Nusa Penida, Perubahan Iklim dan Wanita Penantang Gelombang

Bali, 5-10 Juni 2013

Checkpoint 3: Rumah Ibu Luh Padmi, Desa Ped, Nusa Penida

Kuta Utara, Sabtu jam 6 pagi ketika matahari baru sejengkal menampakkan diri. Di tepi Jalan Tangkuban Perahu saya melangkah pelan sambil menggendong sebuah daypack dan menenteng dry bag berisi alat dasar selam, harap-harap cemas menunggu taksi yang akan mengantar saya ke Sanur. Satu tujuan yang pasti pagi itu, “harus menyebrang ke Nusa Penida dengan Jukung yang berangkat jam 7”.

Jam 6.40 taksi berhenti di depan gardu tiket masuk ke pantai Sanur. Demi menghemat pengeluaran, saya turun dan mulai berjalan kaki dari titik ini, karena setiap kendaraan yang masuk akan dikenakan biaya tambahan. Setengah berlari, saya langsung menuju pantai dimana Jukung seharusnya bersandar. Namun apa yang terjadi? Perahu kayu dengan dua cadik, yang 6 tahun lalu saya tumpangi untuk menyebrang ke Nusa Penida itu ternyata tidak beroperasi lagi.

Semua orang yang saya tanyai perihal Jukung ini menjawab dengan nada yang sama “Jukung sudah tidak ada mbak, lebih enak naik speedboat, cepat, harganya tidak beda jauh dengan Jukung dulu”. Tapi bagi saya, Jukung lebih dari sekedar alat transportasi. Karena perahu ini menyimpan begitu banyak kenangan yang pernah saya lewati bersama 15 sahabat. Ekspedisi Nusa Penida tahun 2007. Sebuah perjalanan yang kelak menjadi cikal bakal nama angkatan di kelompok pecinta alam kami: Lawalata angkatan Nusa Penida.

Harapan untuk bernostalgia di atas Jukung pun pupus. Di konter penjualan tiket speedboat saya berdiri memandangi jadwal penyebrangan ke Nusa Penida. Gawat!  Speedboat juga akan berangkat pukul 7 pagi. Setelah membeli tiket seharga Rp.65.000, saya langsung berlari ke arah barat daya dimana semua speedboat berkumpul. Perahu yang saya tumpangi bernama Prasi Sentana, seperti nama seekor kuda. Kuda yang menyebrangi lautan dari Sanur menuju Nusa Penida hanya dalam waktu 30 menit. Sungguh berbeda dengan Jukung yang memanjakan kita dengan berlayar selama 2 sampai 3 jam.

Image

The Last Passenger…

IMG_2328

Menuju Nusa Penida… Dimana matahari terbit pertama kali.

Ada satu perasaan yang membuat dada ini rasanya ingin meledak di detik pertama saya menginjakkan kaki di pasir pantai Toyapakeh, Nusa Penida. Sebuah rasa yang jika diteriakkan kurang lebih bunyinya akan seperti ini:  “Woooyyy!! Bucok, Kliwon, Trening, Menyeng, Nene, Mping, Pesong, Patkai, Turbo, Bronky, Kipli, Upil, Aja, Jeby, Sukro!! Gue ke Nusa Penida lagi! Coba lo semua ada di sini…!!”.

Let me introduce my Nusa Penida Geng! (ki-ka) Jeby, Sukro, Kliwon, Kipli, Menyeng, Pesong (ketutupan), Trening, Mping, Bronky, Ubo, Ntip (saya), Nene, Bucok, Patkay, Upil, Aja. (Nusa Penida, 2007)

Geng Nusa Penida kami! 🙂 (ki-ka) Jeby, Sukro, Kliwon, Kipli, Menyeng, Pesong (ketutupan), Trening, Mping, Bronky, Ubo, Ntip (saya), Nene, Bucok, Patkay, Upil, Aja.
(Nusa Penida, 2007)

Menuju Desa Ped, saya diantar oleh Warsita, seorang mahasiswa Sastra Jepang Universitas Udayana semester 6, pemuda asli Nusa Penida yang saya kenal di speedboat. Dari Toyapakeh, kami bermotor ke arah Timur, melewati perkebunan kelapa, kandang-kandang babi, dan hamparan rumput laut yang sedang dijemur. Warsita tidak kenal dengan Ibu Luh Padmi, sehingga tujuan kami saat itu adalah Penangkaran Jalak Bali di Desa Ped. Namun pada beberapa puluh meter sebelum kami tiba di penangkaran, saya melihat sebaris senyuman ramah yang begitu familiar. Dari seorang ibu yang sedang mengikati rumput laut di halaman samping rumahnya. Dengan cepat saya minta Warsita berhenti, menyampaikan ucapan terima kasih kepadanya, lalu melesat berlari ke rumah ibu berwajah ramah tersebut.

Sang ibu tercenung melihat kehadiran saya. Saya berdiri mematung. Beberapa detik berlalu, akhirnya saya membuka mulut. “Ibu masih ingat saya?”. Mendengar ucapan tersebut ibu langsung meninggalkan rumput lautnya, berdiri, menghambur memeluki saya. “Ya ampun Riaa!! Ini ria…??” ucapnya tak percaya. Lalu kami menghabiskan sebuah pelukan yang panjang. Ibu menangis. Saya pun menangis. Kadek dan Luh Padmi, adik-adikku, berdiri di depan pintu memandang tak percaya, lalu sejurus kemudian turut menghambur dan berteriak  “Kak Riaa….!!”

Begitulah akhirnya kisah si anak hilang yang kembali ke kampung halamannya. Berkat ekspedisi Lawalata, saya berada di keluarga kecil ini. Pagi itu Ibu Luh Padmi membawa saya berkeliling ke rumah para tetangga, memaksa mereka untuk memutar balik ingatannya ke tahun 2007. “Ini Ria… Ria dari Bogor yang dulu pernah tinggal di sini”  ucap Bu Luh Padmi dengan berlinang air mata, dan kemudian disahuti oleh tetangganya dengan “Oh, Ria yang dulu sama teman-temannya ke sini? Kok sekarang berubah? Dulu cantik” atau “Oh, iya Ria yang cantik? Kok sekarang berubah? Teman-temannya mana? Johan mana?”. Entah berapa puluh kali saya harus bercerita tentang Johan, si kakak senior yang juga dekat dengan Bu Luh Padmi. Bercerita tentang bagaimana nasib 15 begundal yang dulu bersama saya ke sini. Bercerita tentang Anggi, si pesepeda keliling Indonesia yang dulu juga pernah mampir ke sini. Dan tentunya juga bercerita tentang kenapa saya yang sekarang tidak secantik dahulu lagi 😛

IMG_2543

Nusa Penida, 2007. Belakang: (ki-ka) Saya, Ibu Luh Padmi, Bapak, Kak Johan. Depan: (ki-ka) Luh Padmi, Kadek.

IMG_2564

Nusa Penida, 2013. See how much they’ve grown up! 😀
(ki-ka) Saya, Luh Padmi, Kadek

Oke, lupakan sejenak masalah perubahan tampang. Mari kita bahas tentang rumput laut Nusa Penida. Pulau di sebelah tenggara Bali ini memang terkenal sebagai lumbung rumput laut. Hal pertama yang akan kita pertanyaan ketika pertama kali tiba di pulau ini biasanya adalah “ini apaan sih yang dijemur, kuning-kuning, bau amis pula?“. Itu dia rumput laut yang biasa kita makan di es campur. Jangan bayangkan rumput laut yang baru diambil di laut rasanya akan seenak rumput laut es campur. Saya pernah mencoba memakannya langsung, dan rasanya asin saudara-saudara. Itu kenapa rumput laut setelah dipanen harus dijemur terlebih dahulu, untuk mengurangi kandungan air dan garam dalam rongga-rongga tubuhnya.

IMG_2340

Jemuran Rumput Laut

Budidaya Rumput Laut di Nusa Penida

Banyak penduduk Nusa Penida bekerja sebagai pembudidaya rumput laut, membudidayakan rumput laut di pantai belakang rumahnya. Kurang jelas. Pantai yang putih pasirnya, jernih airnya dan indah terumbu karangnya. Tapi kita harus merelakan sedikit bagian dari pantai ini untuk tidak berterumbu karang, karena disinilah rumput laut tumbuh dan menghidupi ratusan jiwa masyarakat pantai Nusa Penida.

IMG_2505

Lahan rumput laut…

Ada 2 jenis rumput laut yang dibudidayakan oleh masyarakat Nusa Penida, yaitu Eucheuma spinosum dan Eucheuma cottoniE. spinosum memiliki tekstur kulit lebih kasar. Sedangkan E. cottoni memiliki tekstur kulit yang licin, warna lebih cerah dan harganya lebih mahal. Namun kini mereka hanya membudidayakan rumput laut E. spinosum meskipun harga jualnya lebih murah, karena kondisi lingkungan yang membuat E. cottoni semakin sulit dibudidayakan.

IMG_2561

Eucheuma spinosum

Budidaya rumput laut di Nusa Penida menggunakan sistem lepas dasar atau off bottom method, yaitu dengan mengikat ranting rumput laut pada seutas tali ris yang kemudian diikatkan pada patok-patok yang ditanam di laut. Tali ris yang digunakan biasanya adalah tambang plastik, dimana di setiap 15 cm terdapat tali kecil (biasanya terbuat dari plastik es lilin) yang berfungsi sebagai pengikat rumput laut. Dalam satu ikatan terdapat 2 potongan ranting rumput laut. Rumput laut yang digunakan sebagai bibit harus merupakan ranting yang muda, memiliki banyak cabang, sehat dan tidak terkena busuk batang.

Busuk batang adalah masalah utama budidaya rumput laut di Nusa Penida. Majalah Salam (Petani Sustainable Agriculture Magazine) edisi 26 Januari 2009 yang mengangkat tema perubahan iklim pada sektor pertanian, dalam satu artikelnya membahas persoalan menurunnya produksi rumput laut di Nusa Penida akibat mewabahnya busuk batang atau ice-ice. Dalam artikel tersebut dipaparkan bahwa busuk batang terjadi akibat cuaca ekstrim yang menyebabkan perubahan kadar garam, struktur kimia lainnya ataupun meningkatnya suhu air laut sehingga mengurangi kemampuan rumput laut dalam menyerap nutrisi. Hal ini diperburuk oleh kondisi ombak yang kencang yang menyebabkan rumput laut lebih mudah rontok.

Dari tahun ke tahun produksi rumput laut di Nusa Penida mengalami penurunan, ini pun dirasakan oleh Ibu Luh Padmi dan tetangga-tetangganya. Karena busuk batang yang selalu menyerang hasil panen, kini hampir semua petani harus membeli bibit baru dari pulau lain untuk ditanam di lahannya. Kemandirian petani rumput laut pun tercerabut oleh perubahan iklim. Biaya produksi semakin mahal. Tapi rumput laut tetap harus ditanam. Strateginya adalah dengan melakukan panen dini, sebelum rumput laut yang rontok semakin banyak, meskipun hal ini menjadikan beban pekerjaan para wanita di Nusa Penida menjadi berlipat ganda. Kenapa?

IMG_2554

Mbok Wayan. Mengikati bibit rumput laut.

Para Wanita Penantang Gelombang

Saya mengklasifikasikan tahapan budidaya rumput laut masyarakat Nusa Penida dalam 5 kegiatan utama, yaitu (1) persiapan bibit, (2) persiapan lahan, (3) penanaman, (4) pemanenan dan (5) penjemuran. Persiapan bibit meliputi kegiatan mengikati satu persatu rumput laut pada tali-tali kecil yang terdapat di sepanjang tali ris. Persiapan lahan meliputi kegiatan memasang serta memperbaiki patok-patok di laut yang akan digunakan untuk mengikat tali ris. Penanaman yaitu kegiatan memasang tali ris yang sudah berisikan bibit rumput laut ke patok-patok. Pemanenan yaitu melepas ikatan dan mengangkut tali ris beserta rumput laut yang telah tumbuh besar ke daratan. Sedangkan penjemuran adalah kegiatan mengeringkan rumput laut yang telah dipanen di bawah sinar matahari, untuk kemudian menjualnya.

Setidaknya tiga dari lima pekerjaan tersebut (persiapan bibit, penanaman dan pemanenan) adalah pekerjaan yang membutuhkan peranan wanita lebih besar dibanding yang lainnya. Persiapan bibit dimulai sejak pagi hingga lepas siang. Berpuluh-puluh kilo rumput laut dirangkai di sepanjang tali ris oleh ibu-ibu rumah tangga ini dalam sehari. Jika air mulai surut mereka segera turun ke laut untuk melakukan pemanenan. Para suami membantu mengangkut rumput laut yang telah dipanen ke darat, sambil mengurus rumput laut yang telah dijemur dan mempersiapkan kayu-kayu akan yang digunakan untuk mengganti patok yang mulai rusak. Setelah rumput laut yang lama selesai di panen, penanaman rumput laut yang baru pun dimulai. Bibit rumput laut diangkut oleh para suami ke lahan. Sang istri masih tidak beranjak dari rendaman air garam. Satu persatu tali ris diikatkan ke patok oleh para istri, sedang para suami beraksi dengan kayu dan palu, memperbaiki patok-patok yang tidak lagi kokoh.

Sabtu, 8 Juni yang lalu saya berkesempatan untuk “memakai sepatu” ibu-ibu petani rumput laut ini: mempersiapkan bibit, memanen dan menanam rumput laut. Setelah tangan mulai keriput akibat mengikati rumput laut sejak pagi, pukul 2 siang saya dan Ibu Luh Padmi turun ke pantai untuk memanen. Ibu berjalan duluan, terlihat badannya tergoyang-goyang oleh ombak yang masih menghempas kencang. Saya berenang mengikuti ibu, dengan alat dasar selam lengkap (fins, masker dan snorkel). Tidak ada masalah yang berarti. Petak rumput laut ibu berada di bagian yang lebih dalam, lebih menjauhi pantai. Dan ombak di Nusa Penida ini tidak hanya pecah di pantai, tapi juga di tengah. Dengan perpaduan angin yang kencang, lengkaplah permasalahan yang menimpa saya ketika mulai menegakkan badan. Selamat membantu ibu memanen rumput laut, menghadang gelombang dan berdamai dengan arus laut yang dahsyat ini ya Ria!

IMG_2399

Ibu Luh Padmi, bersiap menyelam… (Lihat ombaknya!)

Inti dari pemanenan sebetulnya adalah melepas satu persatu tali ris, kemudian menggulung dan meletakkannya ke atas sebuah ban dalam yang telah digembungkan dan diikatkan pada patok di dasar laut. Namun jangan bayangkan kegiatan memanen rumput laut sesederhana menceburkan diri dan menggulung-gulung tali. Beratnya tali dan rumput laut yang harus diangkat dan kerasnya ombak yang terus menyiksa keseimbangan adalah 2 perkara yang membuat saya harus mengakui kekuatan perempuan di hadapan saya ini. Ia yang menyelam hanya dengan bermodal masker dan sandal jepit.

Berulang kali saya mencoba membantu membuka ikatan tali yang ujungnya sudah ibu lepas terlebih dahulu. Menyelam sambil berpegangan kuat pada patok kayu. Terus berusaha di tengah ombak yang menghantam bertubi-tubi. Dan selalu kehabisan nafas sebelum ikatan sempat terbuka. Saya gagal. Mungkin hanya 2 atau 3 tali ris saja yang berhasil saya buka ikatannya sepanjang sore itu. Itu pun tetap ibu yang harus menggulungnya, karena keseimbangan tubuh saya yang masih tidak akrab dengan ombak Nusa Penida. Sertifikat selam pun rasanya tidak berarti apa-apa di hadapan para wanita penantang gelombang ini.

IMG_2386

Menyelam dan melepas satu persatu ikatan tali ris di tengah arus yang kencang…

IMG_2389

Berdamai dengan ombak pun rasanya sulit sekali, apalagi harus mengangkat gulungan tali berisikan rumput laut yang luar biasa berat ini…

Akhirnya saya menyerah, hanya membantu ibu memunguti rumput laut yang rontok dan mengumpulkannya ke dalam keranjang. Betapa busuk batang benar-benar mewabah di lahan rumput laut ibu. Begitu banyak rumput laut yang rontok akibat busuk batang, hingga saat ibu sudah mulai melakukan penanaman, saya masih harus memunguti rumput laut yang tersangkut di jaring yang mengelilingi lahan.

Maka mari kita bayangkan jika cuaca ekstrim selalu terjadi dan busuk batang selalu menyerang. Jika panen dini adalah satu-satunya langkah terakhir, maka pekerjaan ini – mengikat, memanen, menanam – harus selalu dilakukan oleh ibu-ibu di Nusa Penida. Tidak ada pilihan lain. Setiap hari mereka harus bergumul dengan garam. Mengikati rumput laut hingga tangan keriput. Berjam-jam berjuang di bawah terik matahari. Menghadang kerasnya gelombang. Pagi hingga petang, 7 hari dalam seminggu. Karena hidup harus terus berjalan. Dan ternyata hidup memang membutuhkan perjuangan…

IMG_2405

Life is tough dude!

Keesokan harinya saya positif masuk angin. Rencana menyelam di Crystal Bay atau Padang Bai pun gagal. Untungnya kemarin setelah membantu ibu memanen saya sempat skin diving di dekat petak rumput laut kami. Sebetulnya masih ingin membantu menanam, tapi ibu melarang karena melihat saya yang kerap tersedak setiap kali berusaha mengikatkan tali. Akhirnya sore itu saya habiskan dengan hunting foto! 🙂

IMG_2421

Sore di Pantai Desa Ped…

IMG_2495

Bapak 🙂

IMG_2494

Triggerfish sedang asik bermain di lahan rumput laut… Jangan gigit kaki ibu ya!

IMG_2456

Kehidupan bawah laut di beberapa meter setalah petak rumput laut kami…

IMG_2463

Banyak table coral besar-besarr…

IMG_2464

Moorish idol dimana-mana

IMG_2472

Woy spongeboob!! Nih Patrick ngumpet di sini nihh….

IMG_2544

Aktivitas di malam hari: ngerumpi sambil memperbaiki tali ris

IMG_2357

Ibu Luh Padmi 🙂

Minggu, 9 Juni 2013 pukul 13, saya kembali ke Kuta. Ibu Luh Padmi memberikan saya banyak bekal camilan dan minuman untuk di perjalanan. Bli Wayan, Luh Padmi dan Kadek mengantar saya hingga ke Pelabuhan Toyapakeh. Rasa haru kembali menyeruak ketika kapal yang saya tumpangi mulai beranjak meninggalkan Nusa Penida. Seperti anak yang pergi merantau, suatu hari saya pasti akan kembali lagi ke pulau ini :’)

IMG_2589

Meninggalkan Nusa Penida…

Di Sanur, saya dijemput oleh Kadek, adik Bli Wayan yang sedang meneruskan kuliah di sekolah pariwisata dekat Pantai Sanur. Kadek mengantar saya hingga ke Kuta, persinggahan terakhir sebelum akhirnya kembali ke Bogor besok pagi. Di Kuta saya disambut oleh Maman, Meyfel dan Steve, 3 orang sahabat yang paling berjasa, yang di tengah-tengah kesibukan divingnya masih bisa menemani saya hunting ikan bakar, mengajari main Paranto, dan membuat malam terakhir di Bali menjadi penuh warna. Merah, kuning, hijau kan? 🙂

IMG_2644

Let me introduce you My Handsome Brothers: Redtoothed, Nemo, and Sharky

Advertisements

About rpatriana

"a frog who try to sneak out of the coconut shell" - 2dayanotherday.wordpress.com
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Nusa Penida, Perubahan Iklim dan Wanita Penantang Gelombang

  1. Riska says:

    Mbak Riii, kalo ke sana lagi ajak aku sertaa dooong….
    Seru banget kayaknyaaa.. Huhuhuh

  2. Riska says:

    Mau! Mau! 😀

  3. ike says:

    keren kak ceritanya…
    ikut terharu pas ketemu sama ibu padmi.
    btw, itu foto di dinding kenapa cuma ada kamu sama ka johan?
    yang lain pada kemana?

    • rpatriana says:

      Aku agak lupa sebenernya itu foto diambilnya kapan dan gimana sen.. Yang jelas karena aku sama kak Jo tim advance, jadi sebelum anak2 datang kami udah kenal sama ibu2 di sana, jadi lebih deket mungkin ya…
      Hehehe…. Makasih ya 😉

  4. widadanusa says:

    tanggal 8-11 ada festival nusa penida lho,,,,
    kalau ada waktu silahkan kembali mampir,,
    salam,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s