Open Water Scuba Diving Certification: Latihan Perairan Terbuka

Me and My Buddy - Dewo

Alohaa… Setelah sekian lama meninggalkan topik ini, kini saya kembali lagi dengan “Tahapan dalam Sertifikasi Selam”. Kali ini saya akan bercerita mengenai LPT (Latihan Perairan Terbuka), momen paling seru, dan merupakan tahapan terakhir dari semua latihan yang telah dilakukan di perairan tertutup atau kolam. Jadi, setelah kita melalui LPT maka dengan resmi kita telah naik kelas: dari ‘penyelam kolam’ jadi ‘penyelam perairan terbuka’, alias Open Water Scuba Diver.
Saya dan teman-teman seangkatan sertifikasi yang berjumlah 20 orang, menjalani LPT pada 27-30 Desember 2012 yang lalu di Kepulauan Seribu. Hanya dengan membayar 2,5 juta saja, dive course kami sudah memberikan fasilitas PAP, LKK dan paket menginap 4 hari 3 malam di Pulau Pramuka, lengkap dengan 5 kali penyelaman di Pulau Pramuka+Pulau Panggang+Pulau Sekati+Pulau Air, transport Bogor-Pulau Seribu-Bogor, transport muter-muter Pulau Seribu, 3 kali makan/hari, villa ber-AC, barbeque, mentor-mentor lucu, dan semua kebahagiaan yang bisa kalian bayangkan dalam sebuah perjalanan sertifikasi penyelaman 🙂

Chibi-Buddies

Chibi-Buddies: muter-muter Pulau Air

Kami tiba hari Kamis siang (27/12). Setelah beres-beres, makan siang dan briefing, seperti biasa, sebelum latihan kami melakukan pemanasan. Stretching dan dilanjutkan dengan berenang sejauh 200 meter dan apnea 15 meter. Dimana lagi kalo bukan ..…. Yak, benar sekali! Di LAUT!
Akhir Desember, pukul 2 siang di Pulau Pramuka. Ketika matahari sedang terik-teriknya, ombak mulai tidak bersahabat, dan ubur-ubur merah jambu yang lucu mulai menepi, kami berenang dan apnea di kedalaman 3-5 meter. Berjibaku menghindari tentakel biadab si merah jambu yang tetap saja berhasil menyengat bagian-bagian vital di wajah dan tubuh kita yang terbuka. Siapa yang terkena di bibir dialah yang paling beruntung, mendapatkan bibir Angelina Jolie sepanjang hari.
Sebagai “anak gunung”, ini adalah kali pertama saya berenang di laut tanpa menggunakan masker, snorkel ataupun kaki katak. Karena percaya bahwa takdir tubuh kita memiliki masa jenis yang lebih ringan daripada air laut, maka saya tidak pikir panjang dan segera loncat indah dengan giant stride style dari pinggir dermaga. Aman? Jelaaas. Jelas panik karena ombak mengayun-ngayun dengan dahsyat. ‘Trappen aja susah bener, apalagi berenang 200 meter’ pikir saya waktu itu.
Akhirnya kami berenang dari dermaga satu ke dermaga dua, nggak nyampe 200 meter sih, tapi kembali ke dermaga satu harus dengan apnea. Dan tidak ada yang berhasil! Yang paling sukses, apnea cuma sejauh 10 meter. Sebenarnya maksud dari itu semua utamanya agar mata kita terbiasa dengan “pedasnya” air laut dan yang paling penting, tidak panik ketika berada di laut tanpa alat bantu apapun. Selain pembiasaan diri, kami juga latihan skin diving di kedalaman 5 meter. Mulai dari fins swimming, tuck dive, tuck dive sambil ngambil pasir, tuck dive sambil mask clearing di dasar, dan keselek waktu menuju ke permukaan…

 

 

Scuba Diving di Pulau Seribu

Part-time job: kuli angkut...

Part-time job: kuli angkut alat selam…

Penyelaman pertama, sore hari di hari pertama. Di depan dermaga, kedalaman 5-8 meter. Latihan buoyancy: netral duduk, netral kolom (hovering), netral 45 (pivoting) dan netral 90 derajat kepala di bawah. And guess what? We did it on a slope of 45 degrees. Apakah kamu berhasil Ria? Tentu saja! Kram waktu netral duduk dan berantakan waktu netral 45, tapi saya selalu suka dengan netral 90 derajat. Netral 90 derajat membuat saya merasa seperti superman yang sedang terbang menuju ke bumi. Saking sukanya, di penyelaman kedua ketika stok oksigen dalam tabung sudah menipis, pada praktek 90 derajat saya tidak bisa balik ke posisi horizontal, melainkan melambung dengan sukses hingga ke permukaan dari kedalaman 7 meter. Seketika tragedi ini menjadi hot issue yang dibahas dengan seru di forum evaluasi malam harinya. Oh ya, setiap sehabis makan malam, kami – seluruh mentor dan peserta – berkumpul bersama untuk sharing pengalaman, masalah ataupun kesulitan yang berhubungan dengan teknik-teknik penyelaman. Superman style-ku yang gagal juga tentunya dibahas di forum ini.
Setelah dua kali menyelam di Pulau Pramuka, penyelaman ketiga kami lakukan di selatan Pulau Panggang. Ikan dan terumbu karang di sana lebih baik kondisinya dibanding dengan Pulau Pramuka. Dan yang paling penting dari semuanya adalah, ubur-uburnya tidak sebanyak di Pulau Pramuka. Teman-teman yang kadung dendam, pun telah siap perang – nyebur dengan seluruh muka dan tangan diolesi odol – dan akhirnya keki, karena kita yang males belepotan pakai odol juga nggak diserang ubur-ubur, hehehe… Pada penyelaman ketiga inilah kami akhirnya bisa menikmati scuba diving yang sesungguhnya. Di sini kami baru menyadari, bahwa kenyamanan dalam scuba diving itu memang sangat bergantung dari kemampuan kita mengontrol buoyancy. Meskipun dikelilingi oleh pemandangan laut yang luar biasa, jika kita masih kerepotan sendiri dengan alat, atau badan yang miring ke kanan dan ke kiri, niscaya sia-sialah scuba diving kita.
Penyelaman keempat di Pulau Sekati. Jangan tanya bagaimana indahnya. Ahh…. Rasanya seperti masuk ke dunia lain. Di hadapan kita muncul slideshow dunia yang baru, dunia yang tak banyak bicara, dunia yang menyapa lewat seribu bahasa, dunia yang penuh warna… Foto-foto narsis dengan teman-teman jangan sampai kelewatan. Karena sudah mulai lancar menyelam, kami bisa bebas jelajah kesana kemari. Sampai lupa arah pulang ke kapal. Untungnya di setiap kelompok penyelaman (terdiri dari 3 orang) ada satu mentor yang sekaligus menjadi leader penyelaman. Namun, apakah mereka akan diam saja melihat dua buddy-nya yang terserang euphoria baru-bisa-nyelem mengalami disorientasi begini? Tentu tidak. Maka, inilah hot issue evaluasi di malam berikutnya: “orientasi bawah air”. Karena di dasar laut nggak ada petunjuk jalan ataupun tukang bajaj yang bisa nganter kita pulang.
Pulau Air menjadi titik penyelaman terakhir kami di Pulau Seribu di penghujung tahun 2012 yang lalu. Jujur saja, sebelum perjalanan ini, saya tidak pernah mencari tau “ada apakah di Pulau Air-nya Pulau Seribu?”, hingga akhirnya menyelam dan ‘mabuk kepayang’ di menit pertama setelah menceburkan diri di perairannya. Saya menyebutnya “taman soft-coral”, karena soft-coral yang begitu banyak di sana. Melihatnya menari-nari mengikuti arus air, ditemani oleh ribuan ikan bermain di sana-sini, memang sebuah kombinasi yang memabukkan di Pulau Air. Dan jangan lewatkan jackpot spesial dari pulau ini… Laguna, atau entahlah apa namanya. Semacam sungai hijau toska, membelah pulau yang indahnya luar biasa. Pemandangannya benar-benar mengobati punggung yang pegal akibat menyelam seharian… 🙂

Muter-muter di Pulau Air

Muter-muter di Pulau Air

Anemon dan Ikan Badut

Anemon dan Ikan Badut (Pulau Seribu, 28-29 Desember 2012)

Soft-coral juga

Soft-coral (Pulau Seribu, 28-29 Desember 2013)

Nudibranch

Nudibranch (Pulau Seribu, 28-29 Desember 2013)

Bintang Laut Mahkota Duri - Acanthaster planci

Bintang Laut Mahkota Duri – Acanthaster planci (Pulau Seribu, 28-29 Desember 2013)

Ria....nyelem kok bawa-bawa bantal! #bintanglautbantal alias Culcita nouvaeguineae

Ria….nyelem kok bawa-bawa bantal! Eh, bintang laut bantal (Culcita nouvaeguineae)

Bintang Laut Biru (Pulau Seribu 28-29 Desember 2013)

Bintang Laut Biru (Pulau Seribu 28-29 Desember 2013)

Wajah Puaass!

Wajah Puaass!

Tuck Dive di Pulau Sekati

Skin Diving di Pulau Sekati

Langit mendung tak jadi penghalang...

Langit mendung tak jadi penghalang…

Klik di sini untuk semua yang pengen kamu tahu tentang sertifikasi 🙂

Advertisements

About rpatriana

"a frog who try to sneak out of the coconut shell" - 2dayanotherday.wordpress.com
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Open Water Scuba Diving Certification: Latihan Perairan Terbuka

  1. Keren banget kak ntip, orang nya and foto-fotonya mantap banget. Suka ama kalimat “Rasanya seperti masuk ke dunia lain. Di hadapan kita muncul slideshow dunia yang baru, dunia yang tak banyak bicara, dunia yang menyapa lewat seribu bahasa, dunia yang penuh warna”, jadi bikin termotivasi. Ikut sertifikasi dari CMAS jadwal pendaftarannya kapan aja ya mbak? bisa liat info nya dimana ya? 😀

    • rpatriana says:

      Biasanya pendaftaran dibuka bulan Oktober Ras… FDC cuma ngadain kursus selam sekali dalam setahun, latihannya mulai dari bulan November, nanti akhir Desember praktek ke Pulau Seribu. Infonya biasanya ditempel di kampus, tar aku kabarin deh kalo dah ada.. hehe

  2. zarra says:

    Kalau ada kelas yang masa liburan sekolah,….mau dong ikutan

  3. Pingback: Flashpacking ke Bali (Agustus 2013) : Bagian 5 | SkyNawa Press

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s