Nusa Penida, Perubahan Iklim dan Wanita Penantang Gelombang

Bali, 5-10 Juni 2013

Checkpoint 3: Rumah Ibu Luh Padmi, Desa Ped, Nusa Penida

Kuta Utara, Sabtu jam 6 pagi ketika matahari baru sejengkal menampakkan diri. Di tepi Jalan Tangkuban Perahu saya melangkah pelan sambil menggendong sebuah daypack dan menenteng dry bag berisi alat dasar selam, harap-harap cemas menunggu taksi yang akan mengantar saya ke Sanur. Satu tujuan yang pasti pagi itu, “harus menyebrang ke Nusa Penida dengan Jukung yang berangkat jam 7”.

Jam 6.40 taksi berhenti di depan gardu tiket masuk ke pantai Sanur. Demi menghemat pengeluaran, saya turun dan mulai berjalan kaki dari titik ini, karena setiap kendaraan yang masuk akan dikenakan biaya tambahan. Setengah berlari, saya langsung menuju pantai dimana Jukung seharusnya bersandar. Namun apa yang terjadi? Perahu kayu dengan dua cadik, yang 6 tahun lalu saya tumpangi untuk menyebrang ke Nusa Penida itu ternyata tidak beroperasi lagi.

Semua orang yang saya tanyai perihal Jukung ini menjawab dengan nada yang sama “Jukung sudah tidak ada mbak, lebih enak naik speedboat, cepat, harganya tidak beda jauh dengan Jukung dulu”. Tapi bagi saya, Jukung lebih dari sekedar alat transportasi. Karena perahu ini menyimpan begitu banyak kenangan yang pernah saya lewati bersama 15 sahabat. Ekspedisi Nusa Penida tahun 2007. Sebuah perjalanan yang kelak menjadi cikal bakal nama angkatan di kelompok pecinta alam kami: Lawalata angkatan Nusa Penida.

Harapan untuk bernostalgia di atas Jukung pun pupus. Di konter penjualan tiket speedboat saya berdiri memandangi jadwal penyebrangan ke Nusa Penida. Gawat!  Speedboat juga akan berangkat pukul 7 pagi. Setelah membeli tiket seharga Rp.65.000, saya langsung berlari ke arah barat daya dimana semua speedboat berkumpul. Perahu yang saya tumpangi bernama Prasi Sentana, seperti nama seekor kuda. Kuda yang menyebrangi lautan dari Sanur menuju Nusa Penida hanya dalam waktu 30 menit. Sungguh berbeda dengan Jukung yang memanjakan kita dengan berlayar selama 2 sampai 3 jam.

Image

The Last Passenger…

IMG_2328

Menuju Nusa Penida… Dimana matahari terbit pertama kali.

Ada satu perasaan yang membuat dada ini rasanya ingin meledak di detik pertama saya menginjakkan kaki di pasir pantai Toyapakeh, Nusa Penida. Sebuah rasa yang jika diteriakkan kurang lebih bunyinya akan seperti ini:  “Woooyyy!! Bucok, Kliwon, Trening, Menyeng, Nene, Mping, Pesong, Patkai, Turbo, Bronky, Kipli, Upil, Aja, Jeby, Sukro!! Gue ke Nusa Penida lagi! Coba lo semua ada di sini…!!”.

Let me introduce my Nusa Penida Geng! (ki-ka) Jeby, Sukro, Kliwon, Kipli, Menyeng, Pesong (ketutupan), Trening, Mping, Bronky, Ubo, Ntip (saya), Nene, Bucok, Patkay, Upil, Aja. (Nusa Penida, 2007)

Geng Nusa Penida kami! 🙂 (ki-ka) Jeby, Sukro, Kliwon, Kipli, Menyeng, Pesong (ketutupan), Trening, Mping, Bronky, Ubo, Ntip (saya), Nene, Bucok, Patkay, Upil, Aja.
(Nusa Penida, 2007)

Menuju Desa Ped, saya diantar oleh Warsita, seorang mahasiswa Sastra Jepang Universitas Udayana semester 6, pemuda asli Nusa Penida yang saya kenal di speedboat. Dari Toyapakeh, kami bermotor ke arah Timur, melewati perkebunan kelapa, kandang-kandang babi, dan hamparan rumput laut yang sedang dijemur. Warsita tidak kenal dengan Ibu Luh Padmi, sehingga tujuan kami saat itu adalah Penangkaran Jalak Bali di Desa Ped. Namun pada beberapa puluh meter sebelum kami tiba di penangkaran, saya melihat sebaris senyuman ramah yang begitu familiar. Dari seorang ibu yang sedang mengikati rumput laut di halaman samping rumahnya. Dengan cepat saya minta Warsita berhenti, menyampaikan ucapan terima kasih kepadanya, lalu melesat berlari ke rumah ibu berwajah ramah tersebut.

Sang ibu tercenung melihat kehadiran saya. Saya berdiri mematung. Beberapa detik berlalu, akhirnya saya membuka mulut. “Ibu masih ingat saya?”. Mendengar ucapan tersebut ibu langsung meninggalkan rumput lautnya, berdiri, menghambur memeluki saya. “Ya ampun Riaa!! Ini ria…??” ucapnya tak percaya. Lalu kami menghabiskan sebuah pelukan yang panjang. Ibu menangis. Saya pun menangis. Kadek dan Luh Padmi, adik-adikku, berdiri di depan pintu memandang tak percaya, lalu sejurus kemudian turut menghambur dan berteriak  “Kak Riaa….!!”

Begitulah akhirnya kisah si anak hilang yang kembali ke kampung halamannya. Berkat ekspedisi Lawalata, saya berada di keluarga kecil ini. Pagi itu Ibu Luh Padmi membawa saya berkeliling ke rumah para tetangga, memaksa mereka untuk memutar balik ingatannya ke tahun 2007. “Ini Ria… Ria dari Bogor yang dulu pernah tinggal di sini”  ucap Bu Luh Padmi dengan berlinang air mata, dan kemudian disahuti oleh tetangganya dengan “Oh, Ria yang dulu sama teman-temannya ke sini? Kok sekarang berubah? Dulu cantik” atau “Oh, iya Ria yang cantik? Kok sekarang berubah? Teman-temannya mana? Johan mana?”. Entah berapa puluh kali saya harus bercerita tentang Johan, si kakak senior yang juga dekat dengan Bu Luh Padmi. Bercerita tentang bagaimana nasib 15 begundal yang dulu bersama saya ke sini. Bercerita tentang Anggi, si pesepeda keliling Indonesia yang dulu juga pernah mampir ke sini. Dan tentunya juga bercerita tentang kenapa saya yang sekarang tidak secantik dahulu lagi 😛

IMG_2543

Nusa Penida, 2007. Belakang: (ki-ka) Saya, Ibu Luh Padmi, Bapak, Kak Johan. Depan: (ki-ka) Luh Padmi, Kadek.

IMG_2564

Nusa Penida, 2013. See how much they’ve grown up! 😀
(ki-ka) Saya, Luh Padmi, Kadek

Oke, lupakan sejenak masalah perubahan tampang. Mari kita bahas tentang rumput laut Nusa Penida. Pulau di sebelah tenggara Bali ini memang terkenal sebagai lumbung rumput laut. Hal pertama yang akan kita pertanyaan ketika pertama kali tiba di pulau ini biasanya adalah “ini apaan sih yang dijemur, kuning-kuning, bau amis pula?“. Itu dia rumput laut yang biasa kita makan di es campur. Jangan bayangkan rumput laut yang baru diambil di laut rasanya akan seenak rumput laut es campur. Saya pernah mencoba memakannya langsung, dan rasanya asin saudara-saudara. Itu kenapa rumput laut setelah dipanen harus dijemur terlebih dahulu, untuk mengurangi kandungan air dan garam dalam rongga-rongga tubuhnya.

IMG_2340

Jemuran Rumput Laut

Budidaya Rumput Laut di Nusa Penida

Banyak penduduk Nusa Penida bekerja sebagai pembudidaya rumput laut, membudidayakan rumput laut di pantai belakang rumahnya. Kurang jelas. Pantai yang putih pasirnya, jernih airnya dan indah terumbu karangnya. Tapi kita harus merelakan sedikit bagian dari pantai ini untuk tidak berterumbu karang, karena disinilah rumput laut tumbuh dan menghidupi ratusan jiwa masyarakat pantai Nusa Penida.

IMG_2505

Lahan rumput laut…

Ada 2 jenis rumput laut yang dibudidayakan oleh masyarakat Nusa Penida, yaitu Eucheuma spinosum dan Eucheuma cottoniE. spinosum memiliki tekstur kulit lebih kasar. Sedangkan E. cottoni memiliki tekstur kulit yang licin, warna lebih cerah dan harganya lebih mahal. Namun kini mereka hanya membudidayakan rumput laut E. spinosum meskipun harga jualnya lebih murah, karena kondisi lingkungan yang membuat E. cottoni semakin sulit dibudidayakan.

IMG_2561

Eucheuma spinosum

Budidaya rumput laut di Nusa Penida menggunakan sistem lepas dasar atau off bottom method, yaitu dengan mengikat ranting rumput laut pada seutas tali ris yang kemudian diikatkan pada patok-patok yang ditanam di laut. Tali ris yang digunakan biasanya adalah tambang plastik, dimana di setiap 15 cm terdapat tali kecil (biasanya terbuat dari plastik es lilin) yang berfungsi sebagai pengikat rumput laut. Dalam satu ikatan terdapat 2 potongan ranting rumput laut. Rumput laut yang digunakan sebagai bibit harus merupakan ranting yang muda, memiliki banyak cabang, sehat dan tidak terkena busuk batang.

Busuk batang adalah masalah utama budidaya rumput laut di Nusa Penida. Majalah Salam (Petani Sustainable Agriculture Magazine) edisi 26 Januari 2009 yang mengangkat tema perubahan iklim pada sektor pertanian, dalam satu artikelnya membahas persoalan menurunnya produksi rumput laut di Nusa Penida akibat mewabahnya busuk batang atau ice-ice. Dalam artikel tersebut dipaparkan bahwa busuk batang terjadi akibat cuaca ekstrim yang menyebabkan perubahan kadar garam, struktur kimia lainnya ataupun meningkatnya suhu air laut sehingga mengurangi kemampuan rumput laut dalam menyerap nutrisi. Hal ini diperburuk oleh kondisi ombak yang kencang yang menyebabkan rumput laut lebih mudah rontok.

Dari tahun ke tahun produksi rumput laut di Nusa Penida mengalami penurunan, ini pun dirasakan oleh Ibu Luh Padmi dan tetangga-tetangganya. Karena busuk batang yang selalu menyerang hasil panen, kini hampir semua petani harus membeli bibit baru dari pulau lain untuk ditanam di lahannya. Kemandirian petani rumput laut pun tercerabut oleh perubahan iklim. Biaya produksi semakin mahal. Tapi rumput laut tetap harus ditanam. Strateginya adalah dengan melakukan panen dini, sebelum rumput laut yang rontok semakin banyak, meskipun hal ini menjadikan beban pekerjaan para wanita di Nusa Penida menjadi berlipat ganda. Kenapa?

IMG_2554

Mbok Wayan. Mengikati bibit rumput laut.

Para Wanita Penantang Gelombang

Saya mengklasifikasikan tahapan budidaya rumput laut masyarakat Nusa Penida dalam 5 kegiatan utama, yaitu (1) persiapan bibit, (2) persiapan lahan, (3) penanaman, (4) pemanenan dan (5) penjemuran. Persiapan bibit meliputi kegiatan mengikati satu persatu rumput laut pada tali-tali kecil yang terdapat di sepanjang tali ris. Persiapan lahan meliputi kegiatan memasang serta memperbaiki patok-patok di laut yang akan digunakan untuk mengikat tali ris. Penanaman yaitu kegiatan memasang tali ris yang sudah berisikan bibit rumput laut ke patok-patok. Pemanenan yaitu melepas ikatan dan mengangkut tali ris beserta rumput laut yang telah tumbuh besar ke daratan. Sedangkan penjemuran adalah kegiatan mengeringkan rumput laut yang telah dipanen di bawah sinar matahari, untuk kemudian menjualnya.

Setidaknya tiga dari lima pekerjaan tersebut (persiapan bibit, penanaman dan pemanenan) adalah pekerjaan yang membutuhkan peranan wanita lebih besar dibanding yang lainnya. Persiapan bibit dimulai sejak pagi hingga lepas siang. Berpuluh-puluh kilo rumput laut dirangkai di sepanjang tali ris oleh ibu-ibu rumah tangga ini dalam sehari. Jika air mulai surut mereka segera turun ke laut untuk melakukan pemanenan. Para suami membantu mengangkut rumput laut yang telah dipanen ke darat, sambil mengurus rumput laut yang telah dijemur dan mempersiapkan kayu-kayu akan yang digunakan untuk mengganti patok yang mulai rusak. Setelah rumput laut yang lama selesai di panen, penanaman rumput laut yang baru pun dimulai. Bibit rumput laut diangkut oleh para suami ke lahan. Sang istri masih tidak beranjak dari rendaman air garam. Satu persatu tali ris diikatkan ke patok oleh para istri, sedang para suami beraksi dengan kayu dan palu, memperbaiki patok-patok yang tidak lagi kokoh.

Sabtu, 8 Juni yang lalu saya berkesempatan untuk “memakai sepatu” ibu-ibu petani rumput laut ini: mempersiapkan bibit, memanen dan menanam rumput laut. Setelah tangan mulai keriput akibat mengikati rumput laut sejak pagi, pukul 2 siang saya dan Ibu Luh Padmi turun ke pantai untuk memanen. Ibu berjalan duluan, terlihat badannya tergoyang-goyang oleh ombak yang masih menghempas kencang. Saya berenang mengikuti ibu, dengan alat dasar selam lengkap (fins, masker dan snorkel). Tidak ada masalah yang berarti. Petak rumput laut ibu berada di bagian yang lebih dalam, lebih menjauhi pantai. Dan ombak di Nusa Penida ini tidak hanya pecah di pantai, tapi juga di tengah. Dengan perpaduan angin yang kencang, lengkaplah permasalahan yang menimpa saya ketika mulai menegakkan badan. Selamat membantu ibu memanen rumput laut, menghadang gelombang dan berdamai dengan arus laut yang dahsyat ini ya Ria!

IMG_2399

Ibu Luh Padmi, bersiap menyelam… (Lihat ombaknya!)

Inti dari pemanenan sebetulnya adalah melepas satu persatu tali ris, kemudian menggulung dan meletakkannya ke atas sebuah ban dalam yang telah digembungkan dan diikatkan pada patok di dasar laut. Namun jangan bayangkan kegiatan memanen rumput laut sesederhana menceburkan diri dan menggulung-gulung tali. Beratnya tali dan rumput laut yang harus diangkat dan kerasnya ombak yang terus menyiksa keseimbangan adalah 2 perkara yang membuat saya harus mengakui kekuatan perempuan di hadapan saya ini. Ia yang menyelam hanya dengan bermodal masker dan sandal jepit.

Berulang kali saya mencoba membantu membuka ikatan tali yang ujungnya sudah ibu lepas terlebih dahulu. Menyelam sambil berpegangan kuat pada patok kayu. Terus berusaha di tengah ombak yang menghantam bertubi-tubi. Dan selalu kehabisan nafas sebelum ikatan sempat terbuka. Saya gagal. Mungkin hanya 2 atau 3 tali ris saja yang berhasil saya buka ikatannya sepanjang sore itu. Itu pun tetap ibu yang harus menggulungnya, karena keseimbangan tubuh saya yang masih tidak akrab dengan ombak Nusa Penida. Sertifikat selam pun rasanya tidak berarti apa-apa di hadapan para wanita penantang gelombang ini.

IMG_2386

Menyelam dan melepas satu persatu ikatan tali ris di tengah arus yang kencang…

IMG_2389

Berdamai dengan ombak pun rasanya sulit sekali, apalagi harus mengangkat gulungan tali berisikan rumput laut yang luar biasa berat ini…

Akhirnya saya menyerah, hanya membantu ibu memunguti rumput laut yang rontok dan mengumpulkannya ke dalam keranjang. Betapa busuk batang benar-benar mewabah di lahan rumput laut ibu. Begitu banyak rumput laut yang rontok akibat busuk batang, hingga saat ibu sudah mulai melakukan penanaman, saya masih harus memunguti rumput laut yang tersangkut di jaring yang mengelilingi lahan.

Maka mari kita bayangkan jika cuaca ekstrim selalu terjadi dan busuk batang selalu menyerang. Jika panen dini adalah satu-satunya langkah terakhir, maka pekerjaan ini – mengikat, memanen, menanam – harus selalu dilakukan oleh ibu-ibu di Nusa Penida. Tidak ada pilihan lain. Setiap hari mereka harus bergumul dengan garam. Mengikati rumput laut hingga tangan keriput. Berjam-jam berjuang di bawah terik matahari. Menghadang kerasnya gelombang. Pagi hingga petang, 7 hari dalam seminggu. Karena hidup harus terus berjalan. Dan ternyata hidup memang membutuhkan perjuangan…

IMG_2405

Life is tough dude!

Keesokan harinya saya positif masuk angin. Rencana menyelam di Crystal Bay atau Padang Bai pun gagal. Untungnya kemarin setelah membantu ibu memanen saya sempat skin diving di dekat petak rumput laut kami. Sebetulnya masih ingin membantu menanam, tapi ibu melarang karena melihat saya yang kerap tersedak setiap kali berusaha mengikatkan tali. Akhirnya sore itu saya habiskan dengan hunting foto! 🙂

IMG_2421

Sore di Pantai Desa Ped…

IMG_2495

Bapak 🙂

IMG_2494

Triggerfish sedang asik bermain di lahan rumput laut… Jangan gigit kaki ibu ya!

IMG_2456

Kehidupan bawah laut di beberapa meter setalah petak rumput laut kami…

IMG_2463

Banyak table coral besar-besarr…

IMG_2464

Moorish idol dimana-mana

IMG_2472

Woy spongeboob!! Nih Patrick ngumpet di sini nihh….

IMG_2544

Aktivitas di malam hari: ngerumpi sambil memperbaiki tali ris

IMG_2357

Ibu Luh Padmi 🙂

Minggu, 9 Juni 2013 pukul 13, saya kembali ke Kuta. Ibu Luh Padmi memberikan saya banyak bekal camilan dan minuman untuk di perjalanan. Bli Wayan, Luh Padmi dan Kadek mengantar saya hingga ke Pelabuhan Toyapakeh. Rasa haru kembali menyeruak ketika kapal yang saya tumpangi mulai beranjak meninggalkan Nusa Penida. Seperti anak yang pergi merantau, suatu hari saya pasti akan kembali lagi ke pulau ini :’)

IMG_2589

Meninggalkan Nusa Penida…

Di Sanur, saya dijemput oleh Kadek, adik Bli Wayan yang sedang meneruskan kuliah di sekolah pariwisata dekat Pantai Sanur. Kadek mengantar saya hingga ke Kuta, persinggahan terakhir sebelum akhirnya kembali ke Bogor besok pagi. Di Kuta saya disambut oleh Maman, Meyfel dan Steve, 3 orang sahabat yang paling berjasa, yang di tengah-tengah kesibukan divingnya masih bisa menemani saya hunting ikan bakar, mengajari main Paranto, dan membuat malam terakhir di Bali menjadi penuh warna. Merah, kuning, hijau kan? 🙂

IMG_2644

Let me introduce you My Handsome Brothers: Redtoothed, Nemo, and Sharky

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , , | 6 Comments

USAT Liberty: The voyage of broken ship

When you’re traveling alone, you’ll realize that in the end, no matter how hard life treats you, you’re the one who should decide whether you’re going to be happy or not, whether your journey will be fun or boring, and whether you will remain alone or meet lots of new friend along your journey. Indeed, friendship is treasure, traveling is a cure and happiness is a choice. – Ria, 2013

Bali, 5-10 Juni 2013

Berangkat sendiri dari Bogor, menuju Kuta, tempat dimana seorang sahabat tinggal dan berkarir di sana. Berkarir? Hmm…mungkin dia tidak begitu menyukai kata ini.

Namanya Maman, teman yang saya kenal di Palembang akhir 2010 ketika sedang jadi Spiderman, menjual kemampuan Single Rope Technique kami untuk membersihkan Gedung Pajak di sebelah Kambang Iwak. Setelah berkarir sebagai climber, kemudian caver, paraglider dan canyoneer (bener ga sih istilahnya?), saat ini status resminya di Bali adalah seorang diver. Hampir semua dive spot di pesisir Island of God ini telah diselaminya. Dan hingga kedepannya, dia adalah salah satu orang yang paling berjasa dalam memberi support dan advise terhadap penyelaman-penyelaman yang akan saya lakukan, selain Kak Efin yang tentunya juga sangat berjasa karena telah meminjami saya underwater kamera dan membuat saya percaya bahwa perjalanan ini pasti bisa dilakukan.

I’m really thankful that God gave me such wonderful friends like you both! *terharu :’)

Checkpoint 1: Krobokan, Kuta Utara, Badung, Bali

Tiba di Bali, tepatnya di kos-kosan Maman di Kuta Utara. Yap, this place’s gonna be my temporarily home during this trip. Hal pertama yang saya lakukan setelah meletakkan pantat di tempat ini adalah “menyusun itinerary”. Bodoh bukan? Traveler macam apa yang menyusun itinerary setelah tiba di lokasi. Setelah berdiskusi dengan Maman, membolak-balik peta, dan mengira-ngira, maka inilah jadwal perjalanan saya selama 6 – 10 Juni 2013 di Bali:

Kamis, 6 Juni 2013:

Pagi – Siang : Berangkat ke Tulamben, naik motor lewat jalur pantai Timur Bali.

Siang – Sore : Istirahat dan prepare untuk penyelaman pagi esok harinya.

Jumat, 7 Juni 2013:

Pagi – Siang : Diving di 2 spot di Tulamben

Siang – Sore : Kembali ke Kuta

Sabtu, 8 Juni 2013:

Pagi : Berangkat ke Nusa Penida via Sanur

Minggu, 9 Juni 2013:

Plan A. Pagi: Diving di Crystal Bay – Sore: Kembali ke Kuta via Sanur

Plan B. Pagi: Nyebrang ke Bali via Padang Bay, diving di Padang Bay, kembali ke Kuta naik bus sampai terminal Ubung.

Senin, 10 Juni 2013:

Pagi: kembali ke Bogor, flight jam 9.

Setelah menyusun itinerary, giliran teknologi yang bekerja. Dengan GPS amatir di Blackberry 9800, saya marking tempat ini sebagai checkpoint 1 dan Tulamben sebagai checkpoint 2. Klik Get Direction, lalu muncul informasi: Distance: 60,6 miles; Estimated time: 1 hour 38 minutes. Estimasi waktu tempuh GPS ini setidaknya 2 kali lebih cepat dari dunia nyata, karena belum memperhitungkan kemacetan yang mungkin terjadi, lampu merah, istirahat dan sebagainya. Jadi perkiraan waktu tempuh saya dari Kuta ke Tulamben kira-kira 3 jam, melalui rute pantai timur Pulau Bali.

Hari Kamis pagi, berangkat dari Kuta menuju Tulamben dengan motor pinjaman (pinjam ke Maman, siapa lagi? Thanks Man! Your reward will be f*ckin huge in heaven! :-)). Karena malas membuka-buka GPS, akhirnya saya mengikuti arahan yang diberi oleh Maman: ‘dari By Pass lurus aja, ikutin arah ke Singaraja’. Oke, tanpa ragu-ragu saya mulai menarik gas motor mio biru ini menyusuri Sunset Road, By Pass Ngurah Rai, Jalan Gatot Subroto, dan… Apaa? Kenapa ke Kuta lagi?!

Singkat kata akhirnya saya menyadari hanya berputar-putar di kawasan yang sama. Berbelok ke arah Singaraja melalui Ubung, dan kemudian melenceng dari jalur yang digambarkan dalam GPS. Kalau mengikuti jalan ini artinya untuk mencapai Tulamben kita akan melewati jalur tengah, memotong Pulau Bali jadi dua, kemudian di Utara sana belok ke timur menuju Kubu. Dan jalur tengah ini akan melewati banyak perbukitan, lewat bedugul, jauh lebih panjang dibanding jalur Timur dan tentunya saya tidak tega pada si mio biru. Akhirnya saya putar balik, dengan patuh mengikuti arahan GPS ke Jalan Prof. IB Mantra, menuju Amlapura, lewat Padang Bai dan Candidasa, hingga akhirnya tiba di Jalan Kubu – Abang, dimana Desa Tulamben berada. Total waktu perjalanan 5 jam. Termasuk nyasar, makan bakso di jalan, foto-foto pemandangan dan berpuluh-puluh kali berhenti untuk mengecek GPS.

Image

Lonely Rider

Image

Setelah sekian lama, akhirnya sign yang bertuliskan “Tulamben” muncul juga… (Amlapura, Bali)

Image

Banyak hal yang membuat perjalanan ini lebih dari sekedar “menuju Tulamben”. Perjalanan bermotor dari Kuta ke Tulamben adalah perjalanan menyusuri Pulau Bali dari Selatan ke Utara, jadi jangan sia-siakan apa yang ada di antaranya 🙂

Image

Gapura “Selamat Datang di Tulamben”. Tiba di gapura ini, saya merasa seperti bertemu pacar yang sudah long distance selama bertahun-tahun :’) *terharu*

Checkpoint 2: Matahari Tulamben Dive Resort

Resort ini berada tepat di pinggir Jalan Raya Kubu Abang, tidak sulit mencarinya. Memperoleh Traveller’s Choice Award dari Tripadvisor, resort ini nyaris tidak pernah sepi pengunjung. Saya mendapatkan kamar terakhir ketika pagi tadi menelpon Ibu Suci, pemilik resort, untuk booking. Harga kamar yang saya tempati adalah Rp.200.000 per malam, dengan fasilitas twin bed, hot shower, beranda pribadi, free wi-fi dan breakfast. Fasilitas resortnya juga tidak sembarangan. Ada spa, kolam renang, restoran di pinggir pantai, serta kursi malas dan hammock yang bertebaran di taman-tamannya yang rindang.

Image

Matahari Tulamben Dive Resort, tepat di pinggir Jalan Raya Kubu – Abang.

Gerbang yang akan menuntun kita ke kamar-kamar yang berjejer di sepanjang  taman...

Gerbang yang akan menuntun kita ke kamar-kamar yang berjejer di sepanjang taman…

IMG_2013

Spot yang pas banget buat begadang ngopi sambil main Paranto! (lirik Maman, Meyfel, Steve)

IMG_2009

atau sekedar bengong di atas hammock, ngayal dan ketiduran…

IMG_2038

Spot favorit buat yang lagi surface interval, apalagi yang kena mabok laut…

IMG_2006

Buat yang mau berjemur di pinggir pantai, halaman samping dive center ini juga oke punya…

Begitu tiba di resort, saya langsung disambut oleh staf-stafnya yang ramah. Setelah check-in mereka segera mengantar saya ke kamar untuk menyimpan barang, kemudian saya di bawa ke resto untuk menikmati welcome drink sambil merasakan sejuknya udara pantai Tulamben. Dive center berada tidak jauh dari resto. Saya langsung menuju ke sana, berkenalan dengan guide-guidenya sekaligus menanyakan paket-paket diving yang mereka sediakan. Pilihan saya jatuh pada paket 2 kali diving, di USAT Liberty Wreck dan Drop-off, dengan biaya total sekitar Rp.600.000, sudah termasuk alat, guide, porter serta pajak menyelam dari desa dan pemerintah.

Image

View dari resto tempat saya menikmati welcome drink pertama kali, dan hingga keesokan harinya menjadi pusat aktivitas saya selama di resort ini.

Jumat, 7 Juni 2013, jam 6 pagi saya sudah stand by di dive center. Setting alat selam sambil iseng-iseng foto sunrise dari pinggir pantai. Terlihat di sana-sini early diver lainnya juga sedang siap-siap, karena konon katanya, sekitar jam 7 pagi di Liberty Wreck kita bisa bertemu rombongan Bumphead Parrotfish yang panjang badan setiap ikannya lebih dari 1 meter. Selain itu, biasanya semakin siang dive spot ini akan semakin ramai oleh rombongan penyelam dari berbagai tempat di Pulau Bali.

IMG_2049

Sunrise of Tulamben

Starting point penyelaman Liberty wreck sekitar 200 meter di sebelah utara Matahari Resort, itu kenapa kita disarankan untuk menggunakan open heel fins dengan booties jika menyelam di sini. Karena pasti pusing jika pakai full foot fins dan jalan mundur sejauh 200 meter, hehe… Semua peralatan akan dibawa oleh porter, yang sebagian besar adalah ibu-ibu rumah tangga yang luar biasa kuatnya. Tidak tanggung-tanggung, dua set alat selam mereka panggul sekaligus di atas kepala. Rasakan dilema yang akan menerpa kita ketika melihat pemandangan ini.

Kami – saya, Pak Wiliam dan Bli Suwana – mulai beach entry pukul 6.45. Perlahan-lahan berenang dari pantai berbatu ke arah laut, hingga akhirnya saya menyaksikan sesosok bayangan raksasa menjulang dari kedalaman. USAT Liberty Ship Wreck! Jantung saya mulai berdebar-debar kencang.

IMG_2052

Bayangan USAT Liberty yang kami lihat pertama kali…

Tubuh Liberty kami jelajahi mulai dari reruntuhan di sisi kanan. Saya langsung membayangkan bagaimana dahsyatnya letusan Gunung Agung di tahun 1963 yang menyebabkan kapal ini terdorong dari pantai hingga ke dasar laut. Kini, setengah abad dari kejadian tersebut, Liberty telah membawa keajaiban bagi banyak makhluk hidup di Tulamben. Semua bagian dan puing-puing kapal telah ditumbuhi oleh beraneka jenis karang, hydroid dan tumbuhan laut lainnya. Begitu melimpahnya nutrisi di sekitar wreck ini, hingga berjuta-juta ikan serta binatang laut hidup di sini dan menjadi daya tarik para penyelam. Dimana ada wisatawan, di situ uang berputar. Masyarakat Desa Tulamben pun pada akhirnya ikut menikmati berkah yang dibawa oleh reruntuhan Liberty.

IMG_2054

Reruntuhan USAT Liberty yang menjadi sumber kehidupan…

IMG_2059

Bumphead Parrotfish Schooling akhirnya kami temui juga pagi itu…

IMG_2078

Spooky tapi penasaran… USAT Liberty betul-betul seperti magnet yang membuat kita ingin terus memasukinya lebih jauh…lebih dalam…

IMG_2120

Clownfish and the anemone of USAT Liberty Wreck

IMG_2096

Penyu juga seneng main di wreck lho…

IMG_2103

Garden Eel yang selalu mengajak kita untuk berjoget bersama….

Setelah menyelam selama 60 menit di kedalaman 20 meter, akhirnya kami kembali ke permukaan. Istirahat di resort dan menikmati sarapan yang lezat. Pukul 10, saya dan Bli Suwana akan melanjutkan penyelaman di Tulamben Wall, alias Drop-off. Awalnya saya disarankan untuk menyelam di Coral Garden, tepat di depan Matahari resort. Namun berbagai macam taman terumbu karang sudah pernah saya selami sebelumnya di Pulau Seribu, Raja Ampat atau Karimun Jawa, sehingga saya memilih drop-off diving kali ini. Lagipula, Drop-off menawarkan apa yang telah lama saya cari-cari: Pygmy Seahorse.

IMG_2135

Surface interval. Santai dulu…

IMG_2134

Menu sarapan gratis yang saya pilih di resort: Scrumbled eggs, lemon juice, hot tea 🙂

IMG_2138

Me and My Buddy, Bli Suwana

Dari resort, kami – saya dan Bli Suwana – berjalan 200 meter ke arah selatan untuk mencapai starting point penyelaman di Drop-off. Terlihat banyak bule yang juga mulai beach entry di dive spot ini. Dari pantai, kami langsung berenang menuju wall yang berada di sekitar 50 meter dari starting point. Saya memperhatikan jarum deep gauge yang terus bergerak ke arah kanan, hingga akhirnya pada kedalaman 23 meter Bli Suwana berhenti di sebuah seafan berwarna kuning, lalu memberi sinyal dengan jari telunjuknya. Astaga! Pygmy!!

Saya mendekat, mencari-cari dimana si mungil itu berada. Bli Suwana menunjuk satu celah dengan tongkatnya. Akhirnya saya melihat sesosok makhluk yang sangat kecil, sewarna dengan seafan tempatnya berada. Hippocampus denise.

Berulang kali saya mencoba mengambil gambar dengan kamera G12 pinjaman yang baru kali ini saya pakai, ternyata memang susah sekali menangkap gambar Pygmy Seahorse ini. Seketika saya merasa salut dengan para underwater fotografer yang telah menghasilkan foto-foto Pygmy Seahorse dan mempublikasikannya di majalah-majalah selam. Bayangkan, kita harus mencari makhluk sekecil itu di antara celah-celah seafan yang sewarna dengan tubuhnya, mengontrol buoyancy, arah kamera, sudut gambar dan pencahayaan. Benar-benar membutuhkan kerjasama otot tangan, mata, otak dan kamera yang luar biasa. Akhirnya saya menyerah, merekam denise dalam benak dan kenangan saja.

IMG_2203

Walaupun tidak mendapatkan foto denise, setidaknya saya sempat bertemu dan mengambil foto Jackfish Schooling ini 🙂

IMG_2183

Beautiful Kima, isn’t it?

IMG_2178

Taraaa…!! My favorite pics of the day! Hairy Yellow Hermit Crab 🙂

IMG_2173

Ada banyak dan bermacam-macam jenis Lionfish juga lho di Drop-off spot Tulamben ini…

IMG_2261

Jackpot paling spesial dan paling surprise di penyelaman ini: Si Cantik Harlequin Shrimp 🙂

IMG_2235

Ini dia stonefish yang membuat saya hampir digigit Morray Eel…

IMG_2229

Beautiful Morray Eel

IMG_2227

Ini pemandangan yang akan kita lihat ketika safety stop setelah menyelam di Drop-off Tulamben…

IMG_2206

Maman’s brother… Redtoothed Triggerfish

Banyak hal seru terjadi selama penyelaman di USAT Liberty dan Drop-off. Salah satunya ketika tangan saya nyaris digigit moray eel yang muncul tiba-tiba dari celah bebatuan di samping stonefish yang sedang saya foto. Untung saja saya cepat menangkap pergerakan belut kecil ini dan segera menarik tangan jauh-jauh, kalau tidak, mungkin saya akan pulang dengan tangan kanan menarik gas motor sambil menahan perih akibat digigit moray eel, selama 3 jam.

Hal seru lainnya adalah ketika kami menemukan Harlequin Shrimp di bawah bebatuan tempat kami melakukan safety stop. Sungguh tidak menyangka akan dapat bertemu dengan makhluk langka nan cantik itu di sini. Tulamben memang benar-benar jauh melampaui ekspektasi saya terhadap sebuah situs penyelaman di Pulau Bali. Dan sekali lagi, berkat USAT Liberty, Drop-off menjadi Drop-off dan Coral Garden menjadi Coral Garden. Siapa yang akan mencari tahu apa yang ada di dua dive spot tersebut jika USAT Liberty tidak karam dan memancing banyak wisatawan untuk menyelam di Tulamben?

Sebelum pulang, mari bersantai dulu, sambil ngilangin mabok laut...

Sebelum pulang, mari bersantai dulu, sambil ngilangin mabok laut…

Perjalanan pulang ke Kuta...nyasar ke Amlapura.

Perjalanan pulang ke Kuta…nyasar ke Amlapura.

Jangan lupa, hunting foto pemandangan lagi yaa....

Salah satu shelter di sepanjang perjalanan menuju Denpasar punya pemandangan ini… Dua bukit yang membingkai lautan dan awan di ujung sana…

Nggak pake mogok nggak seru dong... Si Mio Biru pun akhirnya minta istirahat, tambal ban.

Nggak pake mogok nggak seru dong… Si Mio Biru pun akhirnya minta istirahat, tambal ban.

Traveling Rule No.1. Nggak boleh capek... Pulang dari Tulamben saya and the geng langsung nongkrong di warung kopi, main Paranto sampai pagi. Dan besoknya, saya ke Nusa Penida, dan tebak mereka ngapain...? DIVING

Traveling Rule No.1. Nggak boleh capek… Pulang dari Tulamben saya and the geng langsung nongkrong di warung kopi, main Paranto sampai pagi. Keesokan harinya saya melanjutkan perjalanan ke Nusa Penida. Lalu tebak mereka ngapain…? ……..DIVING!

Checkpoint 3: Nusa Penida… (to be continued)

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , , | 1 Comment

Open Water Scuba Diving Certification: Latihan Perairan Terbuka

Me and My Buddy - Dewo

Alohaa… Setelah sekian lama meninggalkan topik ini, kini saya kembali lagi dengan “Tahapan dalam Sertifikasi Selam”. Kali ini saya akan bercerita mengenai LPT (Latihan Perairan Terbuka), momen paling seru, dan merupakan tahapan terakhir dari semua latihan yang telah dilakukan di perairan tertutup atau kolam. Jadi, setelah kita melalui LPT maka dengan resmi kita telah naik kelas: dari ‘penyelam kolam’ jadi ‘penyelam perairan terbuka’, alias Open Water Scuba Diver.
Saya dan teman-teman seangkatan sertifikasi yang berjumlah 20 orang, menjalani LPT pada 27-30 Desember 2012 yang lalu di Kepulauan Seribu. Hanya dengan membayar 2,5 juta saja, dive course kami sudah memberikan fasilitas PAP, LKK dan paket menginap 4 hari 3 malam di Pulau Pramuka, lengkap dengan 5 kali penyelaman di Pulau Pramuka+Pulau Panggang+Pulau Sekati+Pulau Air, transport Bogor-Pulau Seribu-Bogor, transport muter-muter Pulau Seribu, 3 kali makan/hari, villa ber-AC, barbeque, mentor-mentor lucu, dan semua kebahagiaan yang bisa kalian bayangkan dalam sebuah perjalanan sertifikasi penyelaman 🙂

Chibi-Buddies

Chibi-Buddies: muter-muter Pulau Air

Kami tiba hari Kamis siang (27/12). Setelah beres-beres, makan siang dan briefing, seperti biasa, sebelum latihan kami melakukan pemanasan. Stretching dan dilanjutkan dengan berenang sejauh 200 meter dan apnea 15 meter. Dimana lagi kalo bukan ..…. Yak, benar sekali! Di LAUT!
Akhir Desember, pukul 2 siang di Pulau Pramuka. Ketika matahari sedang terik-teriknya, ombak mulai tidak bersahabat, dan ubur-ubur merah jambu yang lucu mulai menepi, kami berenang dan apnea di kedalaman 3-5 meter. Berjibaku menghindari tentakel biadab si merah jambu yang tetap saja berhasil menyengat bagian-bagian vital di wajah dan tubuh kita yang terbuka. Siapa yang terkena di bibir dialah yang paling beruntung, mendapatkan bibir Angelina Jolie sepanjang hari.
Sebagai “anak gunung”, ini adalah kali pertama saya berenang di laut tanpa menggunakan masker, snorkel ataupun kaki katak. Karena percaya bahwa takdir tubuh kita memiliki masa jenis yang lebih ringan daripada air laut, maka saya tidak pikir panjang dan segera loncat indah dengan giant stride style dari pinggir dermaga. Aman? Jelaaas. Jelas panik karena ombak mengayun-ngayun dengan dahsyat. ‘Trappen aja susah bener, apalagi berenang 200 meter’ pikir saya waktu itu.
Akhirnya kami berenang dari dermaga satu ke dermaga dua, nggak nyampe 200 meter sih, tapi kembali ke dermaga satu harus dengan apnea. Dan tidak ada yang berhasil! Yang paling sukses, apnea cuma sejauh 10 meter. Sebenarnya maksud dari itu semua utamanya agar mata kita terbiasa dengan “pedasnya” air laut dan yang paling penting, tidak panik ketika berada di laut tanpa alat bantu apapun. Selain pembiasaan diri, kami juga latihan skin diving di kedalaman 5 meter. Mulai dari fins swimming, tuck dive, tuck dive sambil ngambil pasir, tuck dive sambil mask clearing di dasar, dan keselek waktu menuju ke permukaan…

 

 

Scuba Diving di Pulau Seribu

Part-time job: kuli angkut...

Part-time job: kuli angkut alat selam…

Penyelaman pertama, sore hari di hari pertama. Di depan dermaga, kedalaman 5-8 meter. Latihan buoyancy: netral duduk, netral kolom (hovering), netral 45 (pivoting) dan netral 90 derajat kepala di bawah. And guess what? We did it on a slope of 45 degrees. Apakah kamu berhasil Ria? Tentu saja! Kram waktu netral duduk dan berantakan waktu netral 45, tapi saya selalu suka dengan netral 90 derajat. Netral 90 derajat membuat saya merasa seperti superman yang sedang terbang menuju ke bumi. Saking sukanya, di penyelaman kedua ketika stok oksigen dalam tabung sudah menipis, pada praktek 90 derajat saya tidak bisa balik ke posisi horizontal, melainkan melambung dengan sukses hingga ke permukaan dari kedalaman 7 meter. Seketika tragedi ini menjadi hot issue yang dibahas dengan seru di forum evaluasi malam harinya. Oh ya, setiap sehabis makan malam, kami – seluruh mentor dan peserta – berkumpul bersama untuk sharing pengalaman, masalah ataupun kesulitan yang berhubungan dengan teknik-teknik penyelaman. Superman style-ku yang gagal juga tentunya dibahas di forum ini.
Setelah dua kali menyelam di Pulau Pramuka, penyelaman ketiga kami lakukan di selatan Pulau Panggang. Ikan dan terumbu karang di sana lebih baik kondisinya dibanding dengan Pulau Pramuka. Dan yang paling penting dari semuanya adalah, ubur-uburnya tidak sebanyak di Pulau Pramuka. Teman-teman yang kadung dendam, pun telah siap perang – nyebur dengan seluruh muka dan tangan diolesi odol – dan akhirnya keki, karena kita yang males belepotan pakai odol juga nggak diserang ubur-ubur, hehehe… Pada penyelaman ketiga inilah kami akhirnya bisa menikmati scuba diving yang sesungguhnya. Di sini kami baru menyadari, bahwa kenyamanan dalam scuba diving itu memang sangat bergantung dari kemampuan kita mengontrol buoyancy. Meskipun dikelilingi oleh pemandangan laut yang luar biasa, jika kita masih kerepotan sendiri dengan alat, atau badan yang miring ke kanan dan ke kiri, niscaya sia-sialah scuba diving kita.
Penyelaman keempat di Pulau Sekati. Jangan tanya bagaimana indahnya. Ahh…. Rasanya seperti masuk ke dunia lain. Di hadapan kita muncul slideshow dunia yang baru, dunia yang tak banyak bicara, dunia yang menyapa lewat seribu bahasa, dunia yang penuh warna… Foto-foto narsis dengan teman-teman jangan sampai kelewatan. Karena sudah mulai lancar menyelam, kami bisa bebas jelajah kesana kemari. Sampai lupa arah pulang ke kapal. Untungnya di setiap kelompok penyelaman (terdiri dari 3 orang) ada satu mentor yang sekaligus menjadi leader penyelaman. Namun, apakah mereka akan diam saja melihat dua buddy-nya yang terserang euphoria baru-bisa-nyelem mengalami disorientasi begini? Tentu tidak. Maka, inilah hot issue evaluasi di malam berikutnya: “orientasi bawah air”. Karena di dasar laut nggak ada petunjuk jalan ataupun tukang bajaj yang bisa nganter kita pulang.
Pulau Air menjadi titik penyelaman terakhir kami di Pulau Seribu di penghujung tahun 2012 yang lalu. Jujur saja, sebelum perjalanan ini, saya tidak pernah mencari tau “ada apakah di Pulau Air-nya Pulau Seribu?”, hingga akhirnya menyelam dan ‘mabuk kepayang’ di menit pertama setelah menceburkan diri di perairannya. Saya menyebutnya “taman soft-coral”, karena soft-coral yang begitu banyak di sana. Melihatnya menari-nari mengikuti arus air, ditemani oleh ribuan ikan bermain di sana-sini, memang sebuah kombinasi yang memabukkan di Pulau Air. Dan jangan lewatkan jackpot spesial dari pulau ini… Laguna, atau entahlah apa namanya. Semacam sungai hijau toska, membelah pulau yang indahnya luar biasa. Pemandangannya benar-benar mengobati punggung yang pegal akibat menyelam seharian… 🙂

Muter-muter di Pulau Air

Muter-muter di Pulau Air

Anemon dan Ikan Badut

Anemon dan Ikan Badut (Pulau Seribu, 28-29 Desember 2012)

Soft-coral juga

Soft-coral (Pulau Seribu, 28-29 Desember 2013)

Nudibranch

Nudibranch (Pulau Seribu, 28-29 Desember 2013)

Bintang Laut Mahkota Duri - Acanthaster planci

Bintang Laut Mahkota Duri – Acanthaster planci (Pulau Seribu, 28-29 Desember 2013)

Ria....nyelem kok bawa-bawa bantal! #bintanglautbantal alias Culcita nouvaeguineae

Ria….nyelem kok bawa-bawa bantal! Eh, bintang laut bantal (Culcita nouvaeguineae)

Bintang Laut Biru (Pulau Seribu 28-29 Desember 2013)

Bintang Laut Biru (Pulau Seribu 28-29 Desember 2013)

Wajah Puaass!

Wajah Puaass!

Tuck Dive di Pulau Sekati

Skin Diving di Pulau Sekati

Langit mendung tak jadi penghalang...

Langit mendung tak jadi penghalang…

Klik di sini untuk semua yang pengen kamu tahu tentang sertifikasi 🙂

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , | 6 Comments

Karimunjawa: Misteri Kerajaan Terumbu Karang di Utara Jawa

Branching Coral  and Cardinal Fish

Branching Coral and Cardinal Fish (Karimunjawa, 23 Desember 2012)

Indonesia, mulai dari Sabang di sebelah Barat hingga Bird’s Head Seascape di sebelah Timur, merupakan surga bagi berjuta keanekaragaman hayati laut. Hal ini menjadikannya sebagai destinasi selam yang paling kaya dan paling beragam ketimbang negara lainnya. Di hampir seluruh pulau besar di Indonesia kita bisa menemukan berbagai lokasi penyelaman dengan pesona alam bawah laut yang khas dan berbeda satu sama lain. Tidak terkecuali Pulau Jawa, pulau dengan kepadatan penduduk tertinggi di dunia.

Sebut saja Krakatau, Pulau Seribu dan Karimunjawa, tiga lokasi penyelaman favorit yang relatif murah dan mudah dijangkau dari berbagai kota di Pulau Jawa. Petualangan bawah laut yang ditawarkan oleh ketiga spot tersebut juga tidak kalah seru dibanding dengan lokasi penyelaman yang harus dijangkau dengan modal jutaan rupiah dari Jakarta. Krakatau, dengan gunung api yang menjulang dari bawah laut tentu akan memberikan sensasi yang luar biasa bagi para penggila tantangan. Pulau Seribu, dengan kemudahan akses dan tingginya arus pariwisata yang dialaminya, ia masih terus memberikan kejutan-kejutan di setiap kali penyelaman, apalagi pada penyelaman malam. Dan Karimunjawa, daerah perlindungan dengan kerajaan bawah lautnya yang misterius.

Rabbitfish Schooling (Karimunjawa, 23 Desember 2012)

Saya menyebutnya “The Kingdom of Coral Reefs”, kerajaan terumbu karang. Kenapa misteri? Karena saya benar-benar tidak menyangka, bahwa terlepas dari tekanan populasi yang dialami oleh Pulau Jawa, di jarak 45 mil sebelah utaranya masih terdapat sebuah kawasan dengan ekosistem terumbu karang begitu sehat dan padat. Perasaan haru menyeruak dari dalam diri saya ketika pertama kali menceburkan diri ke perairan di sekitar daerah konservasi Taman Nasional Karimun Jawa ini.  Keanekaragaman hayati dan keindahan alam bawah lautnya bukan hanya memanjakan mata, namun juga memberi kedamaian bagi jiwa-jiwa yang lelah pada hingar-bingar kehidupan kota.

Acropora Branching (Karimun Jawa, 23 Desember 2012)

Acropora Branching (Karimunjawa, 23 Desember 2012)

Acropora Tabulate (Karimunjawa, 23 Desember 2013)

Complete team: branching, tabulate, fire coral, blue coral, massive coral (Karimunjawa, 7 April 2012)

Selain karang, Karimunjawa juga sering memberikan jackpot spesial bagi para penyelam. Kita bisa bertemu dengan para penghuni kerajaannya, mulai dari makhluk-makhluk kecil lucu, yang cantik namun mengancam, hingga yang membuat kita bernafsu untuk merebusnya 😛

Anemon, Nemo dan teman-temannya (Karimunjawa, 15 Desember 2012)

Nudibranch 1 (Karimunjawa, 23 Desember 2012)

Nudibranch 2 (Karimunjawa, 23 Desember 2012)

Nudibranch 3 (Karimunjawa, 23 Desember 2012)

Squidward The Octopus (Karimunjawa, 23 Desember 2012)

Blue-spotted Stingray (Karimunjawa, 7 April 2012)

Nah…ini dia yang paling yummy: Rajungan! (Karimunjawa, 23 Desember 2012)

Bagi yang menginginkan petualangan yang lebih menantang, saya sarankan untuk mencoba menyelam di lokasi yang satu ini. Berada di sekitar Desa Kemujan, Indonoor Wreck – sebuah bangkai kapal pengangkut batubara yang karam di kedalaman 15-18 meter semakin menambah daftar panjang misteri bawah laut Karimunjawa.

Selain indonoor wreck, masih ada 2 wreck lagi yang belum tereksplorasi di Karimunjawa. Konon katanya, belum ada yang berani untuk mendekati 2 wreck ini setelah kejadian hilangnya penyelam di sekitar wreck tersebut. Penyebabnya belum diketahui sampai sekarang. So, mungkin indonoor wreck ini saja yang bisa saya rekomendasi untuk wreck dive di Karimunjawa.

Selamat mengeksplorasi! 😉

Note:

Semua foto di atas adalah hasil jepretan Abang Efin Muttaqin @eponky

Untuk mengurangi rasa bersalah atas ‘promosi’ Karimunjawa ini, dan barangkali setelah baca postingan ini makin banyak orang yang mengunjungi Karimunjawa, maka saya mohon dengan amat sangat:

–  Please, be a wise diver. Mohon patuhi batas-batas konservasi yang berlaku di Taman Nasional Karimun Jawa. Dan jangan sentuh karang apalagi sampai merusaknya. Jangan buang sampah sembarangan. Sekeren-kerennya diver, bagi saya adalah diver yang menyelam sambil memungut sampah yang ditemuinya di dasar laut. Masih ingin anak-cucu kita melihat keindahan alam bawah laut ini kan?

Be a humble traveler. Orang Karimunjawa ini ramah-ramahnya luar biasa. Jadi jangan sampai kita lupa daratan. Mohon patuhi norma-norma dan adat istiadat yang berlaku di sana.

And the last, but not the least…. Narsis tiiimmmmeee…..!! 😛

“Kok acropora-nya warna biru ya?” (Karimunjawa, 7 April 2012)

“Hidup akan jauh lebih indah kalau kita nggak takut item!” (Gosong, 7 April 2012) — oh ya, walaupun modelnya juga gosong, tapi Gosong di sini merujuk pada pulaunya ya. Pulau pasir putih yang muncul di tengah laut di kala surut seperti ini disebut “gosong”, tempat paling pas buat bernarsis ria pasca diving 😉

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , | 6 Comments

Eksotisme Alam dan Budaya di Bumi Rempah-rempah, Jailolo

“Tulisan ini diikutkan dalam “Jailolo, I’m Coming!” Blog Contest yang diselenggarakan oleh  Wego Indonesia dan Festival Teluk Jailolo

Ini adalah kisah tentang suatu tempat di sebelah Barat Pulau Halmahera yang bernama Jailolo, The Spice Island. Ratusan tahun sebelum The Spice Girls mengguncang dunia oleh suara merdunya, Jailolo “The Spice Island” telah mengguncang dunia oleh kekayaan rempah-rempahnya. Sejarah penjajahan di Jailolo dimulai di abad ke-16, ketika harga satu kilo rempah-rempah sebanding dengan harga satu kilo emas. The Golden Tree, begitulah pohon rempah-rempah diibaratkan oleh bangsa-bangsa Eropa kala itu.

Kini Jailolo telah merdeka. Harga rempah-rempah tidak lagi sebombastis dahulu. Kekayaan alam dan budaya menjadi harta karun lain yang membuat Jailolo wajib dikunjungi oleh semua orang dari seluruh dunia. Berbicara tentang keindahan, dari dasar laut hingga puncak gunung, Jailolo memang juaranya.

Laut

Sebagai bagian dari Coral Triangle yang menyimpan 75% keanekaragaman karang dunia, lautan Jailolo merupakan surga bagi para scuba diver. Perairan yang jernih, gugusan terumbu karang berkontur wall dan slope, ribuan ikan serta makhluk laut lainnya seolah bersekutu menyajikan petualangan bawah air yang eksotis dan menggetarkan di sana. Di titik penyelaman tertentu kita bahkan bisa menemukan Electric Clam yang jarang ditemukan di tempat lain. Gambar yang langsung diambil dari videonya Mbak Prue ini adalah buktinya.

Electric Clam

Electric Clam alias Kerang Beraliran Listrik di Jailolo (https://www.youtube.com/watch?v=qOp3Kts_B9A)

Darat

Semakin jauh mengeksplorasi alam Jailolo, kita akan melihat bahwa kekayaan Jailolo tidak terbatas pada rempah-rempah dan pemandangan laut yang berhiaskan bebukitan. Di Jailolo kita juga bisa menyusuri sungai di kawasan mangrove, bersantai di sumber mata air panas, mountain biking, menikmati keindahan air terjun Kahatola, serta menyaksikan tarian Burung Bidadari, sejenis Cendrawasih yang hanya ada di Pulau Halmahera. Jadi, selain masker, fins dan snorkel, siapkan juga sepeda gunung dan binokuler untuk melengkapi petualangan kita di Jailolo!

Budaya

Parade, pesta kuliner lokal, mengamati peninggalan sejarah atau ikut serta dalam perlombaan, ritual dan kesenian tradisional, bisa jadi merupakan hal yang wajar dilakukan oleh traveler ketika mengikuti festival daerah. Namun Festival Teluk Jailolo akan memberi lebih dari itu semua. Saran saya:

  • Batalkan semua rencana diet! Karena kita akan dimanjakan dengan sajian kuliner adat Jailolo yang lezat, dengan total menghabiskan sebanyak 10 ton ikan.
  • Siapkan mental anda untuk menyaksikan kemegahan Sasadu on The Sea! Sebuah pertunjukan musikal-filosofis-teatrikal, yang memadukan seni tradisional dan kontemporer, dipentaskan di panggung besar di atas laut, dengan arahan koreografer, penata artistik dan stage director kelas dunia.

Dahsyat bukan?!

Namun sayang beribu sayang… Eksotisnya alam dan budaya Jailolo ini, hingga kini belum banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia. “Dimana tuh Jailolo?” adalah pertanyaan yang kerap muncul setiap kali saya menyebut kata “Jailolo”.

Tidak dapat dipungkiri, media televisi nasional berperan sangat besar dalam penyebarluasan informasi mengenai pariwisata daerah. Namun, ada hal lain yang tidak kalah penting. Selain disebarluaskan, informasi ini juga perlu dipertajam agar tepat mengenai sasaran. Caranya, dengan menjadikan travelling sebagai gaya hidup generasi muda. Semangat untuk melestarikan dan memajukan pariwisata akan berkembang, seiring dengan semakin banyaknya generasi muda yang mengeksplorasi kekayaan alam di pelosok Indonesia. Maka jadikanlah travelling sebagai satu jenis “virus” yang harus ditularkan.

Blog contest dan underwater videography competition adalah dua langkah cerdik yang telah dilakukan oleh Festival Teluk Jailolo dan Wego Indonesia untuk memperkenalkan Jailolo sekaligus memancing kreativitas generasi muda. Kini tinggal tugas kita untuk melanjutkan tongkat perjuangan mempopulerkan Jailolo kepada seluruh dunia.

TELLS! Travel, Explore, Live, Learn and Share to the world the beautifulness of Indonesia, in every corner behind its mountain and underneath its sea. Mulai dari sekarang. Mulai dari Jailolo. Dan mulailah ceritakan pada orang-orang di sekitar kita tentang eksotisnya alam dan budaya di Jailolo.

Posted in Uncategorized | Tagged , , , | 2 Comments

Raja Ampat

This gallery contains 17 photos.

Gallery | Tagged , , , | Leave a comment

Di Raja Ampat, Menyelam di Halaman Depan Resort pun Penuh Kejutan

Masih terekam jelas di benakku ketika beradu pandang dan renang berdampingan dengan dengan Pari Manta selebar 3 meter di Manta Slope. Atau ketika mengambil gambar Moray Eel berdiameter 10 cm dari jarak satu jengkal di Mioskon. Diving di Raja Ampat memang penuh kejutan. Rasanya benar-benar tak ingin berpisah dengan kepulauan indah ini.

Ini cerita tentang penyelaman terakhirku di Raja Ampat, di perjalanan 8-12 Maret yang lalu. Berkat kedekatanku dengan kru Waiwo Dive Resort (WDR) – Bambang, Jacky dan yang lainnya – di hari terakhir akhirnya aku bisa membawa kabur seperangkat alat diving dan seorang guide WDR untuk dijadikan buddy selam, Ramli namanya.

Pagi itu (11/03) kami – aku dan Ramli – menyelam di halaman depan WDR. Lokasi yang jarang muncul di list spot diving unggulan Raja Ampat. Penyelaman dimulai dari dermaga di depan WDR, menyusuri dasar laut yang berpasir. Kawanan Butterfly Fish dan Moorish Idol mondar-mandir di sekitar kami. Ikan-ikan karang berukuran besar terlihat mengerumuni sekotak beton yang entah bagaimana ceritanya bisa berada di dasar laut ini. Bintang laut beraneka bentuk tampak santai berjemur di bawah bias matahari pagi. Tidak seperti Blue-spotted Stingray yang seringkali mengagetkan kami dengan muncul tiba-tiba, menyibak kamuflasenya dari dasar pasir.

Sekitar 50 meter kami berenang di atas hamparan pasir, sampai akhirnya tiba di gugusan karang di kedalaman sekitar 10 meter. Tidak terhitung berapa kali kami menemui Ikan Badut – mulai dari ikan badut yang warnanya oranye-putih hingga ikan badut yang warnanya hitam-putih – sedang bermain di antara anemon yang tumbuh dengan sehat di perairan ini.

Lalu tiba-tiba mata kami menangkap sesosok makhluk gendut lucu, berwarna putih terang dengan bintik-bintik hitam. Ikan buntal! Ramli mengulurkan tangan, berusaha menyapanya. Namun si gendut ini malah lari dan bersembunyi di balik karang. Ketika aku masih asik mengintipnya dari celah-celah karang yang padat, Ramli menunjuk ke satu titik di sebuah lubang. Terlihat sesosok makhluk mungil bercorak larik-larik biru-putih. Ramli memberi hand signal dengan menggerak-gerakkan jari telunjuk dan tengahnya. Wahh…Nudibranch! Cantik sekali. Baru kali ini aku menemukan yang bercorak larik biru-putih seperti ini. Ia seperti sedang menyembunyikan kepalanya ke dalam lubang, hingga yang terlihat hanya bagian belakang tubuhnya saja. Rasanya ingin sekali menarik pantatnya keluar, tapi tidak tega 😛

Tidak jauh dari situ, Ramli lagi-lagi menggerak-gerakkan jari telunjuk dan tengahnya. Nudibranch lagi! Ia tampak sedang bersantai di atas rubble karang. Kali ini warnanya putih dengan bontol-bontol hitam. Satu jengkal di sebelahnya, di bawah Seafan yang cukup besar, seekor Lionfish mengintai dengan dingin. Makhluk yang satu ini memang selalu tampil cantik, meskipun aura pembunuh menyeruak dari sekujur tubuhnya yang ditumbuhi duri-duri beracun. Ramli mengangkat rubble, tempat dimana Nudibranch berbontol hitam ini berada. Menyerahkannya kepadaku. Kutangkupkan kedua tangan agar ia tidak hanyut ketika kubawa berenang. Setelah berada di lingkungan yang cukup aman, kuletakkan ia kembali di atas rubble, dan berharap agar tidak ada Lionfish yang mengintainya lagi.

Ada banyak Seafan di lokasi diving yang menyerupai sebuah gunung dengan lereng-lereng yang dipenuhi terumbu karang dan berbagai biota bawah laut ini. Hampir di setiap Seafan kami berhenti dan mengamati dengan seksama, barangkali ada Pygmy yang bersembunyi malu-malu di sela-selanya. Namun nampaknya aku lagi-lagi belum berjodoh dengan Si Pygmy Seahorse yang fenomenal ini.

Di satu Seafan Ramli berhenti dan memberikan sinyal 2 jari telunjuk di dahi. ‘Yah…bukan pygmy…’ bantinku. Tapi apakah itu? Ah! Udang! Ketika kuamati lebih dekat, nampaklah seekor udang kecil di sela-sela karang di pangkal Seafan. Udang cantik belang-belang oranye putih dengan sungut yang panjang. Dan ketika diperhatikan secara seksama, ternyata di Seafan ini ada banyak sekali udang-udang yang sangat kecil dengan tubuh nyaris transparan. Mungkin mereka ini bayi-bayi si udang cantik yang baru menetas.

Di Seafan berikutnya kami berhenti lagi, menyisir setiap celah mencari Pygmy. Namun yang kami temukan hanya seekor cacing, yang awalnya kami curigai sebagai ekor Pygmy. Mungkin karena kecewa tidak berhasil bertemu dengan hewan lucu itu, Ramli menjadi kurang teliti memperhatikan sekitar, hingga melewatkan sesosok makhluk cantik yang ku lihat bergerak dari balik karang. Karena curiga dengan coraknya yang unik, aku mengintip lebih dekat. Ternyata Moray Eel! Warna hitam bintik-bintik putih. Segera ku kejar Ramli, ku tarik fin kaki kanannya, dan ku beri hand signal “moray eel”. Ia langsung berbalik arah. Aku menunjuk-nunjuk dengan semangat ke celah karang dimana aku melihatnya. Beberapa menit berlalu. Moray Eel cantik tadi tidak muncul lagi. Wajah kecewa muncul dari balik kedua masker kami.

Fish schooling berukuran besar, ikan warna-warni, bintang laut, nudibranch beraneka rupa, dan banyak lagi hewan-hewan laut lainnya senantiasa menemani perjalanan kami menyusuri lautan di antara pulau Waigeo dan Saonek, Raja Ampat. Kedalaman berkisar antara 5 – 20 meter. Penyelaman berlangsung selama hampir 2 jam, sisa udara di tabung rasanya benar-benar aku manfaatkan semaksimal mungkin di penyelaman terakhir ini.

Walaupun tidak berhasil bertemu dengan Pygmy Seahorse dan Wabegong, Hiu Karpet yang hanya ada di sekitar Raja Ampat dan Papua Nugini, penyelaman di Raja Ampat memberikan kesan yang sangat mendalam bagiku. Kekayaan dan keindahan alam bawah lautnya tidak bisa lagi digambarkan oleh kata-kata, apalagi oleh foto semata. “Datang dan lihat sendiri” adalah ungkapan yang paling pas untuk menggambarkan kekagumanku atas indahnya alam bawah laut negeri ini.

Image

Moray Eel yang ku foto dari jarak satu jengkal di Mioskon

Note: Penyelaman terakhir ini kami lakukan dengan mencuri-curi kesempatan, hingga tidak sempat membawa kamera. Oleh karenanya, tidak ada foto underwater yang kami hasilkan di lokasi ini. Foto di atas diambil di Mioskon pada penyelaman di hari sebelumnya. Foto di bawah diambil dari dermaga di depan Waiwo Dive Resort, starting point penyelaman.

Halaman depan Waiwo Dive Resort

Posted in Uncategorized | Tagged , , , | Leave a comment