Open Water Scuba Diving Certification: Tahapan dalam kegiatan sertifikasi selam (PAP dan LKK).

Setelah memahami pentingnya sertifikasi selam, kali ini saya akan memberikan gambaran umum mengenai tahapan yang dilalui dalam kegiatan sertifikasi selam untuk level pemula atau open water (A1). Perlu dicatat bahwa gambaran yang saya berikan ini adalah berdasarkan pengalaman open water diving course yang saya jalani bersama salah satu organisasi selam di Institut Pertanian Bogor di bawah lisensi CMAS. Berbeda organisasi selam mungkin akan berbeda pula tahapannya.

Beberapa prasyarat untuk mengikuti pelatihan selam antara lain:

  • Berusia minimal 15 tahun
  • Memiliki kondisi tubuh yang sehat dan layak medis untuk menyelam yang dinyatakan dengan melengkapi pernyataan riwayat penyakit serta surat keterangan dari dokter.

Untuk itu, pada saat melakukan pendaftaran, biasanya calon peserta akan diminta untuk mengisi lembar kuesioner yang diberikan oleh panitia. Kuesioner ini berisi pertanyaan-pertanyaan mengenai riwayat kesehatan fisik seperti “apakah anda merasakan sakit pada bagian dalam telinga ketika berada di pesawat terbang?” “apakah anda pernah mengalami sakit di bagian dada setelah berolahraga?” dan sebagainya, serta pertanyaan mengenai kondisi psikologi seperti “apakah anda memiliki phobia terhadap kegelapan?” serta pertanyaan-pertanyaan lainnya. Calon peserta juga diminta untuk melakukan tes kesehatan THT untuk memastikan kondisi THT kita memenuhi syarat untuk mengikuti kegiatan penyelaman dan menghadapi perubahan tekanan, yang dibuktikan dengan surat keterangan dari dokter spesialis THT.

Sebagai calon penyelam kita juga harus memenuhi kualifikasi dasar yaitu:

  • Berenang sejauh 200 meter
  • Berenang sejauh 12 meter di bawah air (apnea)
  • 10 menit mengayuh di permukaan air (water trappen) tanpa bantuan alat.

Namun kemampuan dasar ini juga bisa dipelajari setiap sebelum melakukan LKK (Latihan Keterampilan Kolam). Beberapa dive course bahkan dengan baik hatinya memberikan pelatihan renang khusus bagi peserta yang ingin belajar menyelam tapi belum bisa berenang. Jadi bagi yang selama ini masih menjadikan “tidak bisa berenang” sebagai alasan utama tidak belajar menyelam, jangan khawatir! Akan ada mentor-mentor baik hati yang akan mengajari kita berenang 🙂

Setelah memenuhi persayaratan awal tersebut, barulah seluruh peserta mengikuti pelatihan selam yang sesungguhnya. Rangkaian pelatihan di jenjang open water ini terbagi ke dalam 3 program:

  1. PAP atau Pengetahuan Akademis Penyelaman
  2. LKK atau Latihan Keterampilan Kolam
  3. LPT atau Latihan Perairan Terbuka

Program PAP dilakukan di kelas untuk memberikan pemahaman mengenai prinsip-prinsip dasar pengetahuan yang berkaitan dengan penyelaman secara umum yang dibutuhkan sesuai jenjang pemula. Kemudian LKK dilakukan di kolam atau perairan terbatas, di sini peserta akan diajarkan untuk adaptasi awal dengan alat-alat selam yang akan digunakan serta dasar-dasar keterampilan yang dibutuhkan untuk melakukan penyelaman secara aman. Dan terakhir adalah program LPT yang dilakukan di perairan terbuka (laut), dimana peserta akan dibimbing untuk menerapkan keterampilan yang telah didapatkan di LKK serta mempraktekkannya dalam latihan penyelaman pada kondisi nyata. Apa yang dipelajari di PAP secara simultan akan saling berkaitan dengan program LKK dan LPT. Di akhir pelajaran PAP, peserta wajib mengikuti evaluasi tertulis PAP dan keterampilan pokok yang akan diuji oleh instruktur dengan nilai minimal lulus (passing score) 75%.

Pengetahuan Akademis Penyelaman (PAP)

Dive course yang saya ikuti menjadwalkan kegiatan PAP dan LKK setiap akhir pekan dengan didampingi oleh mentor-mentor handal dari klub selam berpengalaman. Oleh karena mentornya rata-rata adalah mahasiswa, maka setiap pelajaran di kelas selalu identik dengan “Quiz”. Walhasil di setiap penghujung PAP setiap peserta langsung diberi 5 sampai 10 soal esai mengenai materi yang diajarkan hari itu. Wah wah wah… Siap-siap saja ya yang sudah lupa rasanya kuliah, harus pasang perhatian ekstra terhadap setiap materi yang diberikan. Karena mentor-mentor ini matanya sangat awas dan sensitif terhadap peserta yang mencontek. Hihihi 😀

Beberapa materi yang diajarkan dalam PAP, yaitu:

Image1. Peralatan Selam

PAP pertama memperkenalkan alat-alat yang digunakan dalam penyelaman, mulai dari alat dasar selam (fins, snorkel, masker) hingga peralatan scuba (BCD / Buoyancy Compensator Device, Tabung, Regulator, dsb) berikut komponen penting, jenis, fungsi serta perawatannya.

2. Aspek Medis Penyelaman

Mulai dari faktor fisik dan psikologis yang dapat mempengaruhi penyelaman hingga permasalahan-permasalahan medis yang dapat terjadi akibat kesalahan dalam kegiatan penyelaman.

3. Fisika Penyelaman

Dalam fisika penyelaman, kita belajar memahami hukum-hukum fisika yang berlaku pada kegiatan penyelaman, menghitung tekanan pada kedalaman, dan pengaruhnya pada aktivitas penyelaman serta rtubuh kita.

4. Biota Berbahaya

Dalam materi ini peserta diperkenalkan dengan berbagai biota laut yang dapat menjadi ancaman bagi penyelam, bagaimana cara mencegahnya, serta pertolongan pertama yang harus diberikan apabila terserang oleh biota tersebut.

5. Tabel Selam

Untuk keamanan penyelaman, setiap penyelam juga harus memahami tabel selam. Tabel selam digunakan untuk melihat kategori penyelaman berdasarkan kedalaman, lama menyelam dan lama istirahat agar terhindar dari penyakit dekompresi. Hal ini penting terutama untuk kegiatan penyelaman berulang.

Latihan Keterampilan Kolam (LKK)

Berbeda dengan PAP yang ujiannya di akhir pertemuan, pada LKK ujian dilakukan di awal pertemuan. Setiap akan memulai LKK, seluruh peserta diharuskan melakukan pemanasan. Tebak pemanasannya seperti apa? Peregangan? Yak betul… dan dilanjutkan dengan berenang sejauh 200 meter! (yang jarang olahraga pasti ngos-ngosan) Setiap mentor akan bersiaga untuk menghitung berapa lama waktu yang kita habiskan untuk berenang 200 meter dan mencatat perkembangannya dari minggu ke minggu. Setelah tuntas renang 200 meter, latihan dilanjutkan dengan apnea atau kami biasa menyebutnya “horizontal”. Apnea yang diwajibkan adalah 12 meter, artinya satu kali hirupan nafas kita harus bertahan untuk berenang di dasar kolam sejauh 12 meter. Apakah semua peserta bisa? Tentu tidak. Ada juga sebagian peserta yang sulit melakukan apnea ini. Terutama orang-orang yang daya apungnya cenderung positif (mudah mengambang) atau yang terlalu sering merokok, karena pasti ngos-ngosan di tengah jalan. Tapi lagi-lagi mentor akan setia mengajari sampai semua peserta mampu melakukan apnea sejauh 12 meter. Fungsinya adalah ketika kita melakukan skin diving, kita akan lebih mudah dan bertahan lama melakukan tuck dive, serta melatih kita untuk mengatur pernafasan dan tidak panik ketika ada sedikit permasalahan di bawah air. Setelah renang, apnea dan water trapen, baru kemudian LKK dilanjutkan dengan latihan scuba. Salah satu kelebihan dive course yang saya ikuti terletak pada pembagian mentor dalam LKK hingga LPT, yaitu satu mentor hanya mengajari 1-2 peserta saja. Jadi tidak berebutan, pengajaran menjadi lebih intens, dan yang paling penting jika kita melakukan hal-hal bodoh ketika latihan, hanya dilihat oleh 2 orang saja, jadi nggak malu-maluin amat, hehehe 😛

Sedangkan materi yang langsung diajarkan dalam LKK adalah:

1. Pemasangan Alat Selam

Peserta diajarkan untuk merakit dan membongkar alat selam secara mandiri sehingga diharapkan dapat menjadi penyelam yang independent, tidak merepotkan orang lain untuk memasangkan peralatan selamnya. Dalam perakitan/pembongkaran alat, peserta juga harus mempraktekkannya dengan cara yang benar agar alat tidak cepat rusak dan membahayakan aktivitas diving berikutnya, misal dengan menjaga agar second stage tidak mengenai tanah/pasir, dan selalu mengeringkan dust cover sebelum menutup O-ring pada first stage (tempat udara masuk dari tabung) untuk melindunginya dari debu dan kotoran.  Pada tahap ini peserta juga akan mulai menerapkan buddy system sebelum penyelaman, dimana orang yang akan menjadi buddy kita akan mengecek alat yang telah kita pasang, mulai dari tekanan tabung, hingga mengecek apakah ada kebocoran pada BCD, katup kuras, tabung, maupun regulator yang dapat membahayakan aktivitas penyelaman. Demikian pula sebaliknya, setelah megecek alat kita sendiri, kita juga harus mengecek alat buddy kita apakah sudah siap untuk digunakan untuk menyelam. Setiap peralatan selam yang akan digunakan untuk penyelaman harus kita pahami betul kondisinya, karena akan dilaporkan ketika PDSC (Pre-Dive Safety Check).

2. PDSC

Pre-Dive Safety Check adalah koordinasi yang dilakukan bersama buddy selam kita sebelum melakukan aktivitas penyelaman. Biasanya yang perlu dikomunikasikan dalam PDSC ini adalah (1) kondisi kesehatan setiap penyelam; (2) kondisi alat selam masing-masing penyelam, mulai dari kelengkapan alat dasar selam, tekanan tabung, jenis regulator, jumlah katup kuras pada BCD, jumlah weight belt yang digunakan, hingga arah bukaan strap-nya; dan (3) rencana penyelaman, seperti berapa kedalamannya, berapa lama waktu kita di dalam air, dsb.

3. Entry atau Cara Masuk ke Air

Mulai dari sitting entry, giant-stride, back-roll, forward-roll dan cara masuk di pantai.

Skin Diving4. Skin Diving

Skin Diving atau yang biasa disebut Snorkeling atau Free Diving / Selam Bebas juga diajarkan di sini. Tapi tentunya berbeda dengan snorkeling yang dilakukan oleh para wisatawan-wisatawan dalam rombongan tour yang snorkelingan pakai pelampung. Skin diving ini biasanya hanya menggunakan fins, snorkel dan masker, tanpa pelampung, agar kita tetap bisa menyelam ke dalam air. Materi yang diajarkan dalam skin diving ini antara lain adalah fins swimming, membuang air dari masker (mask clearing), membuang air dari snorkel, tuck dive dan duck dive. Pada prakteknya, skin diving dilakukan pada kedalaman laut yang relatif dangkal dan waktu penyelaman yang relatif terbatas, tergantung pada kemampuan paru-paru kita.

5. Fins Swimming

Ada beberapa gaya Fins Swimming atau berenang dengan menggunakan kaki katak, diantaranya adalah gaya menjelajah (flutter), gaya gunting (scissor), gaya katak (frog kick) dan gaya lumba-lumba (dolphin). Selain itu peserta juga diajarkan fins swimming dengan badan miring yang berfungsi untuk melewati celah ketika diving, serta fins swimming dengan badan terlentang untuk memudahkan pergerakan di permukaan ketika telah menggunakan alat diving lengkap.

6. Dive Sign atau Hand Signal

Hand signal dipakai untuk berkomunikasi antar penyelam baik masih di permukaan air maupun selama penyelaman.

7. Memakai dan melepaskan alat scuba di permukaan air

Bagi penyelam amatir, diperlukan ketenangan untuk dapat memasang dan melepaskan alat scuba secara mandiri di permukaan air.

8. Mendapatkan kembali mouth-piece regulator

Karena mouth-piece ini adalah ujung tombak penyuplai oksigen dari peralatan selam kita, dalam latihan kita juga diajarkan untuk menemukan kembali mouth-piece / second-stage atau hose/selang-nya.

Mask Clearing

9. Mask Clearing

Mask Clearing bisa jadi hal simpel yang akan paling sering kita lakukan nantinya. Mask clearing berfungsi untuk membersihkan kaca masker kita embun, dengan cara memasukkan air dari atas masker dan mengeluarkannya dengan menghembuskan udara dari hidung. Pada penyelaman, untuk membersihkan masker sesekali kita juga harus melepasnya. Hal ini kadangkala menimbulkan kepanikan, sehingga pada LKK kita juga akan sering melakukan buka-pasang masker, dan mempertahankan buoyancy ketika  melakukannya.

10. Buoyancy

Ada 3 jenis buoyancy atau daya apung yaitu daya apung positif, negatif, dan netral. Daya apung positif yaitu bila sebuah benda cenderung mengambang (terapung), sedangkan daya apung negatif bila benda cenderung tenggelam dan daya apung netral apabila benda tersebut cenderung melayang di dalam air. Buoyancy yang harus dipelajari oleh penyelam adalah buoyancy netral. Buoyancy netral diperoleh dengan mengkombinasikan berat tubuh kita dengan jumlah weight belt yang sesuai, pengaturan udara dalam BCD dan pernafasan. Semakin kita mahir dalam mengatur buoyancy netral kita, maka aktivitas penyelaman menjadi semakin nyaman dan memudahkan pergerakan di bawah air.

Dalam materi buoyancy biasanya kita akan dilatih untuk melakukan Hovering dan Pivoting. Hovering adalah upaya penyelam untuk mempertahankan posisi daya apungnya di dalam air dalam keadaan melayang dan diam, tidak kemana-mana. Sedangkan pivoting adalah upaya penyelam untuk berdiri condong pada kedua ujung fins yang berada di dasar air (pivot = engsel). Kemampuan kita mengendalikan buoyancy netral di dalam air akan terus menerus dipraktekan pada setiap LKK. Mulai dari netral duduk, netral 45 (pivoting), netral kolom (hovering), netral 90, hingga kombinasi antara netral 45 sambil mask clearing dan sebagainya.

11. Buddy System

Salah satu pantangan dalam selam adalah menyelam sendiri. Menyelam haruslah dilaksanakan secara tim. Tanggung jawab sebagai buddy selam adalah mencegah timbulnya masalah dan membantu buddy jika diperlukan. Kita dan buddy harus saling mengontrol, mengingatkan jika ada bahaya atau melampaui batas-batas yang diizinkan.

12. Buddy Breathing

Buddy juga berperan sebagai penolong penyelam lainnya dalam keadaan darurat. Keadaan darurat yang paling mendasar adalah “kehabisan udara”. Kehabisan udara dapat terjadi akibat kecerobohan penyelam sendiri atau karena kerusakan alat. Buddy breathing atau bernafas patungan yang paling aman adalah dengan menggunakan regulator second stage cadangan (octopus). Namun dalam sertifikasi kita juga diajarkan untuk bernafas patungan dengan menggunakan satu second stage yang digunakan untuk bernafas secara bergantian dan biasanya dilanjutkan dengan naik ke permukaan.

Beberapa materi penting lainnya juga diajarkan selama perjalanan pelatihan, atau dapat kita baca secara mandiri di buku pegangan yang diberikan selama masa sertifikasi.

 

Latihan Perairan Terbuka (LPT)

LPT dilakukan ketika semua materi penyelaman sudah disampaikan dalam PAP dan LKK. Untuk dive course di wilayah Jabodetabek, biasanya LPT dilakukan di kepulauan seribu.

Cerita-cerita seru mengenai LPT akan dimuat dalam postingan berikutnya 🙂

Advertisements

About rpatriana

"a frog who try to sneak out of the coconut shell" - 2dayanotherday.wordpress.com
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s