Di Raja Ampat, Menyelam di Halaman Depan Resort pun Penuh Kejutan

Masih terekam jelas di benakku ketika beradu pandang dan renang berdampingan dengan dengan Pari Manta selebar 3 meter di Manta Slope. Atau ketika mengambil gambar Moray Eel berdiameter 10 cm dari jarak satu jengkal di Mioskon. Diving di Raja Ampat memang penuh kejutan. Rasanya benar-benar tak ingin berpisah dengan kepulauan indah ini.

Ini cerita tentang penyelaman terakhirku di Raja Ampat, di perjalanan 8-12 Maret yang lalu. Berkat kedekatanku dengan kru Waiwo Dive Resort (WDR) – Bambang, Jacky dan yang lainnya – di hari terakhir akhirnya aku bisa membawa kabur seperangkat alat diving dan seorang guide WDR untuk dijadikan buddy selam, Ramli namanya.

Pagi itu (11/03) kami – aku dan Ramli – menyelam di halaman depan WDR. Lokasi yang jarang muncul di list spot diving unggulan Raja Ampat. Penyelaman dimulai dari dermaga di depan WDR, menyusuri dasar laut yang berpasir. Kawanan Butterfly Fish dan Moorish Idol mondar-mandir di sekitar kami. Ikan-ikan karang berukuran besar terlihat mengerumuni sekotak beton yang entah bagaimana ceritanya bisa berada di dasar laut ini. Bintang laut beraneka bentuk tampak santai berjemur di bawah bias matahari pagi. Tidak seperti Blue-spotted Stingray yang seringkali mengagetkan kami dengan muncul tiba-tiba, menyibak kamuflasenya dari dasar pasir.

Sekitar 50 meter kami berenang di atas hamparan pasir, sampai akhirnya tiba di gugusan karang di kedalaman sekitar 10 meter. Tidak terhitung berapa kali kami menemui Ikan Badut – mulai dari ikan badut yang warnanya oranye-putih hingga ikan badut yang warnanya hitam-putih – sedang bermain di antara anemon yang tumbuh dengan sehat di perairan ini.

Lalu tiba-tiba mata kami menangkap sesosok makhluk gendut lucu, berwarna putih terang dengan bintik-bintik hitam. Ikan buntal! Ramli mengulurkan tangan, berusaha menyapanya. Namun si gendut ini malah lari dan bersembunyi di balik karang. Ketika aku masih asik mengintipnya dari celah-celah karang yang padat, Ramli menunjuk ke satu titik di sebuah lubang. Terlihat sesosok makhluk mungil bercorak larik-larik biru-putih. Ramli memberi hand signal dengan menggerak-gerakkan jari telunjuk dan tengahnya. Wahh…Nudibranch! Cantik sekali. Baru kali ini aku menemukan yang bercorak larik biru-putih seperti ini. Ia seperti sedang menyembunyikan kepalanya ke dalam lubang, hingga yang terlihat hanya bagian belakang tubuhnya saja. Rasanya ingin sekali menarik pantatnya keluar, tapi tidak tega 😛

Tidak jauh dari situ, Ramli lagi-lagi menggerak-gerakkan jari telunjuk dan tengahnya. Nudibranch lagi! Ia tampak sedang bersantai di atas rubble karang. Kali ini warnanya putih dengan bontol-bontol hitam. Satu jengkal di sebelahnya, di bawah Seafan yang cukup besar, seekor Lionfish mengintai dengan dingin. Makhluk yang satu ini memang selalu tampil cantik, meskipun aura pembunuh menyeruak dari sekujur tubuhnya yang ditumbuhi duri-duri beracun. Ramli mengangkat rubble, tempat dimana Nudibranch berbontol hitam ini berada. Menyerahkannya kepadaku. Kutangkupkan kedua tangan agar ia tidak hanyut ketika kubawa berenang. Setelah berada di lingkungan yang cukup aman, kuletakkan ia kembali di atas rubble, dan berharap agar tidak ada Lionfish yang mengintainya lagi.

Ada banyak Seafan di lokasi diving yang menyerupai sebuah gunung dengan lereng-lereng yang dipenuhi terumbu karang dan berbagai biota bawah laut ini. Hampir di setiap Seafan kami berhenti dan mengamati dengan seksama, barangkali ada Pygmy yang bersembunyi malu-malu di sela-selanya. Namun nampaknya aku lagi-lagi belum berjodoh dengan Si Pygmy Seahorse yang fenomenal ini.

Di satu Seafan Ramli berhenti dan memberikan sinyal 2 jari telunjuk di dahi. ‘Yah…bukan pygmy…’ bantinku. Tapi apakah itu? Ah! Udang! Ketika kuamati lebih dekat, nampaklah seekor udang kecil di sela-sela karang di pangkal Seafan. Udang cantik belang-belang oranye putih dengan sungut yang panjang. Dan ketika diperhatikan secara seksama, ternyata di Seafan ini ada banyak sekali udang-udang yang sangat kecil dengan tubuh nyaris transparan. Mungkin mereka ini bayi-bayi si udang cantik yang baru menetas.

Di Seafan berikutnya kami berhenti lagi, menyisir setiap celah mencari Pygmy. Namun yang kami temukan hanya seekor cacing, yang awalnya kami curigai sebagai ekor Pygmy. Mungkin karena kecewa tidak berhasil bertemu dengan hewan lucu itu, Ramli menjadi kurang teliti memperhatikan sekitar, hingga melewatkan sesosok makhluk cantik yang ku lihat bergerak dari balik karang. Karena curiga dengan coraknya yang unik, aku mengintip lebih dekat. Ternyata Moray Eel! Warna hitam bintik-bintik putih. Segera ku kejar Ramli, ku tarik fin kaki kanannya, dan ku beri hand signal “moray eel”. Ia langsung berbalik arah. Aku menunjuk-nunjuk dengan semangat ke celah karang dimana aku melihatnya. Beberapa menit berlalu. Moray Eel cantik tadi tidak muncul lagi. Wajah kecewa muncul dari balik kedua masker kami.

Fish schooling berukuran besar, ikan warna-warni, bintang laut, nudibranch beraneka rupa, dan banyak lagi hewan-hewan laut lainnya senantiasa menemani perjalanan kami menyusuri lautan di antara pulau Waigeo dan Saonek, Raja Ampat. Kedalaman berkisar antara 5 – 20 meter. Penyelaman berlangsung selama hampir 2 jam, sisa udara di tabung rasanya benar-benar aku manfaatkan semaksimal mungkin di penyelaman terakhir ini.

Walaupun tidak berhasil bertemu dengan Pygmy Seahorse dan Wabegong, Hiu Karpet yang hanya ada di sekitar Raja Ampat dan Papua Nugini, penyelaman di Raja Ampat memberikan kesan yang sangat mendalam bagiku. Kekayaan dan keindahan alam bawah lautnya tidak bisa lagi digambarkan oleh kata-kata, apalagi oleh foto semata. “Datang dan lihat sendiri” adalah ungkapan yang paling pas untuk menggambarkan kekagumanku atas indahnya alam bawah laut negeri ini.

Image

Moray Eel yang ku foto dari jarak satu jengkal di Mioskon

Note: Penyelaman terakhir ini kami lakukan dengan mencuri-curi kesempatan, hingga tidak sempat membawa kamera. Oleh karenanya, tidak ada foto underwater yang kami hasilkan di lokasi ini. Foto di atas diambil di Mioskon pada penyelaman di hari sebelumnya. Foto di bawah diambil dari dermaga di depan Waiwo Dive Resort, starting point penyelaman.

Halaman depan Waiwo Dive Resort

Advertisements

About rpatriana

"a frog who try to sneak out of the coconut shell" - 2dayanotherday.wordpress.com
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s