Belajar dari Heraclitus…

Wah lama juga ya sejak terakhir kali menulis di blog ini… Perjalanan ke Bali di Juni tahun lalu memang perjalanan liburan panjang terakhir sebelum akhirnya saya melanjutkan kuliah, dan nyaris tidak melakukan perjalanan yang panjang lagi. Tapi sebetulnya ada banyak sekali hal menarik yang terjadi di sepanjang satu tahun ke belakang.

“You couldn’t step twice into the same river”, kata Heraclitus, filsuf Yunani yang hidup tahun 535 BC – 475 BC. Entah kakinya atau air yang mengalir di sungainya, yang jelas nggak ada satu pun di dunia ini yang nggak berubah. Termasuk diri kita.

Perubahan bisa datang dari diri kita sendiri, dari hasil kontemplasi atau pengaruh lingkungan dan orang-orang yang datang dan pergi. Berita buruknya, satu orang yang keberadaannya sangat berarti dalam siklus perubahan hidup saya baru saja pergi tahun ini. Minggu, 20 April 2014 seorang sahabat, saudara satu angkatan di Lawalata IPB, salah satu orang pertama yang saya kenal, yang paling dekat selama masa di IPB, Aji Muchamad Huda alias Aza, berpulang. Kemana? Entahlah… Yang jelas dia sekarang berada di satu dimensi lain yang nggak lagi membutuhkan raga bagi kehidupannya. Dan karenanya, hidup di sana pasti lebih damai daripada di sini.

Aza meninggal di kecelakaan Arung Jeram di Sungai Cisadane, Bogor. Kronologisnya bisa dilihat di http://lawalataipb.org/suasana-duka-menyelimuti/

Seperti kata Heraclitus, air mengalir dalam sungai sehingga setiap kali kita menapak akan selalu ada air baru yang menyetuh kaki kita. Ada air yang pergi, ada air yang datang. Ada satu sahabat yang pergi, ada satu sahabat datang. Yang ini agak berbeda.

Saking bergairahnya menceburkan diri di sungai baru ini, akhirnya kita bisa tahu bahwa bukan hanya airnya yang berubah, tapi kakinya juga berubah. Saya berubah…

Air di sungai ini mengalir dari tempat yang jauh di utara, dimana penduduknya dicap arogan, kultur yang dicap individual, karakter yang sama dingin dengan cuacanya. Tapi sesuatu memang akan terlihat sama sekali buruk dan sama sekali baik jika hanya dari kejauhan. Dari dekat kita bisa lihat bahwa warna itu bukan cuma hitam atau putih. Ada juga hijau, jingga, ungu.

Namanya Nick, beberapa panggil dia Dadang. Warnanya bukan hitam seperti kata orang-orang (saya tidak sedang membicarakan ras). Bagi saya dia Jingga. Manis agak keasam-asaman, yang pasti segar. Dia spesial, seperti momen matahari terbenam.

Di dekatnya saya seperti ingin melompat dan menari. Seperti kumang yang tidak takut lagi keluar dari cangkang. Kumang yang baru sadar bahwa di lautan ada banyak sekali kejutan. Kamu boleh jadi kumang yang membosankan dan meringkuk di dalam cangkang, atau keluar, mengambil resiko, jadi apapun yang kamu mau, ikut dalam arus kegilaan dan berenang. Pada akhirnya semua itu pilihan kan?! 🙂

Advertisements

About rpatriana

"a frog who try to sneak out of the coconut shell" - 2dayanotherday.wordpress.com
This entry was posted in Traveling, Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

3 Responses to Belajar dari Heraclitus…

  1. susi susi says:

    saya suka blog mu ! seperti nya saya berpindah ke moment berikut ny terlalu cepat haha.. saya pingin kembali menikmati moment2 sebelum ny dengan waktu yg lebih lama haha… but life must go on 😀

  2. Terakhir aku pake ungkapannya Heraclitus river di dalam sebuah isian formulir. Dilalah tuh isian mengantarku ke tahap berikutnya dari pelajaran hidup. #JWH. Mungkin kamu bisa juga nyoba ikutan mengisi JWH? Dan lihat bagaimana si kumang membawa dirinya terbang keluar tempurung kelapa atau ke lautan lepas. Hehe

    Keep glowing!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s