USAT Liberty: The voyage of broken ship

When you’re traveling alone, you’ll realize that in the end, no matter how hard life treats you, you’re the one who should decide whether you’re going to be happy or not, whether your journey will be fun or boring, and whether you will remain alone or meet lots of new friend along your journey. Indeed, friendship is treasure, traveling is a cure and happiness is a choice. – Ria, 2013

Bali, 5-10 Juni 2013

Berangkat sendiri dari Bogor, menuju Kuta, tempat dimana seorang sahabat tinggal dan berkarir di sana. Berkarir? Hmm…mungkin dia tidak begitu menyukai kata ini.

Namanya Maman, teman yang saya kenal di Palembang akhir 2010 ketika sedang jadi Spiderman, menjual kemampuan Single Rope Technique kami untuk membersihkan Gedung Pajak di sebelah Kambang Iwak. Setelah berkarir sebagai climber, kemudian caver, paraglider dan canyoneer (bener ga sih istilahnya?), saat ini status resminya di Bali adalah seorang diver. Hampir semua dive spot di pesisir Island of God ini telah diselaminya. Dan hingga kedepannya, dia adalah salah satu orang yang paling berjasa dalam memberi support dan advise terhadap penyelaman-penyelaman yang akan saya lakukan, selain Kak Efin yang tentunya juga sangat berjasa karena telah meminjami saya underwater kamera dan membuat saya percaya bahwa perjalanan ini pasti bisa dilakukan.

I’m really thankful that God gave me such wonderful friends like you both! *terharu :’)

Checkpoint 1: Krobokan, Kuta Utara, Badung, Bali

Tiba di Bali, tepatnya di kos-kosan Maman di Kuta Utara. Yap, this place’s gonna be my temporarily home during this trip. Hal pertama yang saya lakukan setelah meletakkan pantat di tempat ini adalah “menyusun itinerary”. Bodoh bukan? Traveler macam apa yang menyusun itinerary setelah tiba di lokasi. Setelah berdiskusi dengan Maman, membolak-balik peta, dan mengira-ngira, maka inilah jadwal perjalanan saya selama 6 – 10 Juni 2013 di Bali:

Kamis, 6 Juni 2013:

Pagi – Siang : Berangkat ke Tulamben, naik motor lewat jalur pantai Timur Bali.

Siang – Sore : Istirahat dan prepare untuk penyelaman pagi esok harinya.

Jumat, 7 Juni 2013:

Pagi – Siang : Diving di 2 spot di Tulamben

Siang – Sore : Kembali ke Kuta

Sabtu, 8 Juni 2013:

Pagi : Berangkat ke Nusa Penida via Sanur

Minggu, 9 Juni 2013:

Plan A. Pagi: Diving di Crystal Bay – Sore: Kembali ke Kuta via Sanur

Plan B. Pagi: Nyebrang ke Bali via Padang Bay, diving di Padang Bay, kembali ke Kuta naik bus sampai terminal Ubung.

Senin, 10 Juni 2013:

Pagi: kembali ke Bogor, flight jam 9.

Setelah menyusun itinerary, giliran teknologi yang bekerja. Dengan GPS amatir di Blackberry 9800, saya marking tempat ini sebagai checkpoint 1 dan Tulamben sebagai checkpoint 2. Klik Get Direction, lalu muncul informasi: Distance: 60,6 miles; Estimated time: 1 hour 38 minutes. Estimasi waktu tempuh GPS ini setidaknya 2 kali lebih cepat dari dunia nyata, karena belum memperhitungkan kemacetan yang mungkin terjadi, lampu merah, istirahat dan sebagainya. Jadi perkiraan waktu tempuh saya dari Kuta ke Tulamben kira-kira 3 jam, melalui rute pantai timur Pulau Bali.

Hari Kamis pagi, berangkat dari Kuta menuju Tulamben dengan motor pinjaman (pinjam ke Maman, siapa lagi? Thanks Man! Your reward will be f*ckin huge in heaven! :-)). Karena malas membuka-buka GPS, akhirnya saya mengikuti arahan yang diberi oleh Maman: ‘dari By Pass lurus aja, ikutin arah ke Singaraja’. Oke, tanpa ragu-ragu saya mulai menarik gas motor mio biru ini menyusuri Sunset Road, By Pass Ngurah Rai, Jalan Gatot Subroto, dan… Apaa? Kenapa ke Kuta lagi?!

Singkat kata akhirnya saya menyadari hanya berputar-putar di kawasan yang sama. Berbelok ke arah Singaraja melalui Ubung, dan kemudian melenceng dari jalur yang digambarkan dalam GPS. Kalau mengikuti jalan ini artinya untuk mencapai Tulamben kita akan melewati jalur tengah, memotong Pulau Bali jadi dua, kemudian di Utara sana belok ke timur menuju Kubu. Dan jalur tengah ini akan melewati banyak perbukitan, lewat bedugul, jauh lebih panjang dibanding jalur Timur dan tentunya saya tidak tega pada si mio biru. Akhirnya saya putar balik, dengan patuh mengikuti arahan GPS ke Jalan Prof. IB Mantra, menuju Amlapura, lewat Padang Bai dan Candidasa, hingga akhirnya tiba di Jalan Kubu – Abang, dimana Desa Tulamben berada. Total waktu perjalanan 5 jam. Termasuk nyasar, makan bakso di jalan, foto-foto pemandangan dan berpuluh-puluh kali berhenti untuk mengecek GPS.

Image

Lonely Rider

Image

Setelah sekian lama, akhirnya sign yang bertuliskan “Tulamben” muncul juga… (Amlapura, Bali)

Image

Banyak hal yang membuat perjalanan ini lebih dari sekedar “menuju Tulamben”. Perjalanan bermotor dari Kuta ke Tulamben adalah perjalanan menyusuri Pulau Bali dari Selatan ke Utara, jadi jangan sia-siakan apa yang ada di antaranya 🙂

Image

Gapura “Selamat Datang di Tulamben”. Tiba di gapura ini, saya merasa seperti bertemu pacar yang sudah long distance selama bertahun-tahun :’) *terharu*

Checkpoint 2: Matahari Tulamben Dive Resort

Resort ini berada tepat di pinggir Jalan Raya Kubu Abang, tidak sulit mencarinya. Memperoleh Traveller’s Choice Award dari Tripadvisor, resort ini nyaris tidak pernah sepi pengunjung. Saya mendapatkan kamar terakhir ketika pagi tadi menelpon Ibu Suci, pemilik resort, untuk booking. Harga kamar yang saya tempati adalah Rp.200.000 per malam, dengan fasilitas twin bed, hot shower, beranda pribadi, free wi-fi dan breakfast. Fasilitas resortnya juga tidak sembarangan. Ada spa, kolam renang, restoran di pinggir pantai, serta kursi malas dan hammock yang bertebaran di taman-tamannya yang rindang.

Image

Matahari Tulamben Dive Resort, tepat di pinggir Jalan Raya Kubu – Abang.

Gerbang yang akan menuntun kita ke kamar-kamar yang berjejer di sepanjang  taman...

Gerbang yang akan menuntun kita ke kamar-kamar yang berjejer di sepanjang taman…

IMG_2013

Spot yang pas banget buat begadang ngopi sambil main Paranto! (lirik Maman, Meyfel, Steve)

IMG_2009

atau sekedar bengong di atas hammock, ngayal dan ketiduran…

IMG_2038

Spot favorit buat yang lagi surface interval, apalagi yang kena mabok laut…

IMG_2006

Buat yang mau berjemur di pinggir pantai, halaman samping dive center ini juga oke punya…

Begitu tiba di resort, saya langsung disambut oleh staf-stafnya yang ramah. Setelah check-in mereka segera mengantar saya ke kamar untuk menyimpan barang, kemudian saya di bawa ke resto untuk menikmati welcome drink sambil merasakan sejuknya udara pantai Tulamben. Dive center berada tidak jauh dari resto. Saya langsung menuju ke sana, berkenalan dengan guide-guidenya sekaligus menanyakan paket-paket diving yang mereka sediakan. Pilihan saya jatuh pada paket 2 kali diving, di USAT Liberty Wreck dan Drop-off, dengan biaya total sekitar Rp.600.000, sudah termasuk alat, guide, porter serta pajak menyelam dari desa dan pemerintah.

Image

View dari resto tempat saya menikmati welcome drink pertama kali, dan hingga keesokan harinya menjadi pusat aktivitas saya selama di resort ini.

Jumat, 7 Juni 2013, jam 6 pagi saya sudah stand by di dive center. Setting alat selam sambil iseng-iseng foto sunrise dari pinggir pantai. Terlihat di sana-sini early diver lainnya juga sedang siap-siap, karena konon katanya, sekitar jam 7 pagi di Liberty Wreck kita bisa bertemu rombongan Bumphead Parrotfish yang panjang badan setiap ikannya lebih dari 1 meter. Selain itu, biasanya semakin siang dive spot ini akan semakin ramai oleh rombongan penyelam dari berbagai tempat di Pulau Bali.

IMG_2049

Sunrise of Tulamben

Starting point penyelaman Liberty wreck sekitar 200 meter di sebelah utara Matahari Resort, itu kenapa kita disarankan untuk menggunakan open heel fins dengan booties jika menyelam di sini. Karena pasti pusing jika pakai full foot fins dan jalan mundur sejauh 200 meter, hehe… Semua peralatan akan dibawa oleh porter, yang sebagian besar adalah ibu-ibu rumah tangga yang luar biasa kuatnya. Tidak tanggung-tanggung, dua set alat selam mereka panggul sekaligus di atas kepala. Rasakan dilema yang akan menerpa kita ketika melihat pemandangan ini.

Kami – saya, Pak Wiliam dan Bli Suwana – mulai beach entry pukul 6.45. Perlahan-lahan berenang dari pantai berbatu ke arah laut, hingga akhirnya saya menyaksikan sesosok bayangan raksasa menjulang dari kedalaman. USAT Liberty Ship Wreck! Jantung saya mulai berdebar-debar kencang.

IMG_2052

Bayangan USAT Liberty yang kami lihat pertama kali…

Tubuh Liberty kami jelajahi mulai dari reruntuhan di sisi kanan. Saya langsung membayangkan bagaimana dahsyatnya letusan Gunung Agung di tahun 1963 yang menyebabkan kapal ini terdorong dari pantai hingga ke dasar laut. Kini, setengah abad dari kejadian tersebut, Liberty telah membawa keajaiban bagi banyak makhluk hidup di Tulamben. Semua bagian dan puing-puing kapal telah ditumbuhi oleh beraneka jenis karang, hydroid dan tumbuhan laut lainnya. Begitu melimpahnya nutrisi di sekitar wreck ini, hingga berjuta-juta ikan serta binatang laut hidup di sini dan menjadi daya tarik para penyelam. Dimana ada wisatawan, di situ uang berputar. Masyarakat Desa Tulamben pun pada akhirnya ikut menikmati berkah yang dibawa oleh reruntuhan Liberty.

IMG_2054

Reruntuhan USAT Liberty yang menjadi sumber kehidupan…

IMG_2059

Bumphead Parrotfish Schooling akhirnya kami temui juga pagi itu…

IMG_2078

Spooky tapi penasaran… USAT Liberty betul-betul seperti magnet yang membuat kita ingin terus memasukinya lebih jauh…lebih dalam…

IMG_2120

Clownfish and the anemone of USAT Liberty Wreck

IMG_2096

Penyu juga seneng main di wreck lho…

IMG_2103

Garden Eel yang selalu mengajak kita untuk berjoget bersama….

Setelah menyelam selama 60 menit di kedalaman 20 meter, akhirnya kami kembali ke permukaan. Istirahat di resort dan menikmati sarapan yang lezat. Pukul 10, saya dan Bli Suwana akan melanjutkan penyelaman di Tulamben Wall, alias Drop-off. Awalnya saya disarankan untuk menyelam di Coral Garden, tepat di depan Matahari resort. Namun berbagai macam taman terumbu karang sudah pernah saya selami sebelumnya di Pulau Seribu, Raja Ampat atau Karimun Jawa, sehingga saya memilih drop-off diving kali ini. Lagipula, Drop-off menawarkan apa yang telah lama saya cari-cari: Pygmy Seahorse.

IMG_2135

Surface interval. Santai dulu…

IMG_2134

Menu sarapan gratis yang saya pilih di resort: Scrumbled eggs, lemon juice, hot tea 🙂

IMG_2138

Me and My Buddy, Bli Suwana

Dari resort, kami – saya dan Bli Suwana – berjalan 200 meter ke arah selatan untuk mencapai starting point penyelaman di Drop-off. Terlihat banyak bule yang juga mulai beach entry di dive spot ini. Dari pantai, kami langsung berenang menuju wall yang berada di sekitar 50 meter dari starting point. Saya memperhatikan jarum deep gauge yang terus bergerak ke arah kanan, hingga akhirnya pada kedalaman 23 meter Bli Suwana berhenti di sebuah seafan berwarna kuning, lalu memberi sinyal dengan jari telunjuknya. Astaga! Pygmy!!

Saya mendekat, mencari-cari dimana si mungil itu berada. Bli Suwana menunjuk satu celah dengan tongkatnya. Akhirnya saya melihat sesosok makhluk yang sangat kecil, sewarna dengan seafan tempatnya berada. Hippocampus denise.

Berulang kali saya mencoba mengambil gambar dengan kamera G12 pinjaman yang baru kali ini saya pakai, ternyata memang susah sekali menangkap gambar Pygmy Seahorse ini. Seketika saya merasa salut dengan para underwater fotografer yang telah menghasilkan foto-foto Pygmy Seahorse dan mempublikasikannya di majalah-majalah selam. Bayangkan, kita harus mencari makhluk sekecil itu di antara celah-celah seafan yang sewarna dengan tubuhnya, mengontrol buoyancy, arah kamera, sudut gambar dan pencahayaan. Benar-benar membutuhkan kerjasama otot tangan, mata, otak dan kamera yang luar biasa. Akhirnya saya menyerah, merekam denise dalam benak dan kenangan saja.

IMG_2203

Walaupun tidak mendapatkan foto denise, setidaknya saya sempat bertemu dan mengambil foto Jackfish Schooling ini 🙂

IMG_2183

Beautiful Kima, isn’t it?

IMG_2178

Taraaa…!! My favorite pics of the day! Hairy Yellow Hermit Crab 🙂

IMG_2173

Ada banyak dan bermacam-macam jenis Lionfish juga lho di Drop-off spot Tulamben ini…

IMG_2261

Jackpot paling spesial dan paling surprise di penyelaman ini: Si Cantik Harlequin Shrimp 🙂

IMG_2235

Ini dia stonefish yang membuat saya hampir digigit Morray Eel…

IMG_2229

Beautiful Morray Eel

IMG_2227

Ini pemandangan yang akan kita lihat ketika safety stop setelah menyelam di Drop-off Tulamben…

IMG_2206

Maman’s brother… Redtoothed Triggerfish

Banyak hal seru terjadi selama penyelaman di USAT Liberty dan Drop-off. Salah satunya ketika tangan saya nyaris digigit moray eel yang muncul tiba-tiba dari celah bebatuan di samping stonefish yang sedang saya foto. Untung saja saya cepat menangkap pergerakan belut kecil ini dan segera menarik tangan jauh-jauh, kalau tidak, mungkin saya akan pulang dengan tangan kanan menarik gas motor sambil menahan perih akibat digigit moray eel, selama 3 jam.

Hal seru lainnya adalah ketika kami menemukan Harlequin Shrimp di bawah bebatuan tempat kami melakukan safety stop. Sungguh tidak menyangka akan dapat bertemu dengan makhluk langka nan cantik itu di sini. Tulamben memang benar-benar jauh melampaui ekspektasi saya terhadap sebuah situs penyelaman di Pulau Bali. Dan sekali lagi, berkat USAT Liberty, Drop-off menjadi Drop-off dan Coral Garden menjadi Coral Garden. Siapa yang akan mencari tahu apa yang ada di dua dive spot tersebut jika USAT Liberty tidak karam dan memancing banyak wisatawan untuk menyelam di Tulamben?

Sebelum pulang, mari bersantai dulu, sambil ngilangin mabok laut...

Sebelum pulang, mari bersantai dulu, sambil ngilangin mabok laut…

Perjalanan pulang ke Kuta...nyasar ke Amlapura.

Perjalanan pulang ke Kuta…nyasar ke Amlapura.

Jangan lupa, hunting foto pemandangan lagi yaa....

Salah satu shelter di sepanjang perjalanan menuju Denpasar punya pemandangan ini… Dua bukit yang membingkai lautan dan awan di ujung sana…

Nggak pake mogok nggak seru dong... Si Mio Biru pun akhirnya minta istirahat, tambal ban.

Nggak pake mogok nggak seru dong… Si Mio Biru pun akhirnya minta istirahat, tambal ban.

Traveling Rule No.1. Nggak boleh capek... Pulang dari Tulamben saya and the geng langsung nongkrong di warung kopi, main Paranto sampai pagi. Dan besoknya, saya ke Nusa Penida, dan tebak mereka ngapain...? DIVING

Traveling Rule No.1. Nggak boleh capek… Pulang dari Tulamben saya and the geng langsung nongkrong di warung kopi, main Paranto sampai pagi. Keesokan harinya saya melanjutkan perjalanan ke Nusa Penida. Lalu tebak mereka ngapain…? ……..DIVING!

Checkpoint 3: Nusa Penida… (to be continued)

Advertisements

About rpatriana

"a frog who try to sneak out of the coconut shell" - 2dayanotherday.wordpress.com
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to USAT Liberty: The voyage of broken ship

  1. @EkoOct says:

    Lets diving in Bali and explore another dive site : )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s