Mudik 2012: Semarang-Magelang-Solo-Jogja (Part 2)

20 Agustus 2012

Jika Ramadhan yang sepaket dengan 1 Syawalnya adalah masa dimana manusia berjibaku meluruhkan dosanya – mulai dari penggojlokan naluri hingga pendistribusian rentetan kalimat maaf secara random maupun sistemik pada nama-nama yang tercantum pada kontak telepon – maka 2 Syawal dan seterusnya adalah masa-masa untuk menikmati kehidupan baru yang lebih jernih dan belum terkotori, yang entah kenapa definisi ini membuat naluri gw berteriak “Sailing again!! It’s time to go wild with the wind!”

Dan angin hari ini membawa kami ke Solo, ke rumah-rumah keluarga besar kakek buyut kami, Mbah Prawiro Taruno. Dengan sebuah mobil carry tua berisikan dua belas manusia, kami menyusuri jalur pengunungan lintas Boyolali ditemani pemandangan Gunung Merapi, Gunung Merbabu dan kebun-kebun tembakau di kanan-kiri. Perjalanan panjang yang dimulai sejak pukul 6 pagi hingga 10 malam berhasil menyambangi 6 rumah sanak keluarga di seputaran Solo, yaitu kediaman anak-cucu dari adik serta kakak dari bapaknya nyokap. Alias keluarga-keluarga sepupunya nyokap. Alias keponakan-keponakannya mbah kakung gw. Pusing? Gw juga.

21 Agustus 2012

Ada satu ritual wajib yang harus gw lakukan ketika mudik ke Magelang. Mandi di Sendang.

Sendang adalah sebuah kolam untuk menampung mata air yang melimpah. Hingga sebelum hari ini, yang gw tau cuma ada satu sendang di Butuh, yaitu sendang yang berukuran sekitar 15 x 5 meter dengan kedalaman hanya 1,2 meter. Sejak kaki ini tidak mampu menapaki dasarnya, gw sudah sangat tergila-gila pada sendang ini. Airnya luar biasa jernih dan banyak sekali ikan-ikan kecil. Padahal setiap hari zat-zat kimia dari berbagai macam sabun mandi dan sabun cuci tumpah di sini. Orang-orang desa ke sendang bukan untuk berenang melainkan mandi, dengan sabun, shampoo dan sikat gigi, bahkan mencuci pakaian dan mencuci kendaraan. Lalu bagaimana dengan ikan-ikannya? Hingga saat ini mereka masih bisa berenang-renang dengan riang gembira karena air tidak pernah berhenti mengalir dari sumber mata air di gunung merapi.

Di sendang ini kami sungguh-sungguh mandi.. Dengan sabun, shampoo dan sikat gigi…

Hari kedua lebaran ini lah hari yang gw tunggu-tunggu untuk bisa berenang ke sendang. Pukul 8 pagi, gw, adik gw – Krisna, dan 2 adik sepupu laki-laki – Vio dan Wibi, berangkat dengan 2 motor ke sendang. Dan tebak apa yang terjadi? Di sana numplek manusia-manusia yang sedang asik berendam. Mungkin semua perantau asal desa ini yang sedang mudik berendam di sana hari itu (ini agak berlebihan memang). Dengan kecewa, akhirnya gw putar balik motor..

Menatap kakaknya yang kecewa akan kepadatan sendang, Krisna – Sang Adik yang penuh inisiatif ini tiba-tiba berkata “apa mau ke Sendang Maren aja mbak?”. Gw yang lagi nafsu tingkat dewa pengen berenang di sendang tentu saja menjawab dengan excited-nya “hah? emang ada lagi sendang selain di sini?”. Lalu tanpa ba-bi-bu kami pun berangkat menuju Sendang Maren yang ternyata tidak terlalu jauh dari Butuh. Kesan pertama yang gw rasakan begitu sampai di sendang ini adalah ‘wooow…kenapa nggak dari dulu aja berenang di sini?!’. Tempatnya enak banget, teduh dipayungi pohon-pohon yang rimbun. Di pinggirnya ada sungai dengan air yang sangat jernih mengalir tenang. Waktu itu ada sekitar 4 orang di sana, 2 orang sedang mencuci pakaian, 1 orang berendam di pinggiran sendang, dan satu orang hanya duduk-duduk menemani temannya yang sedang berendam. Sempat gw terpikir, ‘gilak, ini tempat kan enak banget, tapi kenapa orang-orang lebih milih renang penuh sesak di Sendang Butuh yang terpapar matahari langsung?’. Asumsi gw waktu itu adalah ‘mungkin karena Sendang Maren ini lebih dalam’… Tapi kan nggak seberapa dalam, mungkin cuma 1,7 meter dalamnya.

Di tengah kecamuk pikiran gw saat itu, gw tetap memutuskan untuk berenang. Sementara Krisna dan Vio pulang ke rumah mengambil ban, gw dengan style atlit renang nasional – pakai kaca mata renang – nyeburr, berenang di Sendang Maren yang airnya luar biasa dingin. Wibi yang nggak bisa renang cuma pasrah nunggu ban datang sambil menonton gw berenang.

Sesungguhnya ada perasaan yang janggal ketika gw menceburkan diri di sana. Rasanya seperti ada sesuatu yang melarang gw untuk menyelami dinginnya air sendang ini. Tapi cepat-cepat gw tepis perasaan itu dan memuaskan nafsu berenang gw. Wong berenang di laut aja berani, mosok di sendang 1,7 meter aja nggak berani. Sesekali gw memandangi bebatuan serta pasir di dasarnya, mengamati gelapnya lumut yang menempel di dinding sedang, dan entah kenapa itu semua membuat gw bergidik dan ingin cepat-cepat sampai di tepian. Dan lagi-lagi gw lawan perasaan itu. Gw tetap berenang, ditontoni oleh ibu-ibu yang sudah selesai mencuci dan beberapa orang yang saat itu gw pikir juga akan berenang. ‘ah mungkin mereka terkagum-kagum dengan gaya gw yang mirip atlit renang nasional ini, haha’ pikir gw dengan sombongnya. Sampai akhirnya Krisna dan Vio datang, tanpa membawa ban.

Krisna: “Mbak, ayo pulang. Ibu nyuruh pulang.”

Gw: “Apaan sih, orang baru juga berenang. Lho, ban-nya mana?”

Krisna: “Nggak boleh sama ibu. Ibu nyuruh pulang mbak.. Cepetan!”

Gw yang makin ngerasa aneh akhirnya nurut. Kami berempat pulang. Setibanya di rumah, ibu, bude, bulek, semuanya ngomel. Vio sebagai original akamsi (anak kampung sini) yang pertama kali dimarahin bulek, “wes dikandani ra entuk renang ning maren kok malah ngajak mbakyune renang neng kono (udah dibilangin ga boleh renang di maren kok malah ngajak mbak nya renang di sana)”. “Wong Mas Krisna sing ngajak (orang Mas Krisna yang ngajak)”, bantah Vio. Dan omelan berlangsung cukup panjang. Seribu satu alasan keluar dari mulut ibu-ibu ini tentang kenapa kami nggak boleh renang di Sendang Maren. Semuanya gw bantah, sampai akhirnya mereka menceritakan kisah mistis yang menjadi alasan mengapa kami nggak boleh renang di sendang itu.

Konon, mitos yang beredar di masyarakat, Sendang Maren ini adalah mata air yang berhubungan langsung dengan Laut Selatan. Pada waktu-waktu tertentu akan muncul pusaran air yang menyedot makhluk apapun yang berada di sekitar sendang dan membawanya ke Laut.

Otomatis gw bantah dong.. “ya nggak mungkin lah bu.. orang bentuknya kolam kok, pinggirnya dibeton. Airnya juga ngalir dari pipa..”

Dan nyokap dengan sisa-sisa tenaga untuk berdebatnya akhirnya bercerita bahwa dahulu kala, pernah seorang petani yang sedang memandikan kerbau-kerbaunya di sendang ini. Tiba-tiba mereka raib tanpa jejak. Seluruhnya, si petani serta semua kerbau-kerbaunya hilang entah kemana. Penduduk desa hanya tau bahwa si bapak petani dan kerbaunya ini hilang di Sendang Maren. Sampai akhirnya mitos tersebut membuktikan kesaktiannya. Mereka di temukan di Laut Selatan! Cerita tersebut seketika menjadi cerita mistis yang dikaitkan dengan kekuasaan Ratu yang konon berkuasa atas laut tersebut.

Boleh percaya, boleh enggak. Bagi gw, ini memang mungkin saja terjadi. Dari pelajaran spelelologi yang pernah gw terima di bangku MPCA, awal terbentuknya goa adalah aliran air yang membolongi bebatuan karst untuk mencari jalan keluar. Jadi mungkin saja di bawah sendang ini ada goa yang alirannya menuju ke Laut Selatan. Kalau kalian pernah nonton film “Sanctum”, atau baca novel “Larung”-nya Ayu Utami pasti mengerti.

Mungkin saja di suatu tempat di bawah pasir yang menutupi dasar sendang terdapat celah menuju goa. Mungkin saja terjadi hal-hal yang menyebabkan tersedotnya petani ini, misal: laut surut dengan sangat drastis, tekanan di dalam goa tersebut turun, hingga menyebabkan tersedotnya air dan segala sesuatu yang sedang berada di sendang.

Terlepas ada hubungan mistis atau tidaknya kejadian petani dan kerbau di Sendang Maren…rasanya gw udah nggak berniat lagi berenang di sana 🙂

Advertisements

About rpatriana

"a frog who try to sneak out of the coconut shell" - 2dayanotherday.wordpress.com
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

5 Responses to Mudik 2012: Semarang-Magelang-Solo-Jogja (Part 2)

  1. Ryo Satrio says:

    Cuma meluruskan aja.. (dari sumber yg lebih dipercaya)
    alm. Mbah Uti yg cerita, kerbau n petani nya raib, tp bajaknya muncul kolam deket pabrik kertas..
    Nekat lo nok.. ckckckck

    • Oya? Aku lupa cerita yg dr mbah uti, mungkin dulu masih kecil kali ya.. Kemaren sih ibu sm bulek bilangnya gitu.
      Bukan nekat, tapi emang nggak tau mas… Abis tempatnya emang enak banget buat berenang, teduh adem seger banget. Tapi emang aura horror nya kerasa banget pas nyebur…

  2. Ryo Satrio says:

    Kapan ya gw bisa ksana?? hiks 😦

  3. Ryo Satrio says:

    Amin.. mdh2an aja bisa :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s