Karimunjawa: Misteri Kerajaan Terumbu Karang di Utara Jawa

Branching Coral  and Cardinal Fish

Branching Coral and Cardinal Fish (Karimunjawa, 23 Desember 2012)

Indonesia, mulai dari Sabang di sebelah Barat hingga Bird’s Head Seascape di sebelah Timur, merupakan surga bagi berjuta keanekaragaman hayati laut. Hal ini menjadikannya sebagai destinasi selam yang paling kaya dan paling beragam ketimbang negara lainnya. Di hampir seluruh pulau besar di Indonesia kita bisa menemukan berbagai lokasi penyelaman dengan pesona alam bawah laut yang khas dan berbeda satu sama lain. Tidak terkecuali Pulau Jawa, pulau dengan kepadatan penduduk tertinggi di dunia.

Sebut saja Krakatau, Pulau Seribu dan Karimunjawa, tiga lokasi penyelaman favorit yang relatif murah dan mudah dijangkau dari berbagai kota di Pulau Jawa. Petualangan bawah laut yang ditawarkan oleh ketiga spot tersebut juga tidak kalah seru dibanding dengan lokasi penyelaman yang harus dijangkau dengan modal jutaan rupiah dari Jakarta. Krakatau, dengan gunung api yang menjulang dari bawah laut tentu akan memberikan sensasi yang luar biasa bagi para penggila tantangan. Pulau Seribu, dengan kemudahan akses dan tingginya arus pariwisata yang dialaminya, ia masih terus memberikan kejutan-kejutan di setiap kali penyelaman, apalagi pada penyelaman malam. Dan Karimunjawa, daerah perlindungan dengan kerajaan bawah lautnya yang misterius.

Rabbitfish Schooling (Karimunjawa, 23 Desember 2012)

Saya menyebutnya “The Kingdom of Coral Reefs”, kerajaan terumbu karang. Kenapa misteri? Karena saya benar-benar tidak menyangka, bahwa terlepas dari tekanan populasi yang dialami oleh Pulau Jawa, di jarak 45 mil sebelah utaranya masih terdapat sebuah kawasan dengan ekosistem terumbu karang begitu sehat dan padat. Perasaan haru menyeruak dari dalam diri saya ketika pertama kali menceburkan diri ke perairan di sekitar daerah konservasi Taman Nasional Karimun Jawa ini.  Keanekaragaman hayati dan keindahan alam bawah lautnya bukan hanya memanjakan mata, namun juga memberi kedamaian bagi jiwa-jiwa yang lelah pada hingar-bingar kehidupan kota.

Acropora Branching (Karimun Jawa, 23 Desember 2012)

Acropora Branching (Karimunjawa, 23 Desember 2012)

Acropora Tabulate (Karimunjawa, 23 Desember 2013)

Complete team: branching, tabulate, fire coral, blue coral, massive coral (Karimunjawa, 7 April 2012)

Selain karang, Karimunjawa juga sering memberikan jackpot spesial bagi para penyelam. Kita bisa bertemu dengan para penghuni kerajaannya, mulai dari makhluk-makhluk kecil lucu, yang cantik namun mengancam, hingga yang membuat kita bernafsu untuk merebusnya 😛

Anemon, Nemo dan teman-temannya (Karimunjawa, 15 Desember 2012)

Nudibranch 1 (Karimunjawa, 23 Desember 2012)

Nudibranch 2 (Karimunjawa, 23 Desember 2012)

Nudibranch 3 (Karimunjawa, 23 Desember 2012)

Squidward The Octopus (Karimunjawa, 23 Desember 2012)

Blue-spotted Stingray (Karimunjawa, 7 April 2012)

Nah…ini dia yang paling yummy: Rajungan! (Karimunjawa, 23 Desember 2012)

Bagi yang menginginkan petualangan yang lebih menantang, saya sarankan untuk mencoba menyelam di lokasi yang satu ini. Berada di sekitar Desa Kemujan, Indonoor Wreck – sebuah bangkai kapal pengangkut batubara yang karam di kedalaman 15-18 meter semakin menambah daftar panjang misteri bawah laut Karimunjawa.

Selain indonoor wreck, masih ada 2 wreck lagi yang belum tereksplorasi di Karimunjawa. Konon katanya, belum ada yang berani untuk mendekati 2 wreck ini setelah kejadian hilangnya penyelam di sekitar wreck tersebut. Penyebabnya belum diketahui sampai sekarang. So, mungkin indonoor wreck ini saja yang bisa saya rekomendasi untuk wreck dive di Karimunjawa.

Selamat mengeksplorasi! 😉

Note:

Semua foto di atas adalah hasil jepretan Abang Efin Muttaqin @eponky

Untuk mengurangi rasa bersalah atas ‘promosi’ Karimunjawa ini, dan barangkali setelah baca postingan ini makin banyak orang yang mengunjungi Karimunjawa, maka saya mohon dengan amat sangat:

–  Please, be a wise diver. Mohon patuhi batas-batas konservasi yang berlaku di Taman Nasional Karimun Jawa. Dan jangan sentuh karang apalagi sampai merusaknya. Jangan buang sampah sembarangan. Sekeren-kerennya diver, bagi saya adalah diver yang menyelam sambil memungut sampah yang ditemuinya di dasar laut. Masih ingin anak-cucu kita melihat keindahan alam bawah laut ini kan?

Be a humble traveler. Orang Karimunjawa ini ramah-ramahnya luar biasa. Jadi jangan sampai kita lupa daratan. Mohon patuhi norma-norma dan adat istiadat yang berlaku di sana.

And the last, but not the least…. Narsis tiiimmmmeee…..!! 😛

“Kok acropora-nya warna biru ya?” (Karimunjawa, 7 April 2012)

“Hidup akan jauh lebih indah kalau kita nggak takut item!” (Gosong, 7 April 2012) — oh ya, walaupun modelnya juga gosong, tapi Gosong di sini merujuk pada pulaunya ya. Pulau pasir putih yang muncul di tengah laut di kala surut seperti ini disebut “gosong”, tempat paling pas buat bernarsis ria pasca diving 😉

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , | 6 Comments

Eksotisme Alam dan Budaya di Bumi Rempah-rempah, Jailolo

“Tulisan ini diikutkan dalam “Jailolo, I’m Coming!” Blog Contest yang diselenggarakan oleh  Wego Indonesia dan Festival Teluk Jailolo

Ini adalah kisah tentang suatu tempat di sebelah Barat Pulau Halmahera yang bernama Jailolo, The Spice Island. Ratusan tahun sebelum The Spice Girls mengguncang dunia oleh suara merdunya, Jailolo “The Spice Island” telah mengguncang dunia oleh kekayaan rempah-rempahnya. Sejarah penjajahan di Jailolo dimulai di abad ke-16, ketika harga satu kilo rempah-rempah sebanding dengan harga satu kilo emas. The Golden Tree, begitulah pohon rempah-rempah diibaratkan oleh bangsa-bangsa Eropa kala itu.

Kini Jailolo telah merdeka. Harga rempah-rempah tidak lagi sebombastis dahulu. Kekayaan alam dan budaya menjadi harta karun lain yang membuat Jailolo wajib dikunjungi oleh semua orang dari seluruh dunia. Berbicara tentang keindahan, dari dasar laut hingga puncak gunung, Jailolo memang juaranya.

Laut

Sebagai bagian dari Coral Triangle yang menyimpan 75% keanekaragaman karang dunia, lautan Jailolo merupakan surga bagi para scuba diver. Perairan yang jernih, gugusan terumbu karang berkontur wall dan slope, ribuan ikan serta makhluk laut lainnya seolah bersekutu menyajikan petualangan bawah air yang eksotis dan menggetarkan di sana. Di titik penyelaman tertentu kita bahkan bisa menemukan Electric Clam yang jarang ditemukan di tempat lain. Gambar yang langsung diambil dari videonya Mbak Prue ini adalah buktinya.

Electric Clam

Electric Clam alias Kerang Beraliran Listrik di Jailolo (https://www.youtube.com/watch?v=qOp3Kts_B9A)

Darat

Semakin jauh mengeksplorasi alam Jailolo, kita akan melihat bahwa kekayaan Jailolo tidak terbatas pada rempah-rempah dan pemandangan laut yang berhiaskan bebukitan. Di Jailolo kita juga bisa menyusuri sungai di kawasan mangrove, bersantai di sumber mata air panas, mountain biking, menikmati keindahan air terjun Kahatola, serta menyaksikan tarian Burung Bidadari, sejenis Cendrawasih yang hanya ada di Pulau Halmahera. Jadi, selain masker, fins dan snorkel, siapkan juga sepeda gunung dan binokuler untuk melengkapi petualangan kita di Jailolo!

Budaya

Parade, pesta kuliner lokal, mengamati peninggalan sejarah atau ikut serta dalam perlombaan, ritual dan kesenian tradisional, bisa jadi merupakan hal yang wajar dilakukan oleh traveler ketika mengikuti festival daerah. Namun Festival Teluk Jailolo akan memberi lebih dari itu semua. Saran saya:

  • Batalkan semua rencana diet! Karena kita akan dimanjakan dengan sajian kuliner adat Jailolo yang lezat, dengan total menghabiskan sebanyak 10 ton ikan.
  • Siapkan mental anda untuk menyaksikan kemegahan Sasadu on The Sea! Sebuah pertunjukan musikal-filosofis-teatrikal, yang memadukan seni tradisional dan kontemporer, dipentaskan di panggung besar di atas laut, dengan arahan koreografer, penata artistik dan stage director kelas dunia.

Dahsyat bukan?!

Namun sayang beribu sayang… Eksotisnya alam dan budaya Jailolo ini, hingga kini belum banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia. “Dimana tuh Jailolo?” adalah pertanyaan yang kerap muncul setiap kali saya menyebut kata “Jailolo”.

Tidak dapat dipungkiri, media televisi nasional berperan sangat besar dalam penyebarluasan informasi mengenai pariwisata daerah. Namun, ada hal lain yang tidak kalah penting. Selain disebarluaskan, informasi ini juga perlu dipertajam agar tepat mengenai sasaran. Caranya, dengan menjadikan travelling sebagai gaya hidup generasi muda. Semangat untuk melestarikan dan memajukan pariwisata akan berkembang, seiring dengan semakin banyaknya generasi muda yang mengeksplorasi kekayaan alam di pelosok Indonesia. Maka jadikanlah travelling sebagai satu jenis “virus” yang harus ditularkan.

Blog contest dan underwater videography competition adalah dua langkah cerdik yang telah dilakukan oleh Festival Teluk Jailolo dan Wego Indonesia untuk memperkenalkan Jailolo sekaligus memancing kreativitas generasi muda. Kini tinggal tugas kita untuk melanjutkan tongkat perjuangan mempopulerkan Jailolo kepada seluruh dunia.

TELLS! Travel, Explore, Live, Learn and Share to the world the beautifulness of Indonesia, in every corner behind its mountain and underneath its sea. Mulai dari sekarang. Mulai dari Jailolo. Dan mulailah ceritakan pada orang-orang di sekitar kita tentang eksotisnya alam dan budaya di Jailolo.

Posted in Uncategorized | Tagged , , , | 2 Comments

Raja Ampat

This gallery contains 17 photos.

More Galleries | Tagged , , , | Leave a comment

Di Raja Ampat, Menyelam di Halaman Depan Resort pun Penuh Kejutan

Masih terekam jelas di benakku ketika beradu pandang dan renang berdampingan dengan dengan Pari Manta selebar 3 meter di Manta Slope. Atau ketika mengambil gambar Moray Eel berdiameter 10 cm dari jarak satu jengkal di Mioskon. Diving di Raja Ampat memang penuh kejutan. Rasanya benar-benar tak ingin berpisah dengan kepulauan indah ini.

Ini cerita tentang penyelaman terakhirku di Raja Ampat, di perjalanan 8-12 Maret yang lalu. Berkat kedekatanku dengan kru Waiwo Dive Resort (WDR) – Bambang, Jacky dan yang lainnya – di hari terakhir akhirnya aku bisa membawa kabur seperangkat alat diving dan seorang guide WDR untuk dijadikan buddy selam, Ramli namanya.

Pagi itu (11/03) kami – aku dan Ramli – menyelam di halaman depan WDR. Lokasi yang jarang muncul di list spot diving unggulan Raja Ampat. Penyelaman dimulai dari dermaga di depan WDR, menyusuri dasar laut yang berpasir. Kawanan Butterfly Fish dan Moorish Idol mondar-mandir di sekitar kami. Ikan-ikan karang berukuran besar terlihat mengerumuni sekotak beton yang entah bagaimana ceritanya bisa berada di dasar laut ini. Bintang laut beraneka bentuk tampak santai berjemur di bawah bias matahari pagi. Tidak seperti Blue-spotted Stingray yang seringkali mengagetkan kami dengan muncul tiba-tiba, menyibak kamuflasenya dari dasar pasir.

Sekitar 50 meter kami berenang di atas hamparan pasir, sampai akhirnya tiba di gugusan karang di kedalaman sekitar 10 meter. Tidak terhitung berapa kali kami menemui Ikan Badut – mulai dari ikan badut yang warnanya oranye-putih hingga ikan badut yang warnanya hitam-putih – sedang bermain di antara anemon yang tumbuh dengan sehat di perairan ini.

Lalu tiba-tiba mata kami menangkap sesosok makhluk gendut lucu, berwarna putih terang dengan bintik-bintik hitam. Ikan buntal! Ramli mengulurkan tangan, berusaha menyapanya. Namun si gendut ini malah lari dan bersembunyi di balik karang. Ketika aku masih asik mengintipnya dari celah-celah karang yang padat, Ramli menunjuk ke satu titik di sebuah lubang. Terlihat sesosok makhluk mungil bercorak larik-larik biru-putih. Ramli memberi hand signal dengan menggerak-gerakkan jari telunjuk dan tengahnya. Wahh…Nudibranch! Cantik sekali. Baru kali ini aku menemukan yang bercorak larik biru-putih seperti ini. Ia seperti sedang menyembunyikan kepalanya ke dalam lubang, hingga yang terlihat hanya bagian belakang tubuhnya saja. Rasanya ingin sekali menarik pantatnya keluar, tapi tidak tega 😛

Tidak jauh dari situ, Ramli lagi-lagi menggerak-gerakkan jari telunjuk dan tengahnya. Nudibranch lagi! Ia tampak sedang bersantai di atas rubble karang. Kali ini warnanya putih dengan bontol-bontol hitam. Satu jengkal di sebelahnya, di bawah Seafan yang cukup besar, seekor Lionfish mengintai dengan dingin. Makhluk yang satu ini memang selalu tampil cantik, meskipun aura pembunuh menyeruak dari sekujur tubuhnya yang ditumbuhi duri-duri beracun. Ramli mengangkat rubble, tempat dimana Nudibranch berbontol hitam ini berada. Menyerahkannya kepadaku. Kutangkupkan kedua tangan agar ia tidak hanyut ketika kubawa berenang. Setelah berada di lingkungan yang cukup aman, kuletakkan ia kembali di atas rubble, dan berharap agar tidak ada Lionfish yang mengintainya lagi.

Ada banyak Seafan di lokasi diving yang menyerupai sebuah gunung dengan lereng-lereng yang dipenuhi terumbu karang dan berbagai biota bawah laut ini. Hampir di setiap Seafan kami berhenti dan mengamati dengan seksama, barangkali ada Pygmy yang bersembunyi malu-malu di sela-selanya. Namun nampaknya aku lagi-lagi belum berjodoh dengan Si Pygmy Seahorse yang fenomenal ini.

Di satu Seafan Ramli berhenti dan memberikan sinyal 2 jari telunjuk di dahi. ‘Yah…bukan pygmy…’ bantinku. Tapi apakah itu? Ah! Udang! Ketika kuamati lebih dekat, nampaklah seekor udang kecil di sela-sela karang di pangkal Seafan. Udang cantik belang-belang oranye putih dengan sungut yang panjang. Dan ketika diperhatikan secara seksama, ternyata di Seafan ini ada banyak sekali udang-udang yang sangat kecil dengan tubuh nyaris transparan. Mungkin mereka ini bayi-bayi si udang cantik yang baru menetas.

Di Seafan berikutnya kami berhenti lagi, menyisir setiap celah mencari Pygmy. Namun yang kami temukan hanya seekor cacing, yang awalnya kami curigai sebagai ekor Pygmy. Mungkin karena kecewa tidak berhasil bertemu dengan hewan lucu itu, Ramli menjadi kurang teliti memperhatikan sekitar, hingga melewatkan sesosok makhluk cantik yang ku lihat bergerak dari balik karang. Karena curiga dengan coraknya yang unik, aku mengintip lebih dekat. Ternyata Moray Eel! Warna hitam bintik-bintik putih. Segera ku kejar Ramli, ku tarik fin kaki kanannya, dan ku beri hand signal “moray eel”. Ia langsung berbalik arah. Aku menunjuk-nunjuk dengan semangat ke celah karang dimana aku melihatnya. Beberapa menit berlalu. Moray Eel cantik tadi tidak muncul lagi. Wajah kecewa muncul dari balik kedua masker kami.

Fish schooling berukuran besar, ikan warna-warni, bintang laut, nudibranch beraneka rupa, dan banyak lagi hewan-hewan laut lainnya senantiasa menemani perjalanan kami menyusuri lautan di antara pulau Waigeo dan Saonek, Raja Ampat. Kedalaman berkisar antara 5 – 20 meter. Penyelaman berlangsung selama hampir 2 jam, sisa udara di tabung rasanya benar-benar aku manfaatkan semaksimal mungkin di penyelaman terakhir ini.

Walaupun tidak berhasil bertemu dengan Pygmy Seahorse dan Wabegong, Hiu Karpet yang hanya ada di sekitar Raja Ampat dan Papua Nugini, penyelaman di Raja Ampat memberikan kesan yang sangat mendalam bagiku. Kekayaan dan keindahan alam bawah lautnya tidak bisa lagi digambarkan oleh kata-kata, apalagi oleh foto semata. “Datang dan lihat sendiri” adalah ungkapan yang paling pas untuk menggambarkan kekagumanku atas indahnya alam bawah laut negeri ini.

Image

Moray Eel yang ku foto dari jarak satu jengkal di Mioskon

Note: Penyelaman terakhir ini kami lakukan dengan mencuri-curi kesempatan, hingga tidak sempat membawa kamera. Oleh karenanya, tidak ada foto underwater yang kami hasilkan di lokasi ini. Foto di atas diambil di Mioskon pada penyelaman di hari sebelumnya. Foto di bawah diambil dari dermaga di depan Waiwo Dive Resort, starting point penyelaman.

Halaman depan Waiwo Dive Resort

Posted in Uncategorized | Tagged , , , | Leave a comment

Chi trova un’amico, trova un tesoro

adalah peribahasa Italia yang berarti “The one who finds a friend, finds a treasure”

Chi trova un’amico trova un tesoro pertama kali saya dengar dari lagu “Surrender” yang dibawakan oleh sebuah band folk-rock Indonesia: Float.

Siapa yang menemukan teman, dia menemukan harta karun…

Harta karun dalam hidup saya adalah ketika saya bisa travelling dengan aman ke tempat-tempat yang jauh.

Ketika masih berstatus mahasiswa, untuk pergi naik gunung ke daerah manapun di Indonesia, bagi saya persinggahan rasanya bukan jadi suatu masalah yang serius. Selama masih ada UKM pecinta alam dalam universitas di kota tersebut, hidup dipastikan akan tetap terjamin. Salah satu butir kode etik pecinta alam menjelaskan bahwa sebagai sesama manusia yang mencintai alam, sudah seharusnya kita saling menjaga. Sesama pecinta alam adalah saudara. Chi trova un’amico, trova un tesoro…

Satu bulan yang lalu, seorang kawan lama dari organisasi pecinta alam kampus tetangga menghubungi saya. Sebut saja namanya Ticung. Entah bagaimana awalnya, ia tiba-tiba meminta saya untuk mengajar berenang dan skin diving. Karena sedang dalam masa gencar-gencarnya mengajak orang untuk belajar diving, maka dengan senang hati saya langsung mulai melatih di hari minggunya. Di minggu kedua Ticung sudah lancar berenang. Minggu ketiga kami langsung belajar skin diving. Akhir minggu ini adalah minggu keempat. Kami tidak latihan di kolam lagi, karena besok pagi kami berangkat ke Raja Ampat.

HAH…??!! Raja Ampat!!??!!

Chi trova un’amico, trova un tesoro

Mimpi pun saya belum pernah ke Raja Ampat. Kali ini dari seorang teman saya mendapatkan tiket gratis Jakarta – Sorong – Jakarta untuk 8 – 12 Maret 2013. Long weekend.

Rabu sore saya langsung mengambil sertifikat diving sementara ke kampus. Ibarat orang yang baru masuk Islam langsung naik haji, saya yang baru mendapat sertifikat A1 akan langsung menyelam di Raja Ampat. Penyelaman pertama setelah lulus sertifikasi adalah lautan dimana 75% kekayaan spesies koral dunia ada di sana. Raja Ampat yang menjadi impian semua penyelam dunia, sebentar lagi akan ada di depan mata saya, si penyelam yang baru lulus kemarin sore. Raja Ampat yang bahkan mentor-mentor selam saya dan Marischka Prudence pun belum pernah ke sana…

Dan tebak, berapa banyak uang yang ada di kantong saya sekarang? Satu koma tujuh juta. Tidak kurang tidak lebih.

Then how will I manage to live and to dive with that-far-from-enough of money?

Who knows? Let’s just hope that I can  find another “treasure” there 🙂

Posted in Uncategorized | Tagged , , | Leave a comment

Open Water Scuba Diving Certification: Tahapan dalam kegiatan sertifikasi selam (PAP dan LKK).

Setelah memahami pentingnya sertifikasi selam, kali ini saya akan memberikan gambaran umum mengenai tahapan yang dilalui dalam kegiatan sertifikasi selam untuk level pemula atau open water (A1). Perlu dicatat bahwa gambaran yang saya berikan ini adalah berdasarkan pengalaman open water diving course yang saya jalani bersama salah satu organisasi selam di Institut Pertanian Bogor di bawah lisensi CMAS. Berbeda organisasi selam mungkin akan berbeda pula tahapannya.

Beberapa prasyarat untuk mengikuti pelatihan selam antara lain:

  • Berusia minimal 15 tahun
  • Memiliki kondisi tubuh yang sehat dan layak medis untuk menyelam yang dinyatakan dengan melengkapi pernyataan riwayat penyakit serta surat keterangan dari dokter.

Untuk itu, pada saat melakukan pendaftaran, biasanya calon peserta akan diminta untuk mengisi lembar kuesioner yang diberikan oleh panitia. Kuesioner ini berisi pertanyaan-pertanyaan mengenai riwayat kesehatan fisik seperti “apakah anda merasakan sakit pada bagian dalam telinga ketika berada di pesawat terbang?” “apakah anda pernah mengalami sakit di bagian dada setelah berolahraga?” dan sebagainya, serta pertanyaan mengenai kondisi psikologi seperti “apakah anda memiliki phobia terhadap kegelapan?” serta pertanyaan-pertanyaan lainnya. Calon peserta juga diminta untuk melakukan tes kesehatan THT untuk memastikan kondisi THT kita memenuhi syarat untuk mengikuti kegiatan penyelaman dan menghadapi perubahan tekanan, yang dibuktikan dengan surat keterangan dari dokter spesialis THT.

Sebagai calon penyelam kita juga harus memenuhi kualifikasi dasar yaitu:

  • Berenang sejauh 200 meter
  • Berenang sejauh 12 meter di bawah air (apnea)
  • 10 menit mengayuh di permukaan air (water trappen) tanpa bantuan alat.

Namun kemampuan dasar ini juga bisa dipelajari setiap sebelum melakukan LKK (Latihan Keterampilan Kolam). Beberapa dive course bahkan dengan baik hatinya memberikan pelatihan renang khusus bagi peserta yang ingin belajar menyelam tapi belum bisa berenang. Jadi bagi yang selama ini masih menjadikan “tidak bisa berenang” sebagai alasan utama tidak belajar menyelam, jangan khawatir! Akan ada mentor-mentor baik hati yang akan mengajari kita berenang 🙂

Setelah memenuhi persayaratan awal tersebut, barulah seluruh peserta mengikuti pelatihan selam yang sesungguhnya. Rangkaian pelatihan di jenjang open water ini terbagi ke dalam 3 program:

  1. PAP atau Pengetahuan Akademis Penyelaman
  2. LKK atau Latihan Keterampilan Kolam
  3. LPT atau Latihan Perairan Terbuka

Program PAP dilakukan di kelas untuk memberikan pemahaman mengenai prinsip-prinsip dasar pengetahuan yang berkaitan dengan penyelaman secara umum yang dibutuhkan sesuai jenjang pemula. Kemudian LKK dilakukan di kolam atau perairan terbatas, di sini peserta akan diajarkan untuk adaptasi awal dengan alat-alat selam yang akan digunakan serta dasar-dasar keterampilan yang dibutuhkan untuk melakukan penyelaman secara aman. Dan terakhir adalah program LPT yang dilakukan di perairan terbuka (laut), dimana peserta akan dibimbing untuk menerapkan keterampilan yang telah didapatkan di LKK serta mempraktekkannya dalam latihan penyelaman pada kondisi nyata. Apa yang dipelajari di PAP secara simultan akan saling berkaitan dengan program LKK dan LPT. Di akhir pelajaran PAP, peserta wajib mengikuti evaluasi tertulis PAP dan keterampilan pokok yang akan diuji oleh instruktur dengan nilai minimal lulus (passing score) 75%.

Pengetahuan Akademis Penyelaman (PAP)

Dive course yang saya ikuti menjadwalkan kegiatan PAP dan LKK setiap akhir pekan dengan didampingi oleh mentor-mentor handal dari klub selam berpengalaman. Oleh karena mentornya rata-rata adalah mahasiswa, maka setiap pelajaran di kelas selalu identik dengan “Quiz”. Walhasil di setiap penghujung PAP setiap peserta langsung diberi 5 sampai 10 soal esai mengenai materi yang diajarkan hari itu. Wah wah wah… Siap-siap saja ya yang sudah lupa rasanya kuliah, harus pasang perhatian ekstra terhadap setiap materi yang diberikan. Karena mentor-mentor ini matanya sangat awas dan sensitif terhadap peserta yang mencontek. Hihihi 😀

Beberapa materi yang diajarkan dalam PAP, yaitu:

Image1. Peralatan Selam

PAP pertama memperkenalkan alat-alat yang digunakan dalam penyelaman, mulai dari alat dasar selam (fins, snorkel, masker) hingga peralatan scuba (BCD / Buoyancy Compensator Device, Tabung, Regulator, dsb) berikut komponen penting, jenis, fungsi serta perawatannya.

2. Aspek Medis Penyelaman

Mulai dari faktor fisik dan psikologis yang dapat mempengaruhi penyelaman hingga permasalahan-permasalahan medis yang dapat terjadi akibat kesalahan dalam kegiatan penyelaman.

3. Fisika Penyelaman

Dalam fisika penyelaman, kita belajar memahami hukum-hukum fisika yang berlaku pada kegiatan penyelaman, menghitung tekanan pada kedalaman, dan pengaruhnya pada aktivitas penyelaman serta rtubuh kita.

4. Biota Berbahaya

Dalam materi ini peserta diperkenalkan dengan berbagai biota laut yang dapat menjadi ancaman bagi penyelam, bagaimana cara mencegahnya, serta pertolongan pertama yang harus diberikan apabila terserang oleh biota tersebut.

5. Tabel Selam

Untuk keamanan penyelaman, setiap penyelam juga harus memahami tabel selam. Tabel selam digunakan untuk melihat kategori penyelaman berdasarkan kedalaman, lama menyelam dan lama istirahat agar terhindar dari penyakit dekompresi. Hal ini penting terutama untuk kegiatan penyelaman berulang.

Latihan Keterampilan Kolam (LKK)

Berbeda dengan PAP yang ujiannya di akhir pertemuan, pada LKK ujian dilakukan di awal pertemuan. Setiap akan memulai LKK, seluruh peserta diharuskan melakukan pemanasan. Tebak pemanasannya seperti apa? Peregangan? Yak betul… dan dilanjutkan dengan berenang sejauh 200 meter! (yang jarang olahraga pasti ngos-ngosan) Setiap mentor akan bersiaga untuk menghitung berapa lama waktu yang kita habiskan untuk berenang 200 meter dan mencatat perkembangannya dari minggu ke minggu. Setelah tuntas renang 200 meter, latihan dilanjutkan dengan apnea atau kami biasa menyebutnya “horizontal”. Apnea yang diwajibkan adalah 12 meter, artinya satu kali hirupan nafas kita harus bertahan untuk berenang di dasar kolam sejauh 12 meter. Apakah semua peserta bisa? Tentu tidak. Ada juga sebagian peserta yang sulit melakukan apnea ini. Terutama orang-orang yang daya apungnya cenderung positif (mudah mengambang) atau yang terlalu sering merokok, karena pasti ngos-ngosan di tengah jalan. Tapi lagi-lagi mentor akan setia mengajari sampai semua peserta mampu melakukan apnea sejauh 12 meter. Fungsinya adalah ketika kita melakukan skin diving, kita akan lebih mudah dan bertahan lama melakukan tuck dive, serta melatih kita untuk mengatur pernafasan dan tidak panik ketika ada sedikit permasalahan di bawah air. Setelah renang, apnea dan water trapen, baru kemudian LKK dilanjutkan dengan latihan scuba. Salah satu kelebihan dive course yang saya ikuti terletak pada pembagian mentor dalam LKK hingga LPT, yaitu satu mentor hanya mengajari 1-2 peserta saja. Jadi tidak berebutan, pengajaran menjadi lebih intens, dan yang paling penting jika kita melakukan hal-hal bodoh ketika latihan, hanya dilihat oleh 2 orang saja, jadi nggak malu-maluin amat, hehehe 😛

Sedangkan materi yang langsung diajarkan dalam LKK adalah:

1. Pemasangan Alat Selam

Peserta diajarkan untuk merakit dan membongkar alat selam secara mandiri sehingga diharapkan dapat menjadi penyelam yang independent, tidak merepotkan orang lain untuk memasangkan peralatan selamnya. Dalam perakitan/pembongkaran alat, peserta juga harus mempraktekkannya dengan cara yang benar agar alat tidak cepat rusak dan membahayakan aktivitas diving berikutnya, misal dengan menjaga agar second stage tidak mengenai tanah/pasir, dan selalu mengeringkan dust cover sebelum menutup O-ring pada first stage (tempat udara masuk dari tabung) untuk melindunginya dari debu dan kotoran.  Pada tahap ini peserta juga akan mulai menerapkan buddy system sebelum penyelaman, dimana orang yang akan menjadi buddy kita akan mengecek alat yang telah kita pasang, mulai dari tekanan tabung, hingga mengecek apakah ada kebocoran pada BCD, katup kuras, tabung, maupun regulator yang dapat membahayakan aktivitas penyelaman. Demikian pula sebaliknya, setelah megecek alat kita sendiri, kita juga harus mengecek alat buddy kita apakah sudah siap untuk digunakan untuk menyelam. Setiap peralatan selam yang akan digunakan untuk penyelaman harus kita pahami betul kondisinya, karena akan dilaporkan ketika PDSC (Pre-Dive Safety Check).

2. PDSC

Pre-Dive Safety Check adalah koordinasi yang dilakukan bersama buddy selam kita sebelum melakukan aktivitas penyelaman. Biasanya yang perlu dikomunikasikan dalam PDSC ini adalah (1) kondisi kesehatan setiap penyelam; (2) kondisi alat selam masing-masing penyelam, mulai dari kelengkapan alat dasar selam, tekanan tabung, jenis regulator, jumlah katup kuras pada BCD, jumlah weight belt yang digunakan, hingga arah bukaan strap-nya; dan (3) rencana penyelaman, seperti berapa kedalamannya, berapa lama waktu kita di dalam air, dsb.

3. Entry atau Cara Masuk ke Air

Mulai dari sitting entry, giant-stride, back-roll, forward-roll dan cara masuk di pantai.

Skin Diving4. Skin Diving

Skin Diving atau yang biasa disebut Snorkeling atau Free Diving / Selam Bebas juga diajarkan di sini. Tapi tentunya berbeda dengan snorkeling yang dilakukan oleh para wisatawan-wisatawan dalam rombongan tour yang snorkelingan pakai pelampung. Skin diving ini biasanya hanya menggunakan fins, snorkel dan masker, tanpa pelampung, agar kita tetap bisa menyelam ke dalam air. Materi yang diajarkan dalam skin diving ini antara lain adalah fins swimming, membuang air dari masker (mask clearing), membuang air dari snorkel, tuck dive dan duck dive. Pada prakteknya, skin diving dilakukan pada kedalaman laut yang relatif dangkal dan waktu penyelaman yang relatif terbatas, tergantung pada kemampuan paru-paru kita.

5. Fins Swimming

Ada beberapa gaya Fins Swimming atau berenang dengan menggunakan kaki katak, diantaranya adalah gaya menjelajah (flutter), gaya gunting (scissor), gaya katak (frog kick) dan gaya lumba-lumba (dolphin). Selain itu peserta juga diajarkan fins swimming dengan badan miring yang berfungsi untuk melewati celah ketika diving, serta fins swimming dengan badan terlentang untuk memudahkan pergerakan di permukaan ketika telah menggunakan alat diving lengkap.

6. Dive Sign atau Hand Signal

Hand signal dipakai untuk berkomunikasi antar penyelam baik masih di permukaan air maupun selama penyelaman.

7. Memakai dan melepaskan alat scuba di permukaan air

Bagi penyelam amatir, diperlukan ketenangan untuk dapat memasang dan melepaskan alat scuba secara mandiri di permukaan air.

8. Mendapatkan kembali mouth-piece regulator

Karena mouth-piece ini adalah ujung tombak penyuplai oksigen dari peralatan selam kita, dalam latihan kita juga diajarkan untuk menemukan kembali mouth-piece / second-stage atau hose/selang-nya.

Mask Clearing

9. Mask Clearing

Mask Clearing bisa jadi hal simpel yang akan paling sering kita lakukan nantinya. Mask clearing berfungsi untuk membersihkan kaca masker kita embun, dengan cara memasukkan air dari atas masker dan mengeluarkannya dengan menghembuskan udara dari hidung. Pada penyelaman, untuk membersihkan masker sesekali kita juga harus melepasnya. Hal ini kadangkala menimbulkan kepanikan, sehingga pada LKK kita juga akan sering melakukan buka-pasang masker, dan mempertahankan buoyancy ketika  melakukannya.

10. Buoyancy

Ada 3 jenis buoyancy atau daya apung yaitu daya apung positif, negatif, dan netral. Daya apung positif yaitu bila sebuah benda cenderung mengambang (terapung), sedangkan daya apung negatif bila benda cenderung tenggelam dan daya apung netral apabila benda tersebut cenderung melayang di dalam air. Buoyancy yang harus dipelajari oleh penyelam adalah buoyancy netral. Buoyancy netral diperoleh dengan mengkombinasikan berat tubuh kita dengan jumlah weight belt yang sesuai, pengaturan udara dalam BCD dan pernafasan. Semakin kita mahir dalam mengatur buoyancy netral kita, maka aktivitas penyelaman menjadi semakin nyaman dan memudahkan pergerakan di bawah air.

Dalam materi buoyancy biasanya kita akan dilatih untuk melakukan Hovering dan Pivoting. Hovering adalah upaya penyelam untuk mempertahankan posisi daya apungnya di dalam air dalam keadaan melayang dan diam, tidak kemana-mana. Sedangkan pivoting adalah upaya penyelam untuk berdiri condong pada kedua ujung fins yang berada di dasar air (pivot = engsel). Kemampuan kita mengendalikan buoyancy netral di dalam air akan terus menerus dipraktekan pada setiap LKK. Mulai dari netral duduk, netral 45 (pivoting), netral kolom (hovering), netral 90, hingga kombinasi antara netral 45 sambil mask clearing dan sebagainya.

11. Buddy System

Salah satu pantangan dalam selam adalah menyelam sendiri. Menyelam haruslah dilaksanakan secara tim. Tanggung jawab sebagai buddy selam adalah mencegah timbulnya masalah dan membantu buddy jika diperlukan. Kita dan buddy harus saling mengontrol, mengingatkan jika ada bahaya atau melampaui batas-batas yang diizinkan.

12. Buddy Breathing

Buddy juga berperan sebagai penolong penyelam lainnya dalam keadaan darurat. Keadaan darurat yang paling mendasar adalah “kehabisan udara”. Kehabisan udara dapat terjadi akibat kecerobohan penyelam sendiri atau karena kerusakan alat. Buddy breathing atau bernafas patungan yang paling aman adalah dengan menggunakan regulator second stage cadangan (octopus). Namun dalam sertifikasi kita juga diajarkan untuk bernafas patungan dengan menggunakan satu second stage yang digunakan untuk bernafas secara bergantian dan biasanya dilanjutkan dengan naik ke permukaan.

Beberapa materi penting lainnya juga diajarkan selama perjalanan pelatihan, atau dapat kita baca secara mandiri di buku pegangan yang diberikan selama masa sertifikasi.

 

Latihan Perairan Terbuka (LPT)

LPT dilakukan ketika semua materi penyelaman sudah disampaikan dalam PAP dan LKK. Untuk dive course di wilayah Jabodetabek, biasanya LPT dilakukan di kepulauan seribu.

Cerita-cerita seru mengenai LPT akan dimuat dalam postingan berikutnya 🙂

Posted in Uncategorized | Tagged , , , | Leave a comment

Open Water Scuba Diving Certification: Kenapa sih kita perlu sertifikasi selam?

Scuba Girls

Sebelum mengulas tentang sertifikasi, saya akan sedikit bercerita mengenai Scuba Diving. Apa itu scuba diving? Ngapain sih kita capek-capek nyelem ke dasar laut, berat-berat bawa tabung dan seperangkat alat yang ribet bukan main?

Kenapa manusia melakukan scuba diving? Karena kehidupan itu bukan hanya ada di daratan. Ada kehidupan yang berbeda, yang penuh warna, penuh kejutan, dan keindahannya tidak dapat kita rasakan dari daratan. Untuk menjelajahi itu semua, manusia dengan segenap naluri keingintahuannya melakukan scuba diving, menyelami dasar lautan untuk bertemu biota-biota laut di habitat aslinya. Scuba Diving atau selam scuba adalah aktivitas yang dilakukan di bawah air dengan menggunakan alat bantu pernafasan. Kata “scuba” sendiri merupakan singkatan dari “Self Contained Underwater Breathing Apparatus”, atau secara sederhana dapat diartikan sebagai peralatan untuk bernafas di bawah air secara mandiri, sehingga saat ini scuba biasanya diasosiasikan dengan peralatan selam yang menggunakan tabung oksigen.

Untuk bisa melakukan scuba diving kita diharuskan untuk memiliki keterampilan khusus yang didapatkan melalui pelatihan atau sertifikasi selam. Kenapa perlu sertifikasi selam?

Sertifikasi bertujuan untuk memberi pengetahuan terhadap calon penyelam mengenai bahaya-bahaya yang terdapat dalam aktivitas penyelaman, di samping tentunya mengajarkan kita untuk menggunakan alat selam secara benar dan aman. Hal ini penting karena resiko yang terdapat dalam aktivitas menyelam ini sangatlah tinggi. Manusia merupakan makhluk darat yang membutuhkan udara untuk pernafasan, sedangkan aktivitas bawah air ini hanya mengandalkan peralatan untuk menyuplai oksigen ke dalam paru-paru kita. Jika terjadi suatu kesalahan di bawah air tanpa kita mengetahui cara mengantisipasinya tentu itu akan membahayakan nyawa kita bukan? Meskipun kita bisa menjangkau udara dengan berenang ke permukaan secepat mungkin, perubahan tekanan – dari kedalaman air ke permukaan – yang terjadi secara tiba-tiba dapat menyebabkan rusaknya paru-paru hingga kematian. Lho, kok bisa?

Tekanan di permukaan, tempat kita bernafas normal adalah 1 atm, sedangkan setiap kedalaman 10 meter tekanan akan bertambah 1 atm. Dengan bernafas menggunakan tabung oksigen di kedalaman, paru-paru kita tetap berada pada kondisi normal, tidak menciut, meskipun tekanan terus bertambah. Sehingga jika kita berenang ke permukaan secara tiba-tiba dari kedalaman, dengan kata lain terjadi penurunan tekanan secara tiba-tiba, udara di paru-paru kita akan mengembang dan terjadilah dekompresi atau Decompression Sickness (DCS), yaitu menyusupnya gelembung-gelembung udara ke dalam aliran darah sehingga menyebabkan kelumpuhan hingga kematian. Hii…mengerikan bukan?

Dekompresi baru salah satu contoh bahaya dari penyelaman. Masih banyak lagi bahaya yang terdapat dalam aktivitas scuba diving. Untuk itu sertifikasi sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, sehingga aktivitas kita menyelami keindahan bawah laut tidak terganggu oleh berbagai macam permasalahan, mulai dari penggunaan alat, pengendalian diri, hingga kekhawatiran terhadap ancaman-ancaman yang belum kita ketahui.

Tahapan-tahapan yang dilalui dalam kegiatan sertifikasi selam akan dibahas dalam postingan berikutnya 🙂

Posted in Uncategorized | Tagged , | 1 Comment

2013: Tahun Ular Air. Tahunnya Shio Ular bermain di bawah Air :)

Wah, sudah berganti tahun nampaknya dari terakhir kali saya menulis di blog ini… Mumpung masih bulan Januari, mungkin nggak ada salahnya ngucapin “Happy New Year!!” walaupun telat 15 hari :p

Kata orang Cina, 2013 ini tahunnya Shio Ular unsur Air… Sedangkan tahun saya adalah 1989 alias Ular Tanah. Namun ini bukan menjadi penghalang untuk menyambut datangnya si Ular Air tentunya. Tebak, saya melakukannya dengan apa?

Haphaphap…!! Si Ular Tanah ini ternyata sungguh-sungguh menyambut kawannya. Ia sekarang bahkan sudah bisa menyelam-nyelam di bawah air!!

(ayo penonton beri tepuk tangan yang meriah…!!)Image

LPT (Latihan Perairan Tebuka) kelas diving sudah saya lewati dengan sukses! Dunia bawah laut Kepulauan Seribu sudah saya selami dengan damai dan tentram… Dan saya merasa…mungkin ini adalah pertanda bahwa si Ular Air akan bersahabat baik dengan si Ular Tanah. Mudah-mudahan 🙂

Setidaknya ada 3 site penyelaman menarik yang kami – saya dan tim reguler Fisheries Diving Club – jelajahi: Utara Pulau Sekati; Pulau Air; dan sekitar Pulau Panggang. Pemandangannya? Seperti akuarium! Terumbu karang yang tidak terlalu padat, tapi masih terjaga dengan cukup baik, ikan-ikan besar dan kecil beraneka warna berenang ke sana ke mari… Nudibranch, bintang laut, dan kuda laut yang sesekali menampakkan diri. Snorkeling di sana saja rasanya sudah excited sekali. Dan kali ini saya MENYELAM!

Sensasi ketika udara mulai merayap keluar melalui inflator, BCD mengempis, dan tubuh yang perlahan-lahan tenggelam…menampilkan slide show…slow motion kehidupan bawah laut yang kali ini tidak hanya saya intip dari permukaan, tapi saya SELAMI!

Ah…saya suka sekali dengan kata “Selam” ini 😀

Puluhan menit kami berada di bawah air. Di lautan Indonesia yang super kaya. Bermain dengan ikan dan terumbu karang. Di bawah sana, terumbu karang ada macam-macam! Mulai dari yang seperti tanduk, seperti otak, seperti jamur, yang panas seperti api sampai yang genit melambai-lambai tapi ternyata sangat pemalu…ketika saya berusaha menyalaminya, ia malah masuk ke rongga terumbu, rumahnya. Dunia ini cocok sekali dengan manusia ‘autis’ seperti saya… Kita bisa tertawa-tawa dengan makhluk hidup lain tanpa ada orang yang memandang curiga.

Kita bisa terbang seperti superman, turun-naik tanpa perlu menyusuri tangga… Tenang…melayang… Tanpa ada suara-suara bising dunia, hanya ada sunyi dan irama merdu udara yang menyembur dari secondstage, menabrak air di sekelilingnya, pecah menjadi sekoloni gelembung-gelembung kecil yang berbondong-bondong naik ke permukaan.

Hidup di duniamu, walau sebentar ternyata sangat menyenangkan… Ular Air 🙂

Tapi jangan pertemukan saya dengan ular laut ya! Hii….ngerii.

Image

Posted in Uncategorized | Tagged , | Leave a comment

Welcome to The More Colorful World!

Tulisan ini terpikirkan tadi pagi waktu gw berangkat ke kantor sambil memandang Gunung Salak dari kejauhan.

Tadi malam, salah satu kakak senior dari klub diving di kampus menelfon. Sudah cukup lama juga gw nggak ngobrol sama kakak ini. Dan dia nelfon tepat setelah gw membuat twit seperti ini:

“Rasanya.. Apapun masalahnya.. Kalo inget sabtu latihan nyelem, langsung seger lagi.. :)”

Ya, akhir-akhir ini gw memang sedang mengalami tekanan di beberapa sisi kehidupan. Kerjaan, percintaan, pertemanan, keuangan.

Dalam bulan November ini, gw 3 kali mengalami jatuh miskin. Sempat kaya raya, lalu jatuh miskin demi berobat jerawat ke dokter kulit, lalu kaya raya lagi, miskin lagi karena uangnya dipakai modal usaha nyokap, lalu kaya lagi, lalu miskin lagi demi menanggulangi rumah yang hampir disegel. Dan ini tanggal 30. Titik nadir dimana gw merasa menjadi manusia paling miskin sekantor.

Lalu pekerjaan. Ini yang paling complicated diantara semua masalah yang bikin gw susah buang air besar.

Mungkin jenuh. Semua orang juga pasti mengalami jenuh terhadap pekerjaannya. Dan gw baru merasakan ini. Jenuh…hingga yang ada di otak gw cuma: resign.. resign.. resign.

Dan segambereng tekanan hidup lainnya.

Lalu gw membuat twit barusan. Seriously… This diving thing really makes me feel much better.

Apnea, atau menyelam dan berenang di dasar kolam itu sungguh-sungguh membuat gw merasa seperti superman. Dari yang awalnya gw takut banget berenang di dasar kolam, sampe gw sekarang yang nggak sabar pengen berenang dan “jadi superman lagi”.

Lalu kakak yang gw ceritakan di awal tadi, menelfon. Seperti pembicaraan yang selalu terjadi antara gw dan dia, gw selalu bersemangat menceritakan apapun. He’s a very good listener. Bagai mencari air ke sumber mata airnya, gw cerita semua pengalaman belajar diving gw ke dia. Mulai dari gw yang udah nggak takut lagi nyelem ke dasar, gw yang susah banget belajar buoyancy, sampe gw yang udah nggak sabar buat nyelem ke laut beneran. Hahaha…

Then he said, “Welcome to this world Ri. Welcome to the more colorful world.”

Ah… Apapun itu, gunung, laut…semuanya memang akan terlihat satu warna saja dari kejauhan. Siapa yang akan menyangka bahwa dunia bawah laut penuh dengan makhluk hidup yang beraneka warna, jika tidak ada yang pernah menyelami kedalamannya. Siapa yang tahu bahwa di gunung, ada bunga, daun, serangga, burung-burung beraneka warna yang kadangkala bersembunyi, mengintip atau mengejutkan secara tiba-tiba.

Dan gw merasa ini sudah sangat dekat sekali. Untuk menjadi salah satu manusia yang paling beruntung di dunia. Menyaksikan keindahan di tempat-tempat yang membutuhkan perjuangan untuk mencapainya. Tempat-tempat yang penuh dengan keindahan yang lebih dari sekedar keindahan biasa.

Posted in Uncategorized | Tagged , | Leave a comment

Cerita di negeri Krisdayanti dan Raul Lemos

Image

Panas…Gersang… Lahan di Timor Leste

Akhir-akhir ini setiap gw bilang lagi di Timor Leste, orang-orang di Facebook dan Twitter selalu rame “Ciye…mau cari duda tajir kayak Raul Lemos ya?” atau “ngapain ke Timor Leste? Mau nengokin Krisdayanti ya?” atau sekedar “Salam buat Krisdayanti ya!”. Sebenernya di tulisan ini juga gw mau konfirmasi, bahwa jawaban gw yang berkisar antara ‘nyari duda tajir’ itu bohong adanya!

Orang Timor Leste pertama yang ngobrol lumayan intens sama gw adalah keluarga pemilik Hotel Rochella Café. Adalah Rudolph, anak pemilik hotel yang membantu gw membuka koper (baca: 12 November 2012 di Timor Leste), memperbaiki AC kamar gw dan di hari-hari berikutnya kami selalu bertegur sapa. Ganteng ga? Yaa…tipe-tipe Raul Lemos gitu deh. Tapi bukan dudan. Dan gw bukan Krisdayanti. Cukup.

Mungkin karena memang baru merdeka, jadi ini negara menurut gw kompleks banget. Bahasa nasionalnya Portuguese, padahal orang-orangnya nggak bisa ngomong Portuguese. Di tempat-tempat umum 70% papan informasi, spanduk, dan sebagainya pakai bahasa Portuguese. Hanya 30% yang pakai bahasa Tetun, bahasa lokal Timor Leste. Di sekolah guru mengajar pakai bahasa Portuguese, buku-buku bahasa Portuguese. Oke anak-anak SD sekarang jago-jago ngomong bahasa Portuguese, tapi gimana dengan yang di masa peralihan? Yang udah lulus SMA dan mau lanjut kuliah misalnya. Apa mereka musti belajar bahasa Portuguese yang kata mereka sendiri jauh lebih ribet daripada bahasa Inggris? Akhirnya mereka kuliah di Indonesia. Dari ngobrol-ngobrol sama orang-orang di workshop gw baru tau bahwa sekitar 80% orang Timor Leste yang kuliah itu ya kuliahnya di Indonesia. Kalo anak orang kaya macam Rudolph ini okelah bisa kuliah di Indonesia. Tapi gimana dengan yang nggak mampu?

Jadi wajar aja semua orang bilang, di Timor Leste itu kesenjangan sosialnya tinggi sekali. Yang kaya kaya sekali, yang miskin miskin sekali. Yang baik baik sekali, yang brutal brutal sekali. Yang kaya bisa sekolah tinggi-tinggi. Yang miskin jualan baju bekas. Atau jadi preman. Atau ngemis.

Ah, macam di Indonesia enggak aja..

Kemarin ada anak laki-laki. Kecil, kurus, item, kotor sekali. Ngikutin gw waktu pulang dari supermarket. Sepanjang perjalanan sejauh + 500 meter nggak henti-hentinya dia memelas “kak minta uang kak minta uang kak minta uang kak minta uang kak……………..”

Mereka hidup di negara yang gersang. Tanah gersang, pekerjaan susah, segalanya mahal. Belanja apapun pakai USD. Dan harganya 100-150% lebih mahal dibanding harga barang-barang di Indonesia. Oke, maksud gw Indonesia bagian Barat. Karena Indonesia bagian Timur mungkin kondisinya pun nggak lebih baik dari ini.

Setidaknya dengan memerdekakan diri, Timor Leste bisa perlahan-lahan membangun kehidupannya tanpa digerogoti oleh tikus-tikus brengsek di Jakarta. Walaupun sangat sulit dan berat membangun kembali konstruksi sosial-ekonomi yang sudah rusak sejak zaman pemerintahan Indonesia dulu.

Image

Anak-anak Timor Leste yang Menguasai 3 Bahasa: Tetun, Portuguese, Indonesia… Sebagian juga bisa bahasa Inggris

Tapi melihat kota Dili mulai di bangun, masyarakat bermain dengan keluarganya, melepaskan kejenuhan akan masalah ekonominya di taman-taman kota, gw jadi mikir… Apa perlu daerah-daerah tertinggal di Indonesia lainnya memerdekakan diri dulu untuk bisa membangun wilayahnya?

Dan gw juga jadi mikir, ‘ah, egois sekali kita yang selama ini menahan-nahan Papua untuk merdeka. Sumberdaya mereka habis entah oleh siapa. Masyarakatnya miskin dan terbelakang. Atau jangan-jangan sengaja dibuat terus terbelakang agar mereka tidak memiliki kapasitas untuk membangun negara sendiri?’

Papua…

Lautnya indah, daratannya indah, luar biasa kaya sumberdaya alamnya. Tapi merana sekali nasib masyarakatnya…

Ah, jahat sekali kita – Indonesia – ini.

Posted in Uncategorized | Tagged | 4 Comments