Cerita di negeri Krisdayanti dan Raul Lemos

Image

Panas…Gersang… Lahan di Timor Leste

Akhir-akhir ini setiap gw bilang lagi di Timor Leste, orang-orang di Facebook dan Twitter selalu rame “Ciye…mau cari duda tajir kayak Raul Lemos ya?” atau “ngapain ke Timor Leste? Mau nengokin Krisdayanti ya?” atau sekedar “Salam buat Krisdayanti ya!”. Sebenernya di tulisan ini juga gw mau konfirmasi, bahwa jawaban gw yang berkisar antara ‘nyari duda tajir’ itu bohong adanya!

Orang Timor Leste pertama yang ngobrol lumayan intens sama gw adalah keluarga pemilik Hotel Rochella Café. Adalah Rudolph, anak pemilik hotel yang membantu gw membuka koper (baca: 12 November 2012 di Timor Leste), memperbaiki AC kamar gw dan di hari-hari berikutnya kami selalu bertegur sapa. Ganteng ga? Yaa…tipe-tipe Raul Lemos gitu deh. Tapi bukan dudan. Dan gw bukan Krisdayanti. Cukup.

Mungkin karena memang baru merdeka, jadi ini negara menurut gw kompleks banget. Bahasa nasionalnya Portuguese, padahal orang-orangnya nggak bisa ngomong Portuguese. Di tempat-tempat umum 70% papan informasi, spanduk, dan sebagainya pakai bahasa Portuguese. Hanya 30% yang pakai bahasa Tetun, bahasa lokal Timor Leste. Di sekolah guru mengajar pakai bahasa Portuguese, buku-buku bahasa Portuguese. Oke anak-anak SD sekarang jago-jago ngomong bahasa Portuguese, tapi gimana dengan yang di masa peralihan? Yang udah lulus SMA dan mau lanjut kuliah misalnya. Apa mereka musti belajar bahasa Portuguese yang kata mereka sendiri jauh lebih ribet daripada bahasa Inggris? Akhirnya mereka kuliah di Indonesia. Dari ngobrol-ngobrol sama orang-orang di workshop gw baru tau bahwa sekitar 80% orang Timor Leste yang kuliah itu ya kuliahnya di Indonesia. Kalo anak orang kaya macam Rudolph ini okelah bisa kuliah di Indonesia. Tapi gimana dengan yang nggak mampu?

Jadi wajar aja semua orang bilang, di Timor Leste itu kesenjangan sosialnya tinggi sekali. Yang kaya kaya sekali, yang miskin miskin sekali. Yang baik baik sekali, yang brutal brutal sekali. Yang kaya bisa sekolah tinggi-tinggi. Yang miskin jualan baju bekas. Atau jadi preman. Atau ngemis.

Ah, macam di Indonesia enggak aja..

Kemarin ada anak laki-laki. Kecil, kurus, item, kotor sekali. Ngikutin gw waktu pulang dari supermarket. Sepanjang perjalanan sejauh + 500 meter nggak henti-hentinya dia memelas “kak minta uang kak minta uang kak minta uang kak minta uang kak……………..”

Mereka hidup di negara yang gersang. Tanah gersang, pekerjaan susah, segalanya mahal. Belanja apapun pakai USD. Dan harganya 100-150% lebih mahal dibanding harga barang-barang di Indonesia. Oke, maksud gw Indonesia bagian Barat. Karena Indonesia bagian Timur mungkin kondisinya pun nggak lebih baik dari ini.

Setidaknya dengan memerdekakan diri, Timor Leste bisa perlahan-lahan membangun kehidupannya tanpa digerogoti oleh tikus-tikus brengsek di Jakarta. Walaupun sangat sulit dan berat membangun kembali konstruksi sosial-ekonomi yang sudah rusak sejak zaman pemerintahan Indonesia dulu.

Image

Anak-anak Timor Leste yang Menguasai 3 Bahasa: Tetun, Portuguese, Indonesia… Sebagian juga bisa bahasa Inggris

Tapi melihat kota Dili mulai di bangun, masyarakat bermain dengan keluarganya, melepaskan kejenuhan akan masalah ekonominya di taman-taman kota, gw jadi mikir… Apa perlu daerah-daerah tertinggal di Indonesia lainnya memerdekakan diri dulu untuk bisa membangun wilayahnya?

Dan gw juga jadi mikir, ‘ah, egois sekali kita yang selama ini menahan-nahan Papua untuk merdeka. Sumberdaya mereka habis entah oleh siapa. Masyarakatnya miskin dan terbelakang. Atau jangan-jangan sengaja dibuat terus terbelakang agar mereka tidak memiliki kapasitas untuk membangun negara sendiri?’

Papua…

Lautnya indah, daratannya indah, luar biasa kaya sumberdaya alamnya. Tapi merana sekali nasib masyarakatnya…

Ah, jahat sekali kita – Indonesia – ini.

Advertisements

About rpatriana

"a frog who try to sneak out of the coconut shell" - 2dayanotherday.wordpress.com
This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

4 Responses to Cerita di negeri Krisdayanti dan Raul Lemos

  1. Ryo Satrio says:

    Kaltim ga disebut??? pokoknya jakarta is the best no.. hidup Jakarta Modern VOC

  2. Iya… Kaltim dan pastinya masih banyak provinsi lain di Indonesia ini yang “dijajah” sama negaranya sendiri.. Menyedihkaannn

  3. Ryo Satrio says:

    iye.. numpuk semua duitnye ama org2 kyk gayus..
    gayus tu baru 0,00005 persennya aja :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s