Mudik 2012: Semarang-Magelang-Solo-Jogja (Part 1)

Mangan ra-mangan asal ngumpul”, sebuah idiom yang mengakar di benak orang-orang etnis Jawa. Tak terkecuali mereka yang sudah puluhan tahun merantau di tanah Sunda, Jawa Barat dan Jakarta. Ternyata ingar-bingar kehidupan urban tidak bisa melunturkan hasrat ini, berkumpul bersama keluarga, setidaknya untuk hari raya saja. Dan berdirilah keluarga gw di sana, di antara ribuan orang-orang ingin bertemu sanak keluarganya, berjalan ke arah tanah kelahiran mereka di timur tanah Sunda. Mudik.

15 Agustus 2012

Kereta gw berangkat jam 10 malam dari Stasiun Purwakarta. Jam 2 siang gw meluncur dari Bogor, kabur dari kantor. Dengan satu ransel dan satu tas jinjing, susah payah gw bawa barang-barang pesanan nyokap. Mulai dari THR berupa sepatu buat sepupu-sepupu, sampai dodol duren yang gw pesan jauh-jauh dari Palembang. Petang gw tiba di Purwakarta. Dengan segera dua buah tas tadi berubah jadi satu travel bag setinggi paha.

No flight without delay”, kata orang-orang di bandara. Dan ternyata kereta juga hobi delay. Kereta Harina jurusan Bandung-Semarang, tiba di Purwakarta jam sepuluh empat lima, ¾ jam lebih lambat dari agenda. Untungnya pelayanan PT.KAI sekarang jauh lebih baik dari sebelumnya. Duduk di kereta, kami menghabiskan waktu semalaman yang nyaman di perjalanan. Gw cukup dikejutkan ketika lewat tengah malam, saat gw sedang tertidur lelap (ya, gw memang sangat mudah tidur dimana saja) terdengar suara orang bersahut-sahutan “nasi-ayam-telor”, “aqua-mizon-aqua”, “kopi-teh-susu-panas-kopi”. Tapi tidak seperti biasanya dimana sumber suara-suara ini selalu bergerak dari ujung depan gerbong ke belakang dan sebaliknya. Ketika gw buka mata, terkesiap gw lihat mereka, pedagang asongan yang biasanya berlalu-lalang kini hanya berdiri di mulut gerbong sambil bersahut-sahutan meneriakkan isi dagangan mereka. Tanpa tendensi apapun, seketika gw merasa “astaga, teganya PT.KAI membuat orang-orang ini menjadi tampak seperti burung gereja yang hinggap lalu berkicau di jendela, demi sesuap nasi”. Mungkin selama ini banyak keluhan dari penumpang yang tidak nyaman dengan lalu-lalangnya para pedagang ini, dan gw akui, sungguh, para pedagang ini memang luar biasa berisiknya. Tapi terbangun tengah malam di perjalanan, bukanlah suatu hal berdampak signifikan terhadap perekonomian keluarga. Tidak seperti pedangang asongan yang semakin tidak laku dagangannya karena para penumpang yang ngantuk setengah mati lebih memilih haus/lapar dan tidur lagi ketimbang berjalan ke ujung gerbong dan membeli makanan atau minuman. Setidaknya itu yang gw rasakan. Hal kedua yang gw baru tau dari perjalanan ini adalah, beberapa orang polisi, bersenjata, ternyata mengawal kereta ini mulai dari Bandung sampai Semarang. Dan seketika gw curiga, mungkin ini juga salah satu faktor mengapa para pedagang ini patuh sekali, benar-benar tidak melangkahkan kaki sedikitpun ke dalam gerbong kami.

16 Agustus 2012

Jam 6 pagi kereta tiba di Stasiun Tawang Semarang. Setelah menjemput keponakan gw, Indah, dan bertemu dengan Bude Yanti, kami melanjutkan perjalanan dengan Bus Nusantara ke Magelang. Bus full AC yang menyediakan TV dan koran pagi, yang harga tiket Semarang-Yogyakarta-nya sebesar lima puluh lima ribu rupiah. Terlalu mewah untuk sekedar perjalanan selama 2 jam.

Kami turun di Blabak, sekitar 2 kilometer sebelum Terminal Muntilan Magelang. Kampung kami di Desa Butuh, Kecamatan Sawangan, perjalanan naik angkot selama 15 menit dari Stasiun Blabak, sejauh 2,5 kilometer ke arah Gunung Merapi. Rumah nenek di Butuh Kulon, 50 meter dari Kali Mangu, kali yang dipercaya oleh warga sebagai pemisah kawasan Gunung Merapi dengan Gunung Merbabu. Maka mengacu pada kepercayaan ini, rumah nenek gw adalah berada di kawasan Gunung Merbabu. Lalu biasanya muncul pertanyaan, “sodara-sodara lo kena lahar merapi juga ga kemaren?”, dan jawaban gw “nggak, tapi ngungsi juga” karena kampung kami masuk ke radius 15 kilometer dari puncak Gunung Merapi.

Suhu udara yang dingin menyebabkan aktivitas pertama yang gw lakukan setibanya di Butuh adalah selimutan. Ada banyak pilihan selimut di rumah nenek – yang sekarang ditempati oleh Bulek Timah, adik bungsu nyokap, dan keluarganya. Mulai dari selimut yang tebal dan beratnya mirip karpet, selimut berbulu, sampai yang terbanyak adalah yang kata om gw ‘selimut korban merapi’, yaitu selimut bergaris yang biasa dipakai di rumah sakit. Sepertinya selimut ini memang selimut bantuan yang Om Catur (suami Bulek Timah) ambil waktu mereka di pengungsian merapi. Di kemudian hari kecurigaan gw semakin kuat ketika mengetahui bahwa Bulek Timah ternyata sama sekali tidak mau pakai selimut ini.

17 Agustus 2012

Hari Kemerdekaan RI Ke-67, dan kari kedua gw di Butuh tahun ini. Mandi masih merupakan ritual yang panjang. Bukan apa-apa, keputusan untuk menyiramkan air ke atas kepala membutuhkan persiapan yang tidak sembarangan. Gw perlu berkali-kali cuci tangan terlebih dahulu, menyiram-nyiram kaki, kemudian lutut, menyiprat-nyipratkan air ke wajah, sebagai bentuk pemanasan untuk akhirnya menyiramkan air ke seluruh tubuh. Dingin adalah kata yang tepat untuk menggambarkan hari pertama dan kedua gw di sini.

Sama seperti kemarin, hari-hari gw masih didominasi oleh selimutan dan membaca buku. Entah mengapa, naluri menjelajah dalam diri gw mengkerdil sedemikian rupa. Mungkin bentuk pembalasan atas hari-hari yang sibuk selama di Bogor. Sungguh, tidak ada yang gw pikirkan dua hari ini selain Enrico. Gw membaca Cerita Cinta Enrico, mengirim twit ke Ayu Utami, karena ini buku kelima-nya yang gw baca setelah Saman-Larung, Bilangan Fu-Manjali dan Cakrabirawa, dan gw suka semuanya. Ayu Utami membalas twit gw dengan “terimakasih… @RPatriana”.

Keesokan harinya gw membeli “Soegija”.

Ah ya, dan mengirim twit dari sini sulit sekali. Sinyal berkisar pada SOS, GSM, GPRS, kadang-kadang EDGE.

18 Agustus 2012

Gw mengutuki diri sendiri ketika menyadari bahwa Ria, si anak yang terobsesi pada jalan-jalan, berhari-hari ini yang dikerjakannya hanya membaca buku, tidur dan selimutan. Di hari ketiga ia akhirnya pergi jalan-jalan. Kemana? Carrefour.

19 Agustus 2012

Setelah pesta petasan dan kembang api semalaman, akhirnya lebaran tiba. Lebaran selalu menjadi momen yang ditunggu-tunggu, tak peduli seberapa tebal keimanan kala itu. Pagi ini gw mengenakan blus cina warna cokelat, baru.

Setelah sholat ied, sungkeman sampai termehek-mehek dan makan ketupat dengan gahar, kami memulai ritual (untuk tidak menyebutnya “roadshow”) ziarah ke makam-makam keluarga. Dimulai dari yang terdekat, makam kakek-nenek dari nyokap. Gw selalu menyukai wilayah pemakaman kakek-nenek gw ini. Berada di tengah hutan bambu yang mengalir di dalamnya sungai-sungai kecil. Gw bahkan berharap kalau gw meninggal nanti jasad gw akan dimakamkan di lokasi ini. Tentunya kalau gw mati normal, bukan kecelakaan pesawat di tengah lautan dan hilang di jurang-jurang terjal pegunungan. Untuk memasuki wilayah pemakaman ini kita perlu menyusuri hutan dan menyebrangi sungai kecil berair jernih dengan jembatan yang terbuat dari bambu seadanya. Di lokasi pemakaman para peziarah tidak diperkenankan menggunakan alas kaki. Jangan bayangkan komplek San Diego Hills yang berumput tebal, pemakaman ini berlantaikan tanah padat tak berumput yang ajaibnya membuat kaki peziarah yang masuk tidak begitu kotor, bahkan biasanya mereka ziarah sambil duduk di tanah tersebut. Suasana yang hening dengan gemuruh angin yang menggoyangkan daun-daun bambu membuat suasana semakin syahdu ketika bokap melantunkan doa untuk para leluhur kami di hari lebaran itu. Di kejauhan terdengar suara gamelan mengalun lembut.

Segera kami berkemas menuju Semarang. Lokasi ziarah selanjutnya adalah makam orang tua om catur di Mungkid Magelang, makam kakek dan nenek dari bokap di komplek pemakaman Bergota Semarang dan makam Pakde Peh – almarhum suami Bude Yanti – di Lempong Semarang.

Pikiran gw menerawang setiap kali kami berziarah ke makam kakek dan nenek dari bokap. Bergota adalah sebuah bukit di dekat pusat kota Semarang, yang memang dialokasikan untuk wilayah pemakaman umum. Mungkin lebih dari setengah manusia se-kota Semarang dimakamkan di lokasi ini. Jauh berbeda dengan makam yang gw kunjungi sebelumnya, lokasi ini begitu penuh sesak, jarak antar makam hanya sejengkal. Gw membayangkan mereka (yang dimakamkan di sini) bisa membuat jendela kecil di dinding makamnya, lalu arisan. Di bawahnya adalah pemukiman padat penduduk dan pasar, di pinggir jalan kecil yang harga parkir untuk peziarahnya mencapai delapan ribu rupiah. Bokap memimpin doa untuk yang kedua kalinya. Ini adalah makam leluhur, kakek-nenek pemilik cikal bakal DNA tubuh gw, yang tidak pernah gw temui wujud fisiknya. Lamunan mengenai keras dan tampannya kakek, lembutnya nenek, nenek yang selama bokap hidup tidak pernah sekalipun bokap melihatnya marah, hingga sulitnya kehidupan mereka, keluarga polisi yang hanya memiliki sepeda sebagai satu-satunya barang berharga, membuat lantunan doa ini menari-nari di kepala dan mengharu biru seisi raga. Gw lihat mata bokap yang penuh keharuan, sesekali ia cium batu nisan ayah dan ibunya. Ia berdoa begitu lama.

Advertisements

About rpatriana

"a frog who try to sneak out of the coconut shell" - 2dayanotherday.wordpress.com
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s