Satu bulan yang lalu, seorang kawan lama dari organisasi pecinta alam kampus tetangga menghubungi saya. Sebut saja namanya Ticung. Entah bagaimana awalnya, ia tiba-tiba meminta saya untuk mengajar berenang dan skin diving. Karena sedang dalam masa gencar-gencarnya mengajak orang untuk belajar diving, maka dengan senang hati saya langsung mulai melatih di hari minggunya. Di minggu kedua Ticung sudah lancar berenang. Minggu ketiga kami langsung belajar skin diving. Akhir minggu ini adalah minggu keempat. Kami tidak latihan di kolam lagi, karena besok pagi kami berangkat ke Raja Ampat.

HAH…??!! Raja Ampat!!??!!

Chi trova un’amico, trova un tesoro

Mimpi pun saya belum pernah ke Raja Ampat. Kali ini dari seorang teman saya mendapatkan tiket gratis Jakarta – Sorong – Jakarta untuk 8 – 12 Maret 2013. Long weekend.

Rabu sore saya langsung mengambil sertifikat diving sementara ke kampus. Ibarat orang yang baru masuk Islam langsung naik haji, saya yang baru mendapat sertifikat A1 akan langsung menyelam di Raja Ampat. Penyelaman pertama setelah lulus sertifikasi adalah lautan dimana 75% kekayaan spesies koral dunia ada di sana. Raja Ampat yang menjadi impian semua penyelam dunia, sebentar lagi akan ada di depan mata saya, si penyelam yang baru lulus kemarin sore. Raja Ampat yang bahkan mentor-mentor selam saya dan Marischka Prudence pun belum pernah ke sana…

Dan tebak, berapa banyak uang yang ada di kantong saya sekarang? Satu koma tujuh juta. Tidak kurang tidak lebih.

Then how will I manage to live and to dive with that-far-from-enough of money?

Who knows? Let’s just hope that I can  find another “treasure” there 🙂

Advertisements
Posted in Uncategorized | Tagged , , | Leave a comment

Open Water Scuba Diving Certification: Tahapan dalam kegiatan sertifikasi selam (PAP dan LKK).

Setelah memahami pentingnya sertifikasi selam, kali ini saya akan memberikan gambaran umum mengenai tahapan yang dilalui dalam kegiatan sertifikasi selam untuk level pemula atau open water (A1). Perlu dicatat bahwa gambaran yang saya berikan ini adalah berdasarkan pengalaman open water diving course yang saya jalani bersama salah satu organisasi selam di Institut Pertanian Bogor di bawah lisensi CMAS. Berbeda organisasi selam mungkin akan berbeda pula tahapannya.

Beberapa prasyarat untuk mengikuti pelatihan selam antara lain:

  • Berusia minimal 15 tahun
  • Memiliki kondisi tubuh yang sehat dan layak medis untuk menyelam yang dinyatakan dengan melengkapi pernyataan riwayat penyakit serta surat keterangan dari dokter.

Untuk itu, pada saat melakukan pendaftaran, biasanya calon peserta akan diminta untuk mengisi lembar kuesioner yang diberikan oleh panitia. Kuesioner ini berisi pertanyaan-pertanyaan mengenai riwayat kesehatan fisik seperti “apakah anda merasakan sakit pada bagian dalam telinga ketika berada di pesawat terbang?” “apakah anda pernah mengalami sakit di bagian dada setelah berolahraga?” dan sebagainya, serta pertanyaan mengenai kondisi psikologi seperti “apakah anda memiliki phobia terhadap kegelapan?” serta pertanyaan-pertanyaan lainnya. Calon peserta juga diminta untuk melakukan tes kesehatan THT untuk memastikan kondisi THT kita memenuhi syarat untuk mengikuti kegiatan penyelaman dan menghadapi perubahan tekanan, yang dibuktikan dengan surat keterangan dari dokter spesialis THT.

Sebagai calon penyelam kita juga harus memenuhi kualifikasi dasar yaitu:

  • Berenang sejauh 200 meter
  • Berenang sejauh 12 meter di bawah air (apnea)
  • 10 menit mengayuh di permukaan air (water trappen) tanpa bantuan alat.

Namun kemampuan dasar ini juga bisa dipelajari setiap sebelum melakukan LKK (Latihan Keterampilan Kolam). Beberapa dive course bahkan dengan baik hatinya memberikan pelatihan renang khusus bagi peserta yang ingin belajar menyelam tapi belum bisa berenang. Jadi bagi yang selama ini masih menjadikan “tidak bisa berenang” sebagai alasan utama tidak belajar menyelam, jangan khawatir! Akan ada mentor-mentor baik hati yang akan mengajari kita berenang 🙂

Setelah memenuhi persayaratan awal tersebut, barulah seluruh peserta mengikuti pelatihan selam yang sesungguhnya. Rangkaian pelatihan di jenjang open water ini terbagi ke dalam 3 program:

  1. PAP atau Pengetahuan Akademis Penyelaman
  2. LKK atau Latihan Keterampilan Kolam
  3. LPT atau Latihan Perairan Terbuka

Program PAP dilakukan di kelas untuk memberikan pemahaman mengenai prinsip-prinsip dasar pengetahuan yang berkaitan dengan penyelaman secara umum yang dibutuhkan sesuai jenjang pemula. Kemudian LKK dilakukan di kolam atau perairan terbatas, di sini peserta akan diajarkan untuk adaptasi awal dengan alat-alat selam yang akan digunakan serta dasar-dasar keterampilan yang dibutuhkan untuk melakukan penyelaman secara aman. Dan terakhir adalah program LPT yang dilakukan di perairan terbuka (laut), dimana peserta akan dibimbing untuk menerapkan keterampilan yang telah didapatkan di LKK serta mempraktekkannya dalam latihan penyelaman pada kondisi nyata. Apa yang dipelajari di PAP secara simultan akan saling berkaitan dengan program LKK dan LPT. Di akhir pelajaran PAP, peserta wajib mengikuti evaluasi tertulis PAP dan keterampilan pokok yang akan diuji oleh instruktur dengan nilai minimal lulus (passing score) 75%.

Pengetahuan Akademis Penyelaman (PAP)

Dive course yang saya ikuti menjadwalkan kegiatan PAP dan LKK setiap akhir pekan dengan didampingi oleh mentor-mentor handal dari klub selam berpengalaman. Oleh karena mentornya rata-rata adalah mahasiswa, maka setiap pelajaran di kelas selalu identik dengan “Quiz”. Walhasil di setiap penghujung PAP setiap peserta langsung diberi 5 sampai 10 soal esai mengenai materi yang diajarkan hari itu. Wah wah wah… Siap-siap saja ya yang sudah lupa rasanya kuliah, harus pasang perhatian ekstra terhadap setiap materi yang diberikan. Karena mentor-mentor ini matanya sangat awas dan sensitif terhadap peserta yang mencontek. Hihihi 😀

Beberapa materi yang diajarkan dalam PAP, yaitu:

Image1. Peralatan Selam

PAP pertama memperkenalkan alat-alat yang digunakan dalam penyelaman, mulai dari alat dasar selam (fins, snorkel, masker) hingga peralatan scuba (BCD / Buoyancy Compensator Device, Tabung, Regulator, dsb) berikut komponen penting, jenis, fungsi serta perawatannya.

2. Aspek Medis Penyelaman

Mulai dari faktor fisik dan psikologis yang dapat mempengaruhi penyelaman hingga permasalahan-permasalahan medis yang dapat terjadi akibat kesalahan dalam kegiatan penyelaman.

3. Fisika Penyelaman

Dalam fisika penyelaman, kita belajar memahami hukum-hukum fisika yang berlaku pada kegiatan penyelaman, menghitung tekanan pada kedalaman, dan pengaruhnya pada aktivitas penyelaman serta rtubuh kita.

4. Biota Berbahaya

Dalam materi ini peserta diperkenalkan dengan berbagai biota laut yang dapat menjadi ancaman bagi penyelam, bagaimana cara mencegahnya, serta pertolongan pertama yang harus diberikan apabila terserang oleh biota tersebut.

5. Tabel Selam

Untuk keamanan penyelaman, setiap penyelam juga harus memahami tabel selam. Tabel selam digunakan untuk melihat kategori penyelaman berdasarkan kedalaman, lama menyelam dan lama istirahat agar terhindar dari penyakit dekompresi. Hal ini penting terutama untuk kegiatan penyelaman berulang.

Latihan Keterampilan Kolam (LKK)

Berbeda dengan PAP yang ujiannya di akhir pertemuan, pada LKK ujian dilakukan di awal pertemuan. Setiap akan memulai LKK, seluruh peserta diharuskan melakukan pemanasan. Tebak pemanasannya seperti apa? Peregangan? Yak betul… dan dilanjutkan dengan berenang sejauh 200 meter! (yang jarang olahraga pasti ngos-ngosan) Setiap mentor akan bersiaga untuk menghitung berapa lama waktu yang kita habiskan untuk berenang 200 meter dan mencatat perkembangannya dari minggu ke minggu. Setelah tuntas renang 200 meter, latihan dilanjutkan dengan apnea atau kami biasa menyebutnya “horizontal”. Apnea yang diwajibkan adalah 12 meter, artinya satu kali hirupan nafas kita harus bertahan untuk berenang di dasar kolam sejauh 12 meter. Apakah semua peserta bisa? Tentu tidak. Ada juga sebagian peserta yang sulit melakukan apnea ini. Terutama orang-orang yang daya apungnya cenderung positif (mudah mengambang) atau yang terlalu sering merokok, karena pasti ngos-ngosan di tengah jalan. Tapi lagi-lagi mentor akan setia mengajari sampai semua peserta mampu melakukan apnea sejauh 12 meter. Fungsinya adalah ketika kita melakukan skin diving, kita akan lebih mudah dan bertahan lama melakukan tuck dive, serta melatih kita untuk mengatur pernafasan dan tidak panik ketika ada sedikit permasalahan di bawah air. Setelah renang, apnea dan water trapen, baru kemudian LKK dilanjutkan dengan latihan scuba. Salah satu kelebihan dive course yang saya ikuti terletak pada pembagian mentor dalam LKK hingga LPT, yaitu satu mentor hanya mengajari 1-2 peserta saja. Jadi tidak berebutan, pengajaran menjadi lebih intens, dan yang paling penting jika kita melakukan hal-hal bodoh ketika latihan, hanya dilihat oleh 2 orang saja, jadi nggak malu-maluin amat, hehehe 😛

Sedangkan materi yang langsung diajarkan dalam LKK adalah:

1. Pemasangan Alat Selam

Peserta diajarkan untuk merakit dan membongkar alat selam secara mandiri sehingga diharapkan dapat menjadi penyelam yang independent, tidak merepotkan orang lain untuk memasangkan peralatan selamnya. Dalam perakitan/pembongkaran alat, peserta juga harus mempraktekkannya dengan cara yang benar agar alat tidak cepat rusak dan membahayakan aktivitas diving berikutnya, misal dengan menjaga agar second stage tidak mengenai tanah/pasir, dan selalu mengeringkan dust cover sebelum menutup O-ring pada first stage (tempat udara masuk dari tabung) untuk melindunginya dari debu dan kotoran.  Pada tahap ini peserta juga akan mulai menerapkan buddy system sebelum penyelaman, dimana orang yang akan menjadi buddy kita akan mengecek alat yang telah kita pasang, mulai dari tekanan tabung, hingga mengecek apakah ada kebocoran pada BCD, katup kuras, tabung, maupun regulator yang dapat membahayakan aktivitas penyelaman. Demikian pula sebaliknya, setelah megecek alat kita sendiri, kita juga harus mengecek alat buddy kita apakah sudah siap untuk digunakan untuk menyelam. Setiap peralatan selam yang akan digunakan untuk penyelaman harus kita pahami betul kondisinya, karena akan dilaporkan ketika PDSC (Pre-Dive Safety Check).

2. PDSC

Pre-Dive Safety Check adalah koordinasi yang dilakukan bersama buddy selam kita sebelum melakukan aktivitas penyelaman. Biasanya yang perlu dikomunikasikan dalam PDSC ini adalah (1) kondisi kesehatan setiap penyelam; (2) kondisi alat selam masing-masing penyelam, mulai dari kelengkapan alat dasar selam, tekanan tabung, jenis regulator, jumlah katup kuras pada BCD, jumlah weight belt yang digunakan, hingga arah bukaan strap-nya; dan (3) rencana penyelaman, seperti berapa kedalamannya, berapa lama waktu kita di dalam air, dsb.

3. Entry atau Cara Masuk ke Air

Mulai dari sitting entry, giant-stride, back-roll, forward-roll dan cara masuk di pantai.

Skin Diving4. Skin Diving

Skin Diving atau yang biasa disebut Snorkeling atau Free Diving / Selam Bebas juga diajarkan di sini. Tapi tentunya berbeda dengan snorkeling yang dilakukan oleh para wisatawan-wisatawan dalam rombongan tour yang snorkelingan pakai pelampung. Skin diving ini biasanya hanya menggunakan fins, snorkel dan masker, tanpa pelampung, agar kita tetap bisa menyelam ke dalam air. Materi yang diajarkan dalam skin diving ini antara lain adalah fins swimming, membuang air dari masker (mask clearing), membuang air dari snorkel, tuck dive dan duck dive. Pada prakteknya, skin diving dilakukan pada kedalaman laut yang relatif dangkal dan waktu penyelaman yang relatif terbatas, tergantung pada kemampuan paru-paru kita.

5. Fins Swimming

Ada beberapa gaya Fins Swimming atau berenang dengan menggunakan kaki katak, diantaranya adalah gaya menjelajah (flutter), gaya gunting (scissor), gaya katak (frog kick) dan gaya lumba-lumba (dolphin). Selain itu peserta juga diajarkan fins swimming dengan badan miring yang berfungsi untuk melewati celah ketika diving, serta fins swimming dengan badan terlentang untuk memudahkan pergerakan di permukaan ketika telah menggunakan alat diving lengkap.

6. Dive Sign atau Hand Signal

Hand signal dipakai untuk berkomunikasi antar penyelam baik masih di permukaan air maupun selama penyelaman.

7. Memakai dan melepaskan alat scuba di permukaan air

Bagi penyelam amatir, diperlukan ketenangan untuk dapat memasang dan melepaskan alat scuba secara mandiri di permukaan air.

8. Mendapatkan kembali mouth-piece regulator

Karena mouth-piece ini adalah ujung tombak penyuplai oksigen dari peralatan selam kita, dalam latihan kita juga diajarkan untuk menemukan kembali mouth-piece / second-stage atau hose/selang-nya.

Mask Clearing

9. Mask Clearing

Mask Clearing bisa jadi hal simpel yang akan paling sering kita lakukan nantinya. Mask clearing berfungsi untuk membersihkan kaca masker kita embun, dengan cara memasukkan air dari atas masker dan mengeluarkannya dengan menghembuskan udara dari hidung. Pada penyelaman, untuk membersihkan masker sesekali kita juga harus melepasnya. Hal ini kadangkala menimbulkan kepanikan, sehingga pada LKK kita juga akan sering melakukan buka-pasang masker, dan mempertahankan buoyancy ketika  melakukannya.

10. Buoyancy

Ada 3 jenis buoyancy atau daya apung yaitu daya apung positif, negatif, dan netral. Daya apung positif yaitu bila sebuah benda cenderung mengambang (terapung), sedangkan daya apung negatif bila benda cenderung tenggelam dan daya apung netral apabila benda tersebut cenderung melayang di dalam air. Buoyancy yang harus dipelajari oleh penyelam adalah buoyancy netral. Buoyancy netral diperoleh dengan mengkombinasikan berat tubuh kita dengan jumlah weight belt yang sesuai, pengaturan udara dalam BCD dan pernafasan. Semakin kita mahir dalam mengatur buoyancy netral kita, maka aktivitas penyelaman menjadi semakin nyaman dan memudahkan pergerakan di bawah air.

Dalam materi buoyancy biasanya kita akan dilatih untuk melakukan Hovering dan Pivoting. Hovering adalah upaya penyelam untuk mempertahankan posisi daya apungnya di dalam air dalam keadaan melayang dan diam, tidak kemana-mana. Sedangkan pivoting adalah upaya penyelam untuk berdiri condong pada kedua ujung fins yang berada di dasar air (pivot = engsel). Kemampuan kita mengendalikan buoyancy netral di dalam air akan terus menerus dipraktekan pada setiap LKK. Mulai dari netral duduk, netral 45 (pivoting), netral kolom (hovering), netral 90, hingga kombinasi antara netral 45 sambil mask clearing dan sebagainya.

11. Buddy System

Salah satu pantangan dalam selam adalah menyelam sendiri. Menyelam haruslah dilaksanakan secara tim. Tanggung jawab sebagai buddy selam adalah mencegah timbulnya masalah dan membantu buddy jika diperlukan. Kita dan buddy harus saling mengontrol, mengingatkan jika ada bahaya atau melampaui batas-batas yang diizinkan.

12. Buddy Breathing

Buddy juga berperan sebagai penolong penyelam lainnya dalam keadaan darurat. Keadaan darurat yang paling mendasar adalah “kehabisan udara”. Kehabisan udara dapat terjadi akibat kecerobohan penyelam sendiri atau karena kerusakan alat. Buddy breathing atau bernafas patungan yang paling aman adalah dengan menggunakan regulator second stage cadangan (octopus). Namun dalam sertifikasi kita juga diajarkan untuk bernafas patungan dengan menggunakan satu second stage yang digunakan untuk bernafas secara bergantian dan biasanya dilanjutkan dengan naik ke permukaan.

Beberapa materi penting lainnya juga diajarkan selama perjalanan pelatihan, atau dapat kita baca secara mandiri di buku pegangan yang diberikan selama masa sertifikasi.

 

Latihan Perairan Terbuka (LPT)

LPT dilakukan ketika semua materi penyelaman sudah disampaikan dalam PAP dan LKK. Untuk dive course di wilayah Jabodetabek, biasanya LPT dilakukan di kepulauan seribu.

Cerita-cerita seru mengenai LPT akan dimuat dalam postingan berikutnya 🙂

Posted in Uncategorized | Tagged , , , | Leave a comment

Open Water Scuba Diving Certification: Kenapa sih kita perlu sertifikasi selam?

Scuba Girls

Sebelum mengulas tentang sertifikasi, saya akan sedikit bercerita mengenai Scuba Diving. Apa itu scuba diving? Ngapain sih kita capek-capek nyelem ke dasar laut, berat-berat bawa tabung dan seperangkat alat yang ribet bukan main?

Kenapa manusia melakukan scuba diving? Karena kehidupan itu bukan hanya ada di daratan. Ada kehidupan yang berbeda, yang penuh warna, penuh kejutan, dan keindahannya tidak dapat kita rasakan dari daratan. Untuk menjelajahi itu semua, manusia dengan segenap naluri keingintahuannya melakukan scuba diving, menyelami dasar lautan untuk bertemu biota-biota laut di habitat aslinya. Scuba Diving atau selam scuba adalah aktivitas yang dilakukan di bawah air dengan menggunakan alat bantu pernafasan. Kata “scuba” sendiri merupakan singkatan dari “Self Contained Underwater Breathing Apparatus”, atau secara sederhana dapat diartikan sebagai peralatan untuk bernafas di bawah air secara mandiri, sehingga saat ini scuba biasanya diasosiasikan dengan peralatan selam yang menggunakan tabung oksigen.

Untuk bisa melakukan scuba diving kita diharuskan untuk memiliki keterampilan khusus yang didapatkan melalui pelatihan atau sertifikasi selam. Kenapa perlu sertifikasi selam?

Sertifikasi bertujuan untuk memberi pengetahuan terhadap calon penyelam mengenai bahaya-bahaya yang terdapat dalam aktivitas penyelaman, di samping tentunya mengajarkan kita untuk menggunakan alat selam secara benar dan aman. Hal ini penting karena resiko yang terdapat dalam aktivitas menyelam ini sangatlah tinggi. Manusia merupakan makhluk darat yang membutuhkan udara untuk pernafasan, sedangkan aktivitas bawah air ini hanya mengandalkan peralatan untuk menyuplai oksigen ke dalam paru-paru kita. Jika terjadi suatu kesalahan di bawah air tanpa kita mengetahui cara mengantisipasinya tentu itu akan membahayakan nyawa kita bukan? Meskipun kita bisa menjangkau udara dengan berenang ke permukaan secepat mungkin, perubahan tekanan – dari kedalaman air ke permukaan – yang terjadi secara tiba-tiba dapat menyebabkan rusaknya paru-paru hingga kematian. Lho, kok bisa?

Tekanan di permukaan, tempat kita bernafas normal adalah 1 atm, sedangkan setiap kedalaman 10 meter tekanan akan bertambah 1 atm. Dengan bernafas menggunakan tabung oksigen di kedalaman, paru-paru kita tetap berada pada kondisi normal, tidak menciut, meskipun tekanan terus bertambah. Sehingga jika kita berenang ke permukaan secara tiba-tiba dari kedalaman, dengan kata lain terjadi penurunan tekanan secara tiba-tiba, udara di paru-paru kita akan mengembang dan terjadilah dekompresi atau Decompression Sickness (DCS), yaitu menyusupnya gelembung-gelembung udara ke dalam aliran darah sehingga menyebabkan kelumpuhan hingga kematian. Hii…mengerikan bukan?

Dekompresi baru salah satu contoh bahaya dari penyelaman. Masih banyak lagi bahaya yang terdapat dalam aktivitas scuba diving. Untuk itu sertifikasi sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, sehingga aktivitas kita menyelami keindahan bawah laut tidak terganggu oleh berbagai macam permasalahan, mulai dari penggunaan alat, pengendalian diri, hingga kekhawatiran terhadap ancaman-ancaman yang belum kita ketahui.

Tahapan-tahapan yang dilalui dalam kegiatan sertifikasi selam akan dibahas dalam postingan berikutnya 🙂

Posted in Uncategorized | Tagged , | 1 Comment

2013: Tahun Ular Air. Tahunnya Shio Ular bermain di bawah Air :)

Wah, sudah berganti tahun nampaknya dari terakhir kali saya menulis di blog ini… Mumpung masih bulan Januari, mungkin nggak ada salahnya ngucapin “Happy New Year!!” walaupun telat 15 hari :p

Kata orang Cina, 2013 ini tahunnya Shio Ular unsur Air… Sedangkan tahun saya adalah 1989 alias Ular Tanah. Namun ini bukan menjadi penghalang untuk menyambut datangnya si Ular Air tentunya. Tebak, saya melakukannya dengan apa?

Haphaphap…!! Si Ular Tanah ini ternyata sungguh-sungguh menyambut kawannya. Ia sekarang bahkan sudah bisa menyelam-nyelam di bawah air!!

(ayo penonton beri tepuk tangan yang meriah…!!)Image

LPT (Latihan Perairan Tebuka) kelas diving sudah saya lewati dengan sukses! Dunia bawah laut Kepulauan Seribu sudah saya selami dengan damai dan tentram… Dan saya merasa…mungkin ini adalah pertanda bahwa si Ular Air akan bersahabat baik dengan si Ular Tanah. Mudah-mudahan 🙂

Setidaknya ada 3 site penyelaman menarik yang kami – saya dan tim reguler Fisheries Diving Club – jelajahi: Utara Pulau Sekati; Pulau Air; dan sekitar Pulau Panggang. Pemandangannya? Seperti akuarium! Terumbu karang yang tidak terlalu padat, tapi masih terjaga dengan cukup baik, ikan-ikan besar dan kecil beraneka warna berenang ke sana ke mari… Nudibranch, bintang laut, dan kuda laut yang sesekali menampakkan diri. Snorkeling di sana saja rasanya sudah excited sekali. Dan kali ini saya MENYELAM!

Sensasi ketika udara mulai merayap keluar melalui inflator, BCD mengempis, dan tubuh yang perlahan-lahan tenggelam…menampilkan slide show…slow motion kehidupan bawah laut yang kali ini tidak hanya saya intip dari permukaan, tapi saya SELAMI!

Ah…saya suka sekali dengan kata “Selam” ini 😀

Puluhan menit kami berada di bawah air. Di lautan Indonesia yang super kaya. Bermain dengan ikan dan terumbu karang. Di bawah sana, terumbu karang ada macam-macam! Mulai dari yang seperti tanduk, seperti otak, seperti jamur, yang panas seperti api sampai yang genit melambai-lambai tapi ternyata sangat pemalu…ketika saya berusaha menyalaminya, ia malah masuk ke rongga terumbu, rumahnya. Dunia ini cocok sekali dengan manusia ‘autis’ seperti saya… Kita bisa tertawa-tawa dengan makhluk hidup lain tanpa ada orang yang memandang curiga.

Kita bisa terbang seperti superman, turun-naik tanpa perlu menyusuri tangga… Tenang…melayang… Tanpa ada suara-suara bising dunia, hanya ada sunyi dan irama merdu udara yang menyembur dari secondstage, menabrak air di sekelilingnya, pecah menjadi sekoloni gelembung-gelembung kecil yang berbondong-bondong naik ke permukaan.

Hidup di duniamu, walau sebentar ternyata sangat menyenangkan… Ular Air 🙂

Tapi jangan pertemukan saya dengan ular laut ya! Hii….ngerii.

Image

Posted in Uncategorized | Tagged , | Leave a comment

Welcome to The More Colorful World!

Tulisan ini terpikirkan tadi pagi waktu gw berangkat ke kantor sambil memandang Gunung Salak dari kejauhan.

Tadi malam, salah satu kakak senior dari klub diving di kampus menelfon. Sudah cukup lama juga gw nggak ngobrol sama kakak ini. Dan dia nelfon tepat setelah gw membuat twit seperti ini:

“Rasanya.. Apapun masalahnya.. Kalo inget sabtu latihan nyelem, langsung seger lagi.. :)”

Ya, akhir-akhir ini gw memang sedang mengalami tekanan di beberapa sisi kehidupan. Kerjaan, percintaan, pertemanan, keuangan.

Dalam bulan November ini, gw 3 kali mengalami jatuh miskin. Sempat kaya raya, lalu jatuh miskin demi berobat jerawat ke dokter kulit, lalu kaya raya lagi, miskin lagi karena uangnya dipakai modal usaha nyokap, lalu kaya lagi, lalu miskin lagi demi menanggulangi rumah yang hampir disegel. Dan ini tanggal 30. Titik nadir dimana gw merasa menjadi manusia paling miskin sekantor.

Lalu pekerjaan. Ini yang paling complicated diantara semua masalah yang bikin gw susah buang air besar.

Mungkin jenuh. Semua orang juga pasti mengalami jenuh terhadap pekerjaannya. Dan gw baru merasakan ini. Jenuh…hingga yang ada di otak gw cuma: resign.. resign.. resign.

Dan segambereng tekanan hidup lainnya.

Lalu gw membuat twit barusan. Seriously… This diving thing really makes me feel much better.

Apnea, atau menyelam dan berenang di dasar kolam itu sungguh-sungguh membuat gw merasa seperti superman. Dari yang awalnya gw takut banget berenang di dasar kolam, sampe gw sekarang yang nggak sabar pengen berenang dan “jadi superman lagi”.

Lalu kakak yang gw ceritakan di awal tadi, menelfon. Seperti pembicaraan yang selalu terjadi antara gw dan dia, gw selalu bersemangat menceritakan apapun. He’s a very good listener. Bagai mencari air ke sumber mata airnya, gw cerita semua pengalaman belajar diving gw ke dia. Mulai dari gw yang udah nggak takut lagi nyelem ke dasar, gw yang susah banget belajar buoyancy, sampe gw yang udah nggak sabar buat nyelem ke laut beneran. Hahaha…

Then he said, “Welcome to this world Ri. Welcome to the more colorful world.”

Ah… Apapun itu, gunung, laut…semuanya memang akan terlihat satu warna saja dari kejauhan. Siapa yang akan menyangka bahwa dunia bawah laut penuh dengan makhluk hidup yang beraneka warna, jika tidak ada yang pernah menyelami kedalamannya. Siapa yang tahu bahwa di gunung, ada bunga, daun, serangga, burung-burung beraneka warna yang kadangkala bersembunyi, mengintip atau mengejutkan secara tiba-tiba.

Dan gw merasa ini sudah sangat dekat sekali. Untuk menjadi salah satu manusia yang paling beruntung di dunia. Menyaksikan keindahan di tempat-tempat yang membutuhkan perjuangan untuk mencapainya. Tempat-tempat yang penuh dengan keindahan yang lebih dari sekedar keindahan biasa.

Posted in Uncategorized | Tagged , | Leave a comment

Cerita di negeri Krisdayanti dan Raul Lemos

Image

Panas…Gersang… Lahan di Timor Leste

Akhir-akhir ini setiap gw bilang lagi di Timor Leste, orang-orang di Facebook dan Twitter selalu rame “Ciye…mau cari duda tajir kayak Raul Lemos ya?” atau “ngapain ke Timor Leste? Mau nengokin Krisdayanti ya?” atau sekedar “Salam buat Krisdayanti ya!”. Sebenernya di tulisan ini juga gw mau konfirmasi, bahwa jawaban gw yang berkisar antara ‘nyari duda tajir’ itu bohong adanya!

Orang Timor Leste pertama yang ngobrol lumayan intens sama gw adalah keluarga pemilik Hotel Rochella Café. Adalah Rudolph, anak pemilik hotel yang membantu gw membuka koper (baca: 12 November 2012 di Timor Leste), memperbaiki AC kamar gw dan di hari-hari berikutnya kami selalu bertegur sapa. Ganteng ga? Yaa…tipe-tipe Raul Lemos gitu deh. Tapi bukan dudan. Dan gw bukan Krisdayanti. Cukup.

Mungkin karena memang baru merdeka, jadi ini negara menurut gw kompleks banget. Bahasa nasionalnya Portuguese, padahal orang-orangnya nggak bisa ngomong Portuguese. Di tempat-tempat umum 70% papan informasi, spanduk, dan sebagainya pakai bahasa Portuguese. Hanya 30% yang pakai bahasa Tetun, bahasa lokal Timor Leste. Di sekolah guru mengajar pakai bahasa Portuguese, buku-buku bahasa Portuguese. Oke anak-anak SD sekarang jago-jago ngomong bahasa Portuguese, tapi gimana dengan yang di masa peralihan? Yang udah lulus SMA dan mau lanjut kuliah misalnya. Apa mereka musti belajar bahasa Portuguese yang kata mereka sendiri jauh lebih ribet daripada bahasa Inggris? Akhirnya mereka kuliah di Indonesia. Dari ngobrol-ngobrol sama orang-orang di workshop gw baru tau bahwa sekitar 80% orang Timor Leste yang kuliah itu ya kuliahnya di Indonesia. Kalo anak orang kaya macam Rudolph ini okelah bisa kuliah di Indonesia. Tapi gimana dengan yang nggak mampu?

Jadi wajar aja semua orang bilang, di Timor Leste itu kesenjangan sosialnya tinggi sekali. Yang kaya kaya sekali, yang miskin miskin sekali. Yang baik baik sekali, yang brutal brutal sekali. Yang kaya bisa sekolah tinggi-tinggi. Yang miskin jualan baju bekas. Atau jadi preman. Atau ngemis.

Ah, macam di Indonesia enggak aja..

Kemarin ada anak laki-laki. Kecil, kurus, item, kotor sekali. Ngikutin gw waktu pulang dari supermarket. Sepanjang perjalanan sejauh + 500 meter nggak henti-hentinya dia memelas “kak minta uang kak minta uang kak minta uang kak minta uang kak……………..”

Mereka hidup di negara yang gersang. Tanah gersang, pekerjaan susah, segalanya mahal. Belanja apapun pakai USD. Dan harganya 100-150% lebih mahal dibanding harga barang-barang di Indonesia. Oke, maksud gw Indonesia bagian Barat. Karena Indonesia bagian Timur mungkin kondisinya pun nggak lebih baik dari ini.

Setidaknya dengan memerdekakan diri, Timor Leste bisa perlahan-lahan membangun kehidupannya tanpa digerogoti oleh tikus-tikus brengsek di Jakarta. Walaupun sangat sulit dan berat membangun kembali konstruksi sosial-ekonomi yang sudah rusak sejak zaman pemerintahan Indonesia dulu.

Image

Anak-anak Timor Leste yang Menguasai 3 Bahasa: Tetun, Portuguese, Indonesia… Sebagian juga bisa bahasa Inggris

Tapi melihat kota Dili mulai di bangun, masyarakat bermain dengan keluarganya, melepaskan kejenuhan akan masalah ekonominya di taman-taman kota, gw jadi mikir… Apa perlu daerah-daerah tertinggal di Indonesia lainnya memerdekakan diri dulu untuk bisa membangun wilayahnya?

Dan gw juga jadi mikir, ‘ah, egois sekali kita yang selama ini menahan-nahan Papua untuk merdeka. Sumberdaya mereka habis entah oleh siapa. Masyarakatnya miskin dan terbelakang. Atau jangan-jangan sengaja dibuat terus terbelakang agar mereka tidak memiliki kapasitas untuk membangun negara sendiri?’

Papua…

Lautnya indah, daratannya indah, luar biasa kaya sumberdaya alamnya. Tapi merana sekali nasib masyarakatnya…

Ah, jahat sekali kita – Indonesia – ini.

Posted in Uncategorized | Tagged | 4 Comments

Bungee Jumping di Phuket, Edan!

Selain untuk bersantai, Phuket juga punya tempat untuk memacu adrenalin. Rasakan sensasi terjun bebas dari ketinggian 50 meter, berlatar danau yang tenang di perbukitan Kathu District, Phuket, Thailand. Deg-degan!

Saya bukan seorang adrenaline junkie. Jungle bungee jumping di Phuket adalah pengalaman pertama saya mencoba olahraga yang memacu adrenalin ini.

Diawali dengan membaca salah satu buku perjalanan yang mengulas tentang obyek wisata di Phuket, saya menemukan bahwa di pulau di selatan Thailand ini terdapat sebuah provider bungee jumping. Tempatnya berada di tengah hutan dengan pemandangan danau dan bebukitan yang indah. Bungee jumping segera menempati satu ruang di deretan kolom itinerary liburan saya ke Thailand 11-19 Oktober yang lalu.

Sesungguhnya terdapat dua provider bungee jumping di Phuket, yaitu World Bungy Jump di sekitar Pantai Patong dan Jungle Bungy Jump di Kathu District. Namun, kali ini tekad saya sudah bulat untuk memilih Jungle Bungy Jumping di Kathu District, yang lebih banyak direkomendasikan oleh para traveler di situs-situs jejaring sosial.

Dari tempat saya menginap di Patong, hanya menghabiskan waktu 20 menit untuk mencapai lokasi bungee jumping ini. Transportasi yang paling disarankan adalah dengan menyewa sepeda motor. Harga sewa motor ini per harinya berkisar antara 150-200 Baht (Rp 47.000-63.000), jauh lebih menguntungkan dibanding menggunakan tuk-tuk. Belum lagi tawar menawar sengit yang selalu terjadi dengan supir-supirnya.

Jungle Bungy Jumping ini berada di kawasan perbukitan, perbatasan antara Kathu dengan Phuket Town, lakukanlah riset sebanyak mungkin agar mudah menemukannya. Paket yang ditawarkan beraneka ragam, mulai dari Single Bungy Jump, Tandem Bungy, Catapult Bungy, Backwards Bungy dan Water Touch Bungy. Harga termurah untuk satu kali loncatan adalah 1.900 Baht (Rp 595 ribu), dengan bonus T-shirt dan Certificate of Courage.

Jika ingin memperoleh bukti otentik, jangan ragu menambahkan 400 Baht (Rp 125 ribu). Dengan itu, Anda akan mendapatkan CD berisi 20-30 foto bungee jump yang langsung diambil oleh guide yang menemani sampai titik terakhir sebelum kita loncat.

Hari itu saya mengambil paket single bungy jump. Jumper kedua setelah teman saya ‘ditumbalkan’ untuk loncat pertama. Melihat orang lain melakukan bungee jumping, rasanya tidak ada hal yang terlalu mengerikan. Prosedur keamanan di provider ini sangat ketat, telah terakreditasi oleh SANZ atau Standard Association of New Zealand dan dikelola langsung oleh jump master dari New Zealand.

Seluruh kru Jungle Bungy Jumping sangat ramah dalam menghadapi pelanggannya. Bahkan ketika saya mendaftar, jump master menemui kami sambil menari-nari kecil mengikuti irama lagu yang diputar kencang-kencang di area ini. Membuat suasana serileks mungkin sebelum kami merasakan ketengangan yang belum terbayangkan di atas ketinggian 50 meter.

Sampai akhirnya giliran saya pun tiba. Pengaman di kaki sudah dipasang dengan sangat meyakinkan. Rumah-rumahan yang membawa saya dan guide menaiki menara sudah berjalan. Saya sibuk merapikan baju agar tidak terbuka ketika loncat, hingga tanpa disadari kami sudah sampai di ketinggian 50 meter.

Guide meminta saya berdiri namun jangan melihat ke bawah. Rentangkan kedua tangan, pandangan lurus ke arah bukit, jangan pernah berpikir, lalu pada hitungan 3, 2, 1, ia akan berteriak ‘bungee’ dan segeralah jatuhkan badan. Namun ketika saya berdiri dan mulai merentangkan tangan, tiba-tiba ia meminta saya untuk menengok ke belakang.

‘Jepret-jepret’, dua kali ia mengabadikan wajah saya yang pucat di tepi menara di ketinggian 50 meter. Dan ketika saya memalingkan wajah kembali ke depan, tergodalah saya untuk melihat ke bawah. Kemudian apa yang terjadi? Saya tidak berani loncat. Berjongkok dan benar-benar tidak mau loncat.

Lalu untuk kedua kalinya saya mencoba untuk berdiri lagi, merentangkan kedua tangan dan menatap lurus ke arah bukit di depan. Saat itu loncat merupakan hal yang benar-benar mustahil untuk dilakukan. Ternyata 50 meter jika dilihat dari atas betul-betul tinggi sekali. Guide lagi-lagi meminta saya untuk terjun.

Saya menggelengkan kepala. Entah untuk yang keberapa kali tawar-menawar ini terjadi sampai akhirnya guide yang baik hati ini mendorong saya dari belakang. Menyisakan teriakan super kencang yang meluncur begitu saja dari kerongkongan. Ada ketakutan yang teramat sangat, ketidakberdayaan, dan kelegaan yang sulit digambarkan oleh kata-kata.

Saya terpental-pental, lalu menggantung lemas di seutas tali karet besar di atas danau yang dikelilingi hutan yang tenang. Sungguh pengalaman yang luar biasa mengerikan namun sungguh-sungguh membuat ketagihan. Terima kasih kepada guide yang telah mendorong saya dengan gembiranya.

Image

Persiapan Sebelum Bungee Jumping

Image

Bungee Jumping Dilihat dari Bawah: itu, yang menggantung lemas tak berdaya gw tuh…

 

Image

Akhirnya Mendarat dengan Selamat

Note: ini juga agak aneh tulisannya. Maap yak… Tar dibikin versi lebih serunya deh.

Udah dipublish di sini, Senin, 29/10/2012 09:30:00 WIB

 

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , | Leave a comment